Postingan

Bincang Buku Tak Pernah Sia-Sia

Gambar
  Perjalanan Merawat Literasi di Sekitar “Alasan mengapa buku bukanlah yang terpenting, melainkan kalimat yang ada di dalamnya.” Itu kutipan dari buku yang berjudul Ketika Aku Tak Tahu Apa yang Aku Inginkan karya Jeon Seunghwan yang saya baca untuk membuka pertemuan bincang buku dua hari yang lalu. Bincang buku bersama klub baca yang saya inisiasi bersama kawan-kawan untuk menumbuhkan kembali semangat membaca buku di lingkungan sekitar kami.  Pada suatu siang yang tidak terlalu terik, tiga perempuan termasuk saya bergerak pelan ke tempat teduh gazebo, ada yang sambil mengisi perut untuk makan siang, ada yang membuka camilan, dan saya menawarkan diri untuk membacakan kalimat demi kalimat buku yang saya bawa. Tak seperti biasanya, pertemuan ini terasa berjalan alami sebagaimana kita tak sengaja bertemu dan nongkrong sambil makan, hanya saja saya menawarkan diri untuk membacakan buku untuk mengajak dua teman saya yang hadir menyadari bahwa pertemuan ini untuk ...

Cara Sederhana Merayakan Iduladha bersama Keluarga

Gambar
  Dokumentasi pribadi Takbir bergema sepanjang malam. Ramai namun menenangkan. Rasanya masih tak menyangka bahwa di tengah hari-hari aktif bekerja ada momen hari raya. Padahal setiap tahun selalu ada, saya menyadari itu. Dan yang membuat saya merasa bahagia, Iduladha menjadi momen berbeda untuk jeda dari rutinitas. Waktu pagi adalah waktu favorit saya untuk menata ulang hati dan pikiran. Gema takbir masih ramai terdengar. Dan serasa pagi yang istimewa, suara-suara cicitan burung yang biasanya menggema sendiri, saat itu bersahutan dengan takbir yang dikumandangkan dari pengeras-pengeras suara. Merdu. Pagi yang biasanya saya dibuat bergegas untuk salat subuh, dzikir, mengaji, dan setelah itu persiapan untuk berangkat mengajar. Pagi tadi saya bangun lebih pelan untuk melakukan aktivitas pagi. Saya dan keluarga berangkat ke masjid untuk melakukan salat Iduladha berjamaah. Saat saya dan keluarga berjalan menuju ke masjid, kendaraan masih banyak yang lalu lalang. Sepertinya meski t...

Ketika Membaca Buku Membuat Diriku Pulih

Tak bisa kita selalu berharap semua hari berjalan sesuai rencana kita. Berjalan mulus dan nyaman tanpa rintangan. Selalu berjalan damai tanpa gangguan. Semakin berusaha berharap hidup terus lurus saja, semakin rasanya sakit ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai ekspektasi. Perjalanan bulan Mei ini sungguh membuatku banyak belajar untuk menyadari hal penting dalam hidup ini. Aku harus berlatih menerima dan menghadapi situasi di luar rencana dan kendali diri, situasi yang membuat diri ini lelah, bingung, ragu, cemas, dan merasa bersalah. Di saat yang sama aku harus berani mengambil keputusan untuk kelanjutan pekerjaanku dengan pilihan-pilihan yang memiliki resikonya masing-masing. Tubuhku menyalakan alarm untuk istirahat total. Aku tak ingin melawannya meski banyak tugas yang belum selesai. Berhari-hari setiap malam aku mencoba untuk tenang dan merilekskan tubuh supaya cepat pulih. Tapi pikiran sama sekali tak mau berkompromi. Dia terus berputar dan berisik. Aku berulangkali me...

Aku Pulang

Gambar
  Kalau sudah sampai, kabarin ya . ‘Aku pulang’, dua kata itu mungkin terdengar sederhana, tapi akhir-akhir ini dua kata itu lebih terasa berharga, dan bersyukur ketika bisa mengatakannya saat sampai di rumah setelah perjalanan pulang dari rutinitas bekerja. Sejak Selasa 28 April, aku seringkali dibuat menangis berita tentang korban KRL di Bekasi Timur yang kulihat di media sosial. Dan Jumat pagi ini aku melihat berita korban ke 16 yang meninggal dunia. Sosok ayah dan ibu yang menanggung duka atas kepergian anak-anak perempuannya membuatku ikut merasakan sedihnya kehilangan. Orang tua yang setiap hari tanpa kata-kata menanti kepulangan anaknya dengan selamat dan berharap bisa bersua kembali dengan keluarga, kini harus menerima kenyataan bahwa sang anak kembali tanpa nyawa. Mungkin karena sama-sama perempuan yang berjuang menjalani rutinitas pulang pergi untuk berkarir, aku ikut merasa kehilangan mereka seperti kehilangan teman sendiri. Aku tak sama dengan mereka yang harus pergi ...

Langit Malam Ini

Gambar
Gambar dari 'X' Akhir April ini langit malam sudah mulai sering bercahaya Bulan terang dan bintang gemintang bertebaran cerah Sesekali kelap kelip lampu pesawat yang lewat ikut menghiasinya Dan aku menatapnya sambil menerbangkan asa Pemandangan itu seakan menjadi pelipur di tengah gerahnya cuaca Di tengah pikiran yang terus bergelayutan  Di tengah perasaan yang kadang naik turun tidak pasti Di tengah langkah yang belum selesai Mari sejenak jeda Hadir dengan diri sendiri dan menyadari bahwa hari ini adalah anugerah Tak harus ada yang sangat istimewa, tapi hari berjalan seperti biasa pun sudah sangat berharga Teruslah percaya, meskipun terasa lebih lambat dari yang diharapkan Bumi, 26 April 2026

Dear April

Gambar
  Dokumentasi pribadi Dear April Orang-orang mengatakan kau akan kemarau panjang aku sempat tak siap menyambutmu tapi kau juga yang kunanti untuk menggenapi usia ini Dear April Kala itu rasanya kau datang begitu saja tanpa memberi aba-aba aku belum sepenuhnya siap bersua aku masih ingin menikmati gemericik bulan sebelumnya Dear April Adakalanya panasmu membuatku senang dengan semilir angin yang datang adakalanya panasmu membuatku mengeluh panjang tapi aku merasa tenang saat kutahu kau masih merayu hujan untuk datang sembunyi-sembunyi memecah tengah malam yang sunyi Dear April Kau rajin sekali membuatkan rentetan target yang harus kuselesaikan seakan kau tak ingin membiarkanku hanya larut dalam kekalutan kau tak peduli aku masih sendirian kau terus sodorkan harapan-harapan Dear April Kau tahu aku mudah bahagia saat hujan datang tanpa ragu aku terus merapalkan doa sebanyak-banyaknya dengan polosnya menengadahkan tangan menampung tetesan air yang tumpah sambil membayangkan musim semi ...

Berharganya Perempuan Diberi Kesempatan Memilih

Gambar
Reviu Sebuah Novel berjudul ‘Midah Simanis Bergigi Emas’ karya Pramoedya Ananta Toer Dokumentasi pribadi Aku tidak bisa membayangkan menjadi perempuan yang hidup pada masa tahun 1950-an seperti Midah. Dia anak perempuan yang diceritakan dari keluarga yang terpandang dan taat beragama. Namun saat dewasa dia justru terhempas di tengah kerasnya hidup kota Jakarta sebagai penyanyi dan wanita bayaran. Hal itu bermula karena Midah tak diberi kesempatan memilih jalan hidupnya, tak diberi ruang untuk menyuarakan kata hatinya di dalam rumah. Midah dewasa merasa terasingkan di tengah keluarga dan haus akan perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya yang pernah ia dapatkan pada masa kecilnya. Saat sudah menikah dengan laki-laki pilihan ayahnya dan sedang hamil berat, Midah justru berani untuk keluar dari keterkungkungan dan memilih jalan kebebasan mengikuti kata hatinya, meski rintangan besar harus dihadapinya.   Akhir-akhir ini aku lebih sering membaca novel. Ketika aku menjelaja...