Televisi Si Kawan Karib

 

Televisi Si Kawan Karib

Oleh : Siti Rodliyah



Televisi lawas itu benda mati. Tapi dia bersuara. Dia juga bercahaya. Tampak manusia dengan segala kehidupannya tayang di sana. Bahkan adakalanya sisi kehidupan para binatang dikupas tuntas. Itulah kemampuan televisi, sampai-sampai mampu mengusir rasa sepi kakek yang sudah diidapnya bertahun-tahun setelah kepergian istri dan anak-anaknya.

Televisi lawas itu bentuknya kotak. Ukurannya tak tahu persis. Warnanya hitam. Tak ada remot, tombol-tombolnya ada di bawah layar. Kadang dia rewel, tak mau menampilkan gambar. Kadang dia pintar, terang sekali memunculkan iklan. Membuat kakek yang sendirian terpingkal-pingkal.

Televisi lawas itu berjam-jam menyala. Dari kakek usai sholat subuh, menyeruput kopi, menyapu teras, membuat sarapan, sarapan, terdiam, dan tidur siang. Seakan sudah nasib televisi lawas itu diperhatikan, diabaikan, ditinggal pergi, lalu dihampiri lagi oleh sang tuannya. Tapi dia tak sering protes, hanya sesekali saja dia mengeluh dengan cara merubah tayangannya menjadi seperti semut hitam putih.  Kalau sudah seperti itu, tidur siang kakek semakin terdengar keras dengkurannya.

Sore hari, kakek harus mematikan televisi lawas itu. Dia nurut saja. Kakek lalu sibuk dengan dirinya sendiri. Tak ada pekerjaan yang harus ia selesaikan. Tapi kakek terus mencari kesibukan. Salah satu kesibukannya adalah duduk di depan teras rumah sambil merenung dan mengamati jalanan. Matanya disibukkan dengan menatap jalanan yang kosong, berharap sang cucu menampakkan diri dan menghampiri. Kalau sudah terbayang-bayang sosok cucunya, kakek tak akan melewatkan senyuman terindahnya. Namun sayang, sore itu dia terpaksa tak tersenyum indah.

Televisi lawas itu diam membisu. Tapi dia senang bisa beristirahat. Namun dia juga rindu kakek untuk mengajaknya bercengkerama. Dia menantikan waktu habis maghrib.

Kakek sangat rapi dan tampak cerah sepulang dari musholla. Sambil membawa piring untuk makan malam, kakek menyapa kembali si televisi dengan menekan tombol powernya. Televisi langsung girang menayangkan iklan kesukaan kakek. Dan kakek antusias menyaksikannya sembari duduk di kursi kayu favorit sambil menyantap makan malamnya.

Kakek terdiam, tertawa, dan sesekali bicara dengan televisi lawas itu. Bahkan tak jarang kakek menangis mencurahkan isi hatinya di depan televisi itu. Hampir setiap malam seperti itu. Kakek selalu bilang ke televisi kalau rasa sepi itu menyakitkan.  Tapi bersama ia, rasa sakit itu kadang teralihkan. Tak dirasakan lagi oleh kakek. Di saat itu, televisi lawas itu seakan tersenyum dengan mengerlap ngerlipkan cahayanya di depan kakek. Televisi merasa dia berhasil menghibur kakek. Memang itu misinya. Bukan menjadi temannya. Meski kakek menganggap ia kawan karibnya.

Malam semakin larut, dan kakek akan menguap setiap sepuluh menit. Alarm itu membuat televisi peka. Dan sudah saatnya ia me nina bobo kan si kakek dengan alunan musik-musik dari mulai aliran musik dangdut, pop, sampai terakhir sholawat. Di saat seperti itu, kakek mulai perlahan merebahkan badan dan meletakkan kepalanya di atas bantal yang sudah biasa disediakan di atas kursi kayu lawas, tempat duduk favoritnya. Televisi akan bosan ketika kakek sudah mulai membunyikan suara dengkurannya. Dan televisi mulai jenuh karena tak akan ada yang mematikannya, kecuali sang cucu datang.

Sampai tengah malam, televisi tak bisa berkutik dan akhirnya dia memutuskan untuk merubah tayangannya menjadi seperti semut hitam putih. Hingga akhirnya ada seorang pemuda menghampiri dan menekan tombol powernya, kemudian pemuda itu menghampiri tubuh si kakek dengan membawa selimut, kemudian tak lama pemuda itu menyelimuti si kakek. Kakek sangat lelap namun ia merasakan bayangan sang cucu datang, dan kakek memberikan dengkuran indahnya.

Sekian

Tuban, 7 Juli 2023. 19:00 WIB

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menemukan Teman dan Klub Baca Buku

Agustusan Tidak Sekedar Lomba

Cita-Cita Tak Pernah Mempersoalkan Usia