Mimpi Bukan Kata Benda Tapi Kata Kerja
Merefleksikan Kembali Daftar Impian
Siapa yang
benar-benar tak punya mimpi sama sekali? Saya yakin semua orang punya mimpi.
Sekecil dan sesederhana mimpi itu. Disadari atau tidak.
Saya lebih
sering menggunakan kata mimpi untuk menggambarkan cita-cita atau impian. Entah mengapa
saya suka kata mimpi dan bermimpi. Karena dengan kata itu selalu menumbuhkan
rasa penuh harapan dan membuat diri terus bergerak tanpa batas untuk menggapai
apa yang kita impikan.
Namun
dewasa ini saya tahu, mimpi hanyalah ilusi tanpa aksi. Beberapa waktu lalu saat
detik-detik 2025 berakhir, saya membuka kembali daftar impianku sepanjang tahun
itu, dan ternyata ada harapan besar yang belum aku gapai. Sedih rasanya, tapi
saya segera sadar bahwa impian itu masih bisa diwujudkan di tahun 2026. Saya
melepas kertas yang bertuliskan daftar impian dari dinding kamar. Saya lipat
dan kusimpan. Namun saat saya hendak menuliskan kembali daftar impian tahun
2026, saya terhenti. Saya berpikir ulang apakah daftar impian yang kutuliskan
akan sama atau berbeda. Jujur saya agak bosan dengan menulis impian yang lima
tahun terakhir hampir sama. Dan bahkan rasanya banyak yang stuck. Akhirnya saya
menunda untuk menuliskan kembali daftar impian saya tahun 2026.
Malam tahun
baru saya tak banyak menghabiskan waktu bersama orang lain. Saya justru
tenggelam dengan diri saya sendiri. Di saat yang lain berisik ngobrol dengan
orang-orang terkasih untuk merayakan tahun baru dengan bakar-bakar ikan dan
menyalakan kembang api, saya justru memilih meringkuk di kamar dan ngobrol
dengan diri sendiri. Saya benar-benar mempertanyakan, apa sebenarnya dalam
hidup ini yang harus saya tuju? Apa yang harus saya ubah dan perbaiki? Apa yang
akan saya tuliskan dalam daftar impian saya di tahun 2026?
Dan
pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban hingga saya tertidur. Waktu terus
berjalan. Dan aku mulai kembali ke rutinitas mengajar. Aku sejenak melupakan
daftar impian yang belum aku tuliskan. Hingga suatu pagi yang bebas, aku mendengarkan
podcast Rahasia Gadis dan diingatkan oleh apa yang disampaikan mbak Najwa
Shihab tentang mimpi. Menurut mbak Najwa, mimpi itu harus tinggi dan yang bikin
diri kita gemetar. Kalau mudah, kita perlu mempertanyakan mimpi kita, apakah
itu patut diperjuangkan. Kalau memasang target yang tinggi. Tapi yang perlu
diingat dan paling penting adalah kita menikmati along the way menuju ke mimpi
itu.
Seperti biasa,
setelah menyimak podcast motivasi rasanya selalu penuh inspirasi dan semangat
membara dalam dada. Hal itu membuka mata saya, yang tadinya saya berpikir untuk
menurunkan beberapa target hidup karena merasa gagal pada tahun sebelumnya,
saya berubah pikiran bukan menurunkan targetnya, tapi mencari cara yang berbeda
untuk mencapainya.
Saya sempat
menutup tahun 2025 dan memulai 2026 dengan mengkhatamkan novel The Life List
karya Lori Nelson Spielman. Saya sedikit spill buku itu tentang apa di tulisan
saya yang berjudul Perempuan Tanpa Ibu yang Bermimpi Menjadi Ibu. Satu hal dalam buku itu yang
cukup menghentak saya adalah kalimat terakhir dari tulisan penutup sang penulis.
Tulisan yang menyampaikan bahwa novel tersebut diperuntukkan bagi setiap gadis
dan wanita yang melihat kata “mimpi” dan menganggapnya kata kerja, bukan kata benda.
Kalimat itu singkat, namun justru yang paling membuat saya sadar bahwa selama
ini saya salah mengaggap tentang makna mimpi. Saya sadar bahwa mimpi bukan
tentang sebuah capaian semata. Mimpi bukan soal menjadi. Tapi soal menjalani. Soal
bagaimana menggapai.
Ketika saya
bilang saya punya mimpi A dan mimpi B, selama ini saya masih fokus pada hasil
semata. Padahal yang terpenting ketika memiliki mimpi adalah menikmati prosesnya
untuk terus menuju ke mimpi kita. Ah, itu relevan sekali dengan nasihat guru
saya untuk tidak sekedar membuat resolusi saat memasuki tahun baru, tapi yang
paling penting adalah membuat target hariannya. Target harian yang yang tidak
perlu penuh effort dulu, kecil-kecil atau sedikit-sedikit tapi rutin dan
konsisten. Lebih fokus ke tangga-tangga target harian, tidak langsung ke daftar
besar resolusi.
Saya
kembali merefleksikan diri sebelum benar-benar menuliskan daftar impian. Dan
kali ini, lebih fokus menata apa yang ingin dicapai hari ini. Hari ini yang
mengantarkanku pada puncak mimpi-mimpi. Sebagai penutup, saya ingin mengutip
inspirasi dari buku yang sedang saya baca, buku Master Your Feeling karya
Ibrahim El Fiky;
“Jalani hidup
ini seolah-olah kesempatan terakhir. Hiduplah dengan keimanan dan kecintaan
terhadap Allah. Hiduplah dengan impian. Hiduplah dengan cinta. Hiduplah dengan perjuangan.
Hargailah nilai kehidupan.”
Terima
kasih sudah membaca tulisan ini. Semoga menginspirasi.

Komentar