Postingan

Dear April

Gambar
  Dokumentasi pribadi Dear April Orang-orang mengatakan kau akan kemarau panjang aku sempat tak siap menyambutmu tapi kau juga yang kunanti untuk menggenapi usia ini Dear April Kala itu rasanya kau datang begitu saja tanpa memberi aba-aba aku belum sepenuhnya siap bersua aku masih ingin menikmati gemericik bulan sebelumnya Dear April Adakalanya panasmu membuatku senang dengan semilir angin yang datang adakalanya panasmu membuatku mengeluh panjang tapi aku merasa tenang saat kutahu kau masih merayu hujan untuk datang sembunyi-sembunyi memecah tengah malam yang sunyi Dear April Kau rajin sekali membuatkan rentetan target yang harus kuselesaikan seakan kau tak ingin membiarkanku hanya larut dalam kekalutan kau tak peduli aku masih sendirian kau terus sodorkan harapan-harapan Dear April Kau tahu aku mudah bahagia saat hujan datang tanpa ragu aku terus merapalkan doa sebanyak-banyaknya dengan polosnya menengadahkan tangan menampung tetesan air yang tumpah sambil membayangkan musim semi ...

Berharganya Perempuan Diberi Kesempatan Memilih

Gambar
Reviu Sebuah Novel berjudul ‘Midah Simanis Bergigi Emas’ karya Pramoedya Ananta Toer Dokumentasi pribadi Aku tidak bisa membayangkan menjadi perempuan yang hidup pada masa tahun 1950-an seperti Midah. Dia anak perempuan yang diceritakan dari keluarga yang terpandang dan taat beragama. Namun saat dewasa dia justru terhempas di tengah kerasnya hidup kota Jakarta sebagai penyanyi dan wanita bayaran. Hal itu bermula karena Midah tak diberi kesempatan memilih jalan hidupnya, tak diberi ruang untuk menyuarakan kata hatinya di dalam rumah. Midah dewasa merasa terasingkan di tengah keluarga dan haus akan perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya yang pernah ia dapatkan pada masa kecilnya. Saat sudah menikah dengan laki-laki pilihan ayahnya dan sedang hamil berat, Midah justru berani untuk keluar dari keterkungkungan dan memilih jalan kebebasan mengikuti kata hatinya, meski rintangan besar harus dihadapinya.   Akhir-akhir ini aku lebih sering membaca novel. Ketika aku menjelaja...

Silaturahmi Itu Soal Kehadiran

Gambar
  Hari raya Idulfitri seringkali jadi momen yang istimewa untuk bertemu dan berkumpul dengan keluarga besar. Momen di mana kita dianjurkan untuk saling meminta dan memberi maaf. Momen untuk kembali fitrah, kembali suci. Itu mengapa kita perlu yang namanya silaturahmi.  “ Rasul saw. Bersabda: “barangsiapa yang ingin berusia panjang hendaknya menyambung kasih sayang (silaturrahmi).” (Bukhari IV/49, Syirkah Ma’arif, Bandung). Hadis itu kubaca saat mengkhatamkan bacaan al-Quran di terakhir bulan Ramadan. Hadis itu membuatku tersadar bahwa silaturahmi tidak perlu kuhindari hanya karena khawatir dicecar basa-basi pertanyaan tentang capaian. Saya hanya perlu meniatkan bahwa silaturahmi untuk hadir menyambung dan merawat hubungan kekeluargaan. Untuk saling meminta dan memberi maaf. Hal itu diperkuat lagi ketika saya benar-benar menyimak khutbah salat Idulfitri yang intinya kita sebagai mukmin sudah sepatutnya memberi maaf, menyambung kasih sayang, dan berbagi rezeki ke orang lain....

Kita Hanya Hamba

Gambar
 Catatan Sepuluh Hari Terakhir Ramadan Sepuluh hari terakhir Ramadan selalu terasa lebih istimewa. Istimewa karena di dalam sepuluh malam terakhir bulan Ramadan ada momen Lailatur Qadar yang dirahasiakan kapan persis terjadinya. Namun justru karena tidak dijelaskan pasti kapan terjadinya, kita sebagai muslim perlu berupaya untuk meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah sepanjang hari. Dan bukan semata ingin mendapat momen Lailatul Qadar , tapi berkelanjutan menjadi bagian dari hidup kita untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah. Salah satunya adalah dengan membiasakan diri setiap hari membaca al-Quran. Dan tentu banyak bentuk ibadah lainnya. Pada sepuluh hari terakhir Ramadan, saya fokus melakukan aktivitas di rumah. Beberapa kali saya menyimak video pengajian Tafsir Al-Misbah oleh Abi Quraish Shihab dan bu Najelaa Shihab di youtube untuk mengisi waktu. Salah satu topik yang saya simak adalah tentang doa. Dan salah satu doa yang dianjurkan selama bulan Ramadan...

