Agustusan Tidak Sekedar Lomba
Agustusan Tidak
Sekedar Lomba
Memaknai Kemerdekaan
Lebih Dalam Lagi
Merayakan
kemerdekaan sedang ramai-ramainya dilakukan oleh banyak masyarakat Indonesia.
Di daerah saya, ada banyak event yang
diadakan seperti lomba-lomba tradisional antara lain panjat pinang, tarik
tambang, balap karung, memasukkan paku ke dalam botol, gerak jalan, karnaval,
dan lain-lain. Bahkan, beberapa hari yang lalu saya mendampingi murid-murid
mengikuti kegiatan perkemahan selama tiga hari dua malam, ada banyak kegiatan yang
dikemas dalam konsep lomba. Lomba pionering atau tali temali, lomba menari,
lomba memecahkan sandi, lomba yel-yel, dan lain-lain.
Merayakan kemerdekaan atau istilah lainnya Agustusan dengan konsep perlombaan sudah menjadi tradisi tahunan banyak masyarakat Indonesia kita. Saya tidak akan banyak membahas tentang seluk beluk mengapa lomba banyak dilakukan untuk menyemarakkan kemerdekaan. Tentu banyak juga bentuk perayaan yang lain. Saya juga bukan tidak setuju adanya lomba, hanya saja saya mempertanyakan, merayakan kemerdekaan masa sekedar lomba. Seperti dangkal jika tanpa dimaknai lebih dalam secara sadar.
Sebagai
guru, saya memiliki pengalaman acara Agustusan yang beragam dengan anak-anak
dan sesama rekan guru. Di tempat saya mengajar, kami ingin menumbuhkan nilai-nilai
kemandirian dan kolaborasi, bukan sekedar kompetisi. Saat mengikuti event
kemah, kami selalu mempercakapkan ke anak-anak bahwa kegiatan ini tidak
semata-mata untuk mendapat juara lomba, tapi banyak keterampilan hidup yang
bisa dipelajari seperti kerjasama,
kemandirian, mengatur diri dan waktu dengan baik, dan lain-lain. Jadi, pun
tidak mendapatkan juara, anak-anak sudah mendapatkan pelajaran hidup dan
keterampilan-keterampilan pramuka yang sudah dipelajari. Tapi, bukan berarti
tidak boleh mengharapkan juara, tentu capaian juara adalah
bonus dan patut disyukuri. Namun, ketika kalah pun, secara sadar mereka tetap
mendapatkan sesuatu yang sebenarnya lebih dalam dan bermakna dari juara itu
sendiri. Maka dari itu, biasanya kami selalu ada kegiatan refleksi setelah
mengikuti lomba.
“Tak apa
tak menang, yang penting pengalamannya kan ya, Bu?” Ucap salah satu murid saya setelah mendengar pengumuman juara. “Iya, tak apa. Yang paling penting adalah
kalian belajar apa dan pengalaman kalian direfleksikan supaya lebih baik ke
depannya.” Jawabku.
Akhir-akhir
ini saya membaca kembali buku Merdeka Belajar di Ruang Kelas karya Najelaa
Shihab dan Komunitas Guru Belajar. Saya tertarik memahami kembali arti
kemerdekaan di buku itu. Kata merdeka tahun lalu masih menjadi perbincangan
hangat di kalangan pendidik karena Kemendikbud menggunakan istilah Kurikulum
Merdeka. Waktu itu saya banyak menemui sesama guru yang mengartikan kata
merdeka hanya dengan bebas. Sehingga dimaknai dengan bebas semaunya sendiri.
Menurut saya itu tidak salah, hanya saja kurang mendalam jika dimaknai berhenti
di kata bebas. Di dalam buku Merdeka Belajar di Ruang Kelas yang saya baca, Kemerdekaan
berarti komitmen pada tujuan, mandiri menentukan cara, dan reflektif. Dalam konteks
guru, komitmen pada tujuan berarti guru paham kenapa perlu mengajar suatu materi
dan kaitannya dengan aplikasi sehari-hari. Mandiri menentukan cara berarti
selalu bergantung pada dirinya untuk mengatasi tantangan, tidak mudah menyerah
dan menyalahkan orang lain. Reflektif berarti berani meminta umpan balik secara
aktif dan menilai diri sendiri secara objektif.
Setelah
memahami kembali makna kemerdekaan tersebut, untuk merayakan kemerdekaan
Indonesia tentu tidak sekedar lomba untuk mendapatkan juara apalagi hanya untuk
seru-seruan. Tapi secara sadar juga melatih bagaimana diri kita bisa komitmen,
mandiri, dan berefleksi dalam banyak konteks kehidupan.

Komentar