Bermain Dengan Buku

 Bermain Dengan Buku

Sebuah Refleksi Diri untuk Kembali Berinteraksi dengan Buku

Hari yang sibuk selalu menjadi alasan untuk tidak membaca buku. Setiap kali pulang dari rutinitas mengajar, rapat, dan menyelesaikan segala administrasi, bukan buku lagi sebagai teman rehat. Tapi lagi-lagi ponsel dan media sosial yang masih mendominasi untuk menghilangkan penat. Hampir dua minggu aku merasa bersalah dengan buku-bukuku yang biasanya aku sapa setiap hari dengan penuh perhatian, akhir-akhir ini aku abaikan. Aku juga mengabaikan diriku yang ingin sekali membaca buku walau sebentar namun seringnya berujung pada scrolling media sosial hingga tertidur. Bahkan paling merasa bersalah adalah ketika para ponakanku menghampiriku ingin dibacakan buku yang biasanya aku lakukan bersama mereka, namun beberapakali aku menolaknya karena alasan capek dan butuh me time. Aku akui, awal Agustus ini adalah hari-hari yang padat.

Aku merefleksikan diriku. Adakalanya aku tidak terlalu menyesal waktu rehat ku buat scrolling media sosial, karena seringkali juga aku menemukan banyak inspirasi dari sana. Namun masalahnya adalah aku terlalu lama menghabiskan waktu yang biasanya aku enjoy dan bersemangat kugunakan untuk membaca buku, semua teralihkan pada scrolling media sosial. Aku tak ingin berlarut dengan hal itu, aku putuskan untuk mencari cara bagaimana aku bisa kembali enjoy berinteraksi dengan buku. Dan saat aku melihat tumpukan buku-buku yang sebenarnya masih proses ku baca, ternyata aku menyadari satu hal. Bahwa mengapa diriku di saat waktu rehat enggan menyapa buku, karena genre dan judul buku yang seakan aku harus baca karena belum selesai itu terlalu berat (kebetulan genre buku non fiksi), yang membuat aku berpikir dua kali untuk membacanya. Tubuhku seakan memberi alarm, waktu rehat seharusnya tak membaca yang berat-berat. Harusnya lebih banyak untuk mencari hiburan biar tidak terlalu stres. Aih, mindset itu membuatku terjebak pada dalih untuk refreshing namun sebenarnya justru membuatku sebaliknya.

Esok harinya setelah aku menjalani rutinitas mengajar, aku sudah merencanakan untuk berkunjung dan berkeliling ke perpustakaan sekolah untuk mencari buku yang membangkitkan gairah membacaku lagi. Setiap hal yang dicari pasti ada jalannya untuk ketemu. Dan aku sengaja menjelajahi rak buku yang berbeda dari biasanya. Aku menjelajahi rak buku anak hingga akhirnya aku menemukan buku fiksi yang berjudul The Tales Of Beedle The Bard; Kisah-kisah Beedle Si Juru Cerita (versi terjemah) karya J.K. Rowling. Aku meraihnya tanpa ragu. Dan setelah membuka lembar demi lembar tak terasa aku membacanya hingga dua judul. Dan perasaan senang tiba-tiba menjalar, aku kembali enjoy berinteraksi dengan buku. Aku kembali menemukan sesuatu yang membuatku terhibur tanpa harus scrolling media sosial. Aku menemukan kembali titik semangat dan senang saat membaca buku, meskipun dalam kondisi lelah. Aku menyadari bahwa sesekali memang perlu mencari judul buku yang membuat diri menjadi refreshing, tak tertekan hanya karena harus membaca buku yang ditergetkan harus dibaca hingga selesai.

Di saat yang sama, masih di jejeran koleksi buku anak, aku menemukan buku berjudul Funtastic Learning with Nabil dan Naura. Buku itu tidak menyuguhkan teks cerita yang singkat maupun panjang. Tapi buku itu full menyuguhkan beragam aktivitas seperti mencocokkan gambar dan warna, menyebutkan nama-nama benda pada gambar, memecahkan puzzle, memasangkan gambar dengan bayangannya, mengikuti gerakan pada gambar di buku, menggambar sesuai petunjuk bukunya, dan banyak lagi petunjuk aktivitas di buku itu. Lagi-lagi aku tak terasa asyik bermain dengan buku. Sampai aku menyadari lucunya diriku yang ternyata butuh buku genre anak-anak untuk enjoy dan semangat lagi membaca. Haha

Aku tak mau berhenti pada diriku setelah membaca dua buku itu, esoknya aku mengajak murid-muridku dan ponakanku juga untuk bermain dengan dua buku itu, terutama buku Funtastic Learning. Mereka sama denganku, seakan menemukan dunia yang asyik di buku, yang tidak melulu harus di gadget, yang tidak melulu di media sosial. Dan membaca bukan melulu harus membaca teks, tapi juