Silaturahmi Itu Soal Kehadiran

 


Hari raya Idulfitri seringkali jadi momen yang istimewa untuk bertemu dan berkumpul dengan keluarga besar. Momen di mana kita dianjurkan untuk saling meminta dan memberi maaf. Momen untuk kembali fitrah, kembali suci. Itu mengapa kita perlu yang namanya silaturahmi. 

Rasul saw. Bersabda: “barangsiapa yang ingin berusia panjang hendaknya menyambung kasih sayang (silaturrahmi).” (Bukhari IV/49, Syirkah Ma’arif, Bandung).

Hadis itu kubaca saat mengkhatamkan bacaan al-Quran di terakhir bulan Ramadan. Hadis itu membuatku tersadar bahwa silaturahmi tidak perlu kuhindari hanya karena khawatir dicecar basa-basi pertanyaan tentang capaian. Saya hanya perlu meniatkan bahwa silaturahmi untuk hadir menyambung dan merawat hubungan kekeluargaan. Untuk saling meminta dan memberi maaf. Hal itu diperkuat lagi ketika saya benar-benar menyimak khutbah salat Idulfitri yang intinya kita sebagai mukmin sudah sepatutnya memberi maaf, menyambung kasih sayang, dan berbagi rezeki ke orang lain. 

Berbekal niat itu, saya tak lagi risau ketika bersilaturahmi ke rumah keluarga dan kerabat. Ketika saya berkunjung ke salah satu rumah bude yang paling tua, bude tampak bahagia. Bude mempersilahkan saya dan saudara saya saat itu untuk berhenti dan duduk sambil menikmati jamuan jajanan yang ada di meja. Bude sama sekali tak seperti tahun lalu yang memulai percakapan dengan pertanyaan tentang apakah aku sudah punya calon, apakah kakakku pekerjaannya lancar, apakah sudah punya rumah sendiri, kenapa belum punya anak lagi. Tapi kali ini bude justru menceritakan rasa senangnya masih ada anak-anak muda yang masih mempertahankan silaturahmi ke rumah kerabat dan hadir duduk sejenak bersama para orang tua. Namun bude kemudian juga menceritakan untuk tahun ini tidak banyak menyiapkan jajan lebaran. Ada rasa sedih karena sekarang banyak tamu yang hanya berkunjung dan salim kemudian langsung keluar. Tidak lagi duduk sejenak dan menikmati jamuan jajan lebaran seperti dulu. Tidak lagi ngobrol lama untuk membangun hubungan lebih dalam. Datang hanya untuk menyapa dan menggugurkan kewajiban salim dan meminta maaf, tidak lagi hadir sepenuhnya. Terlepas dari masing-masing orang punya beragam kepentingan. 

Mendengar itu, saya bersyukur sudah meluruskan niatku untuk bersilaturahmi sejak awal. Tadinya saya tak ingin berlama-lama juga, yang penting ketemu dan salim. Tapi setelah mendengar perasaan yang disampaikan bude, saya justru ingin lebih lama dan hadir sepenuhnya untuk bude sambil menikmati jajanan yang sudah disuguhkan. Sebagai tamu, saya lebih banyak mendengarkan bude bercerita tentang beragam pengalamannya. Dan bude seakan sudah paham bahwa tak perlu banyak menanyai tentang capaian-capaian pada saya. Hadir dalam keadaan sehat dan baik pun sudah cukup tanpa harus tahu detil capaian hidup selama ini. 

Selesai berkunjung ke rumah bude, saya dan saudara saya lanjut berkeliling lagi ke rumah-rumah kerabat yang lain. Saya dan saudara saya kemudian memutuskan untuk tidak terburu-buru pergi saat berkunjung ke rumah-rumah kerabat. Kami datang, duduk, dan ngobrol sedikit lebih lama dan menikmati suguhan jajan lebaran. Sesekali saya dan kakak saya menceritakan kehidupan diri seperlunya untuk menghidupkan obrolan. 

Lebaran tahun ini benar-benar membuatku sadar penuh tentang pentingnya silaturahmi. Entah karena dari awal sudah menancapkan niat atau memang cukup memahami esensinya. Tidak sekedar ikut-ikutan karena sudah menjadi tradisi atau sekedar menjalankan perintah agama saja. Tidak mudah terganggu dengan basa-basi pertanyaan yang kadang justru menciutkan niat baik bersilaturahmi. 

Sampai sini, saya memahami bahwa silaturahmi bukan hanya soal datang dan bertemu, tapi juga hadir dengan niat yang utuh dan hati yang penuh. 

Terima kasih sudah membaca tulisan ini. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menemukan Teman dan Klub Baca Buku

Agustusan Tidak Sekedar Lomba

Mimpi Bukan Kata Benda Tapi Kata Kerja