Televisi Si Kawan Karib
Televisi Si Kawan Karib Oleh : Siti Rodliyah Televisi lawas itu benda mati. Tapi dia bersuara. Dia juga bercahaya. Tampak manusia dengan segala kehidupannya tayang di sana. Bahkan adakalanya sisi kehidupan para binatang dikupas tuntas. Itulah kemampuan televisi, sampai-sampai mampu mengusir rasa sepi kakek yang sudah diidapnya bertahun-tahun setelah kepergian istri dan anak-anaknya. Televisi lawas itu bentuknya kotak. Ukurannya tak tahu persis. Warnanya hitam. Tak ada remot, tombol-tombolnya ada di bawah layar. Kadang dia rewel, tak mau menampilkan gambar. Kadang dia pintar, terang sekali memunculkan iklan. Membuat kakek yang sendirian terpingkal-pingkal. Televisi lawas itu berjam-jam menyala. Dari kakek usai sholat subuh, menyeruput kopi, menyapu teras, membuat sarapan, sarapan, terdiam, dan tidur siang. Seakan sudah nasib televisi lawas itu diperhatikan, diabaikan, ditinggal pergi, lalu dihampiri lagi oleh sang tuannya. Tapi dia tak sering protes, hanya sesekali saja di...