Perempuan dan Masa Penantian

 Perempuan dan Masa Penantian

Picture from Unsplash

Perempuan tidak tertekan oleh kelajangannya, ia tertekan oleh pandangan dan perlakuan orang-orang sekitarnya terkait kelajangannya.” Kutipan dari buku ‘Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan.’

Kamu kalah dari dia (adik kelas), dia sudah menikah lebih dulu”. Komentar salah satu tetangga terhadapku. Ucapan itu terngiang di telinga hingga masuk ke hatiku sampai saat ini. Aku tidak sakit hati lagi, karena aku tahu maksudnya tidak ingin menyakiti hatiku, melihat ekspresinya itu obrolan basa basi yang sebenarnya mungkin ingin menyampaikan kepeduliannya terhadapku. Hanya saja caranya dengan melontarkan komentar yang melukai hati. Ucapan itu terngiang, mengapa aku dianggap kalah hanya karena belum menikah? Sejak kapan pernikahan itu menjadi ajang perlombaan antar perempuan?

Kamu terlalu pemilih, semakin tua, nanti semakin sulit jodohnya.” Komentar lain yang pernah kudengar. Namun saat itu aku mengabaikannya. Awalnya aku tak terlalu memikirkannya meski pada akhirnya juga terngiang di dalam pikiran dan itu memunculkan rasa takut di bagian hatiku.

Beberapa waktu yang lalu aku menonton film Pride and Prejudice, ada adegan dalam film itu di mana tokoh utama Elizabeth Bennet yang diam-diam dijodohkan oleh ibunya dengan seorang laki-laki yang mencari pasangan hidup. Saat dilamar laki-laki itu, dia menolaknya karena memang tidak sesuai dengan kata hatinya. Namun sang Ibu kecewa dan marah pada sang anak. Sang anak tetap bersikukuh tidak menerima lamaran si laki-laki karena dia punya alasan mengapa tidak menerimanya meski sang Ibu memaksa. Elizabeth Bennet kemudian mendapat dukungan dari ayahnya untuk mengikuti kata hatinya.

Seperti mengaca, kisah itu mengingatkan pada pengalamanku sendiri. Hampir sama kisahnya, hanya saja aku sudah tidak ada sosok ibu, ayahku yang kecewa karena aku tidak menerima laki-laki yang diam-diam dijodohkan ke aku. Aku sudah berusaha menerima untuk taaruf karena aku menghargai usaha ayah. Namun setelah dijalani dan karena suatu alasan yang berat, aku memutuskan untuk tidak menerimanya. Awalnya ayah terlihat sangat kecewa, karena beliau berharap anak gadisnya segera menikah mengingat sudah berusia dewasa dan matang. Ah, aku juga ikut sedih saat itu, aku sempat menangis dan mengurung diri di kamar. Namun akhirnya aku bicara baik-baik pada ayah dan menyampaikan mengapa aku memutuskan itu, dan akhirnya ayah pasrah padaku.

Aku bukan perempuan yang tidak ingin menikah. Aku justru ingin menikah untuk satu tujuan mulia dalam hidup ini, yaitu ibadah. Aku juga bukan perempuan yang hanya menanti dan berpangku tangan, tapi aku berniat dan juga  berikhtiar bertemu pasangan hidup yang baik. Setiap hari aku menguatkan diri untuk tidak menyerah dan berusaha menyiapkan dan memperbaiki diri. Aku sadar, tak ada manusia yang sempurna, aku pun perempuan yang tak sempurna. Namun untuk urusan pasangan, bukankah kita tak sepatutnya sembarang dan gegabah memilih hanya karena usia?

Seiring waktu aku merefleksikan diri. Menanyakan kembali apa yang kuharapkan dalam hidup ini, tak terkecuali memilih pasangan hidup. Menelisik kembali apa yang perlu kuperbaiki. Ada masa-masa di mana aku sangat tertekan menjalani hari karena overthinking dan mendapat perbandingan dengan capaian orang lain seusiaku yang sudah banyak berumah tangga dan mapan karir. Aku banyak resah karena lama menjalani masa penantian ini.

Di saat-saat seperti itu, yang ingin kulakukan hanya ingin berdoa pada Allah sang Maha Pengatur Hidup. Aku sesak jika terus melihat kanan dan kiri. Aku selalu mendamaikan diri dengan melihat ke atas sana, ke langit yang terbentang luas, atau melempar pandangan ke lautan yang luas, atau mengamati ke bawah dan merasakan tanah serta rerumputannya. Aku berusaha menjaga kewarasan mental. Aku tak ingin berlarut-larut dalam resah hanya karena belum bertemu pasangan hidup.

Beberapa kali kesempatan saat berbagi cerita bersama para sahabatku, sahabatku banyak yang menguatkan tak perlu risau soal jodoh. Kapan waktunya dan siapa sosoknya itu di luar kendali manusia, tapi kita bisa mengupayakan untuk memantaskan diri sebaik-baiknya sebagai perempuan. Sahabatku yang notabenenya banyak yang sudah menikah menguatkan, justru karena masih lajang, banyak-banyak belajar dan menikmati bahagia dengan diri sendiri. Masa penantian akan selalu ada dalam fase hidup ini. Ada perempuan sepertiku yang dalam masa penantian jodoh, ada perempuan dan pasangan hidupnya dalam masa penantian buah hati, ada perempuan dan keluarganya dalam masa penantian punya rumah sendiri, dan seterusnya dalam banyak konteks kehidupan. Jadi, berapapun usianya, perempuan akan selalu ada masa penantian.

Aih, aku tak merasa sendiri. Aku bersyukur berada di circle persahabatan yang saling mendengarkan, mendukung, dan menguatkan. Ada banyak hal dalam hidup ini yang patut disyukuri, bukan? Tak terkecuali masa penantian ini. Ya, aku hanya perlu terus belajar di masa penantian ini.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menemukan Teman dan Klub Baca Buku

Agustusan Tidak Sekedar Lomba

Cita-Cita Tak Pernah Mempersoalkan Usia