Cita-Cita Tak Pernah Mempersoalkan Usia
Menilik makna cita-cita di buku Cita Untuk Perempuan yang Tidak Sempurna
“Bu, Bu
Guru cita-citanya apa?” Tanya salah satu anak didikku saat sedang bersantai pada
jam istirahat.
Aku
tercengang tak langsung menjawab. Aku tersenyum padanya sambil merenung, ouh
sedewasa ini pun masih pantas ditanya cita-cita. Bukankah seharusnya aku yang
melontarkan pertanyaan itu ke anak-anak untuk memupuk semangat mereka menatap
masa depan. Namun persepsiku terpatahkan oleh pertanyaan anak didikku itu.
Alih-alih aku langsung menjawabnya, aku tanya balik ke dia. “Kalau kamu
cita-citanya apa?”, tanyaku. Ia menjawab, “Cita-citaku pengen jadi youtuber,
Bu. Kalau bu Guru sudah jadi guru cita-citanya udah tercapai ya?” Aku tertawa geli
mendengarnya. Aku menjawab iya atas pertanyaan dia. Dan aku bilang, “Bu Guru
masih punya banyak cita-cita lain yang ingin diwujudkan. Dan anak didikku itu
lantas bersemangat bilang bahwa ia juga ingin punya banyak cita-cita yang
diwujudkan. Obrolan itu berakhir ketika bel masuk berbunyi. Dan sebelum masuk
kelas aku menyemangati anak didikku itu untuk terus semangat belajar.
Membahas
tentang cita-cita selalu terasa menyenangkan, karena selalu tentang
harapan-harapan. Bukan kebetulan, aku baru saja khatam membaca buku ‘Cita Untuk
Perempuan yang Tidak Sempurna karya Najelaa Shihab. Buku yang memiliki 230
halaman ini diterbitkan oleh penerbit Lentera Hati. Buku ini merupakan buku
seri kedua dari buku Cinta untuk Perempuan yang Tidak Sempurna. Topik-topik esai
dalam buku ini sungguh banyak yang menggugah untuk merefleksikan kembali apa
dan bagaimana cita-cita kita, tentang bagaimana dan mengapa para perempuan yang
tidak sempurna bisa mencapai cita-cita bersama. Ya, cita-cita adalah objek
sekaligus subjek dari kehidupan kita. Pesan bu Najelaa: we need to live for something bigger than ourselves.
Dewasa ini aku masih menyimpan beberapa mimpi atau cita-cita dalam benakku. Salah satunya adalah menjadi penulis. Sepanjang perjalanan hidup ini, aku terus merefleksikan apa yang sebenarnya aku harapkan, dan bagaimana aku berproses menuju harapanku itu. Aku sempat tak percaya diri mengatakan aku bercita-cita ini dan itu di depan orang lain, karena aku meragukan diriku apakah bisa mencapainya dalam usia ini. Dan ada situasi dalam hidup ini di mana itu membuatku menguburkan cita-cita yang sempat aku langitkan. Hingga aku di titik bangkit setelah utuh membaca buku yang ditulis bu Najelaa Shihab ini. Selain pelajaran dari berbagai topik esainya yang banyak
membicarakan tentang dinamika perempuan, banyak juga kutipan dalam buku ini
yang cukup menginspirasi.
“Bukan
cita-cita yang dinyatakan yang akan kita rindukan. Tapi cita-cita yang tak
pernah disampaikan terang-terangan, yang menggantung dalam harapan dan terlalu
cepat dikuburkan sebelum kejadian.”
"Menyatakan cita-cita di hadapan banyak orang, perlu kita jadikan kebiasaan. Tentu bukan untuk mempermalukan saat harapan tak menjadi kenyataan. Tetapi untuk terus menumbuhkan lingkungan, yang merayakan keberanian berproses, lebih dari hasil akhir yang diwujudkan."
"Cita- cita, sesederhana ingin melakukan apa, kadang sulit diformulasikan dengan kata, apalagi saat ditanya. Tetapi yang menarik, yang membuat kita mengalir di dalamnya, selalu bisa dirasa dan jadi energi untuk terus berkarya."
"Cita tak seharusnya jadi kunjungan dengan perjanjian. Sama seperti cinta, cita dijaga dan ditumbuhkan dengan kesetiaan kehadiran."
Dan masih banyak lagi kutipan-kutipan yang menggugah.
Terakhir,
aku akan menuliskan ajakan bu Najelaa Shihab yang dituliskan dalam kata
pengantarnya.
“Saya ingin
menguatkan tekad kita bersama—mewujudkan kemerdekaan belajar, berkolaborasi,
dan berkarya berarti. Kita bukan hanya bersedia mati demi cinta dan tetapi yang
lebih penting lagi, bersedia hidup seutuhnya demi cita-cita.”
Ya, mari kita hidup seutuhnya demi cita-cita. Banyak kisah orang-orang di dunia ini yang bahkan di usia senja masih semangat menggapai cita-citanya. So, untuk diriku dan para pembaca yang mungkin ingin menghidupkan kembali cita-cita dalam diri, mari kita menilik dan menyatakan cita-cita kita. Karena cita-cita tak pernah mempersoalkan usia.
.jpeg)
Komentar