Perempuan dan Masa Penantian
Perempuan dan Masa Penantian
“Perempuan tidak tertekan oleh kelajangannya, ia tertekan oleh pandangan dan perlakuan orang-orang sekitarnya terkait kelajangannya.” Kutipan dari buku ‘Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan.’
“Kamu kalah
dari dia (adik kelas), dia sudah menikah lebih dulu”. Komentar salah satu
tetangga terhadapku. Ucapan itu terngiang di telinga hingga masuk ke hatiku
sampai saat ini. Aku tidak sakit hati lagi, karena aku tahu maksudnya tidak
ingin menyakiti hatiku, melihat ekspresinya itu obrolan basa basi yang
sebenarnya mungkin ingin menyampaikan kepeduliannya terhadapku. Hanya saja caranya
dengan melontarkan komentar yang melukai hati. Ucapan itu terngiang, mengapa
aku dianggap kalah hanya karena belum menikah? Sejak kapan pernikahan itu
menjadi ajang perlombaan antar perempuan?
“Kamu
terlalu pemilih, semakin tua, nanti semakin sulit jodohnya.” Komentar lain
yang pernah kudengar. Namun saat itu aku mengabaikannya. Awalnya aku tak
terlalu memikirkannya meski pada akhirnya juga terngiang di dalam pikiran dan
itu memunculkan rasa takut di bagian hatiku.
Beberapa
waktu yang lalu aku menonton film Pride and Prejudice, ada adegan dalam film
itu di mana tokoh utama Elizabeth Bennet yang diam-diam dijodohkan oleh ibunya
dengan seorang laki-laki yang mencari pasangan hidup. Saat dilamar laki-laki
itu, dia menolaknya karena memang tidak sesuai dengan kata hatinya. Namun sang
Ibu kecewa dan marah pada sang anak. Sang anak tetap bersikukuh tidak menerima
lamaran si laki-laki karena dia punya alasan mengapa tidak menerimanya meski
sang Ibu memaksa. Elizabeth Bennet kemudian mendapat dukungan dari ayahnya
untuk mengikuti kata hatinya.
Seperti
mengaca, kisah itu mengingatkan pada pengalamanku sendiri. Hampir sama
kisahnya, hanya saja aku sudah tidak ada sosok ibu, ayahku yang kecewa karena
aku tidak menerima laki-laki yang diam-diam dijodohkan ke aku. Aku sudah
berusaha menerima untuk taaruf karena aku menghargai usaha ayah. Namun setelah
dijalani dan karena suatu alasan yang berat, aku memutuskan untuk tidak
menerimanya. Awalnya ayah terlihat sangat kecewa, karena beliau berharap anak
gadisnya segera menikah mengingat sudah berusia dewasa dan matang. Ah, aku juga
ikut sedih saat itu, aku sempat menangis dan mengurung diri di kamar. Namun akhirnya
aku bicara baik-baik pada ayah dan menyampaikan mengapa aku memutuskan itu, dan
akhirnya ayah pasrah padaku.
Aku bukan
perempuan yang tidak ingin menikah. Aku justru ingin menikah untuk satu tujuan
mulia dalam hidup ini, yaitu ibadah. Aku juga bukan perempuan yang hanya
menanti dan berpangku tangan, tapi aku berniat dan juga berikhtiar bertemu pasangan hidup yang baik. Setiap
hari aku menguatkan diri untuk tidak menyerah dan berusaha menyiapkan dan memperbaiki
diri. Aku sadar, tak ada manusia yang sempurna, aku pun perempuan yang tak
sempurna. Namun untuk urusan pasangan, bukankah kita tak sepatutnya sembarang dan
gegabah memilih hanya karena usia?
Seiring
waktu aku merefleksikan diri. Menanyakan kembali apa yang kuharapkan dalam
hidup ini, tak terkecuali memilih pasangan hidup. Menelisik kembali apa yang
perlu kuperbaiki. Ada masa-masa di mana aku sangat tertekan menjalani hari
karena overthinking dan mendapat perbandingan dengan capaian orang lain
seusiaku yang sudah banyak berumah tangga dan mapan karir. Aku banyak resah
karena lama menjalani masa penantian ini.
Di
saat-saat seperti itu, yang ingin kulakukan hanya ingin berdoa pada Allah sang
Maha Pengatur Hidup. Aku sesak jika terus melihat kanan dan kiri. Aku selalu
mendamaikan diri dengan melihat ke atas sana, ke langit yang terbentang luas,
atau melempar pandangan ke lautan yang luas, atau mengamati ke bawah dan
merasakan tanah serta rerumputannya. Aku berusaha menjaga kewarasan mental. Aku
tak ingin berlarut-larut dalam resah hanya karena belum bertemu pasangan hidup.
Beberapa
kali kesempatan saat berbagi cerita bersama para sahabatku, sahabatku banyak
yang menguatkan tak perlu risau soal jodoh. Kapan waktunya dan siapa sosoknya
itu di luar kendali manusia, tapi kita bisa mengupayakan untuk memantaskan diri
sebaik-baiknya sebagai perempuan. Sahabatku yang notabenenya banyak yang sudah
menikah menguatkan, justru karena masih lajang, banyak-banyak belajar dan
menikmati bahagia dengan diri sendiri. Masa penantian akan selalu ada dalam
fase hidup ini. Ada perempuan sepertiku yang dalam masa penantian jodoh, ada
perempuan dan pasangan hidupnya dalam masa penantian buah hati, ada perempuan
dan keluarganya dalam masa penantian punya rumah sendiri, dan seterusnya dalam
banyak konteks kehidupan. Jadi, berapapun usianya, perempuan akan selalu ada
masa penantian.
Aih, aku
tak merasa sendiri. Aku bersyukur berada di circle persahabatan yang saling
mendengarkan, mendukung, dan menguatkan. Ada banyak hal dalam hidup ini yang
patut disyukuri, bukan? Tak terkecuali masa penantian ini. Ya, aku hanya perlu terus belajar di masa penantian ini.

Komentar