Pagi dan hati yang sunyi

Gambar
  Pagi sunyi kuhampiri Dengan hati yang sunyi pula Di saat tak ada yang menyapanya Kami bersua Saling memeluk dingin Saling membiarkan angin lembut memecah hening Angin lembut pelan menyentuh kulitku Perlahan melirihkan teriakan kepalaku Perlahan melunakkan keluhku Perlahan melembutkan hatiku Yang kadang bergemuruh, luluh, dan rapuh Kadang pula kukuh dan tumbuh Sesekali cicitan burung-burung menemani Sesekali daun-daun jatuh menghampiri Memeriahkan kesunyian Merayakan keheningan Pagi sunyi kutemani Dengan hati yang damai Di saat tak ada yang menyapanya Kami bersua Aku terdiam Bergumul dengan kehidupan Menerima keadaan Melepas keriuhan Angin lembut pelan menyibak kain kerudungku Perlahan menyingkap pikiranku Perlahan membuka rasaku Yang kadang bergemuruh kadang kukuh Dan aku tahu, bahwa aku sedang tumbuh Bersama burung-burung yang mulai terbang dan daun-daun jatuh yang berserakan Aku terdiam Sambil merapalkan doa Agar jiwa ini tetap ada Agar hati ini...

Romantisnya Kumandang Sahur.. Sahur.. Sahur!

Gambar
Ramadan telah datang. Ia adalah satu-satunya bulan yang menciptakan suasana berbeda selama satu bulan penuh. Puasa tidak menghalangi aktivitas sehari-hari. Justru kedatangannya membuat kita lebih memprioritaskan beberapa kegiatan ibadah lain, seperti salat tarawih, membaca al-Quran (tadarus), menyimak pengajian, makan sahur, berbuka puasa, dan lain-lain. Dan hampir banyak muslim sudah terbiasa dengan itu. Meski di awal butuh penyesuaian diri.  Sebagian orang mungkin terbiasa bangun sepertiga malam atau dini hari sebelum subuh. Namun, sebagian yang lain tidak terbiasa. Ketika bulan Ramadan, maka banyak muslim akan membangun kebiasaan untuk bangun pada sepertiga malam atau sebelum subuh untuk sahur. Dan beruntungnya saya tinggal di desa atau kampung yang memiliki tradisi ada alarm membangunkan sahur warganya melalui pengeras suara masjid atau musala. Dan banyak di bagian-bagian daerah di Indonesia memiliki tradisi serupa.   “Sahur… Sahur… Sahur… Sampun jam tigo, monggo sedo...

Dengan Menulis, Aku diPilih

Gambar
  Tulisanmu dipilih. Kalimat itu tidak hanya membuatku senang, tapi membuat diriku kembali bermakna. Kembali utuh. Kembali penuh. Setelah beberapa waktu hati terkikis oleh rasa sedih dan khawatir membayangkan jika tak ada seorang pun yang akan memilihku. Aku sempat patah hati dengan harapanku sendiri soal jodoh. Di usia yang semakin   bertambah, semakin bertambah pula harapan untuk bertemu pasangan hidup yang saling mencintai dan melengkapi. Dan di momen aku benar-benar merasa tak dipilih oleh siapapun, tiba-tiba ada tiga notifikasi bahwa tulisan-tulisanku telah dipilih. Notifikasi itu dikirim dan kuterima seakan Tuhan menghibur dan menguatkan hatiku yang sedang tidak tentu arah. Tahun lalu hingga sekarang, aku benar-benar mendorong diri untuk tak berhenti menulis. Menulis apapun, dipublikasikan atau disimpan. Karena aku tahu, dengan menulis aku lebih bisa mendengarkan suara diri. Dengan menulis aku bisa pulih, bisa kembali merasa dan berpikir jernih. Salah satu yang per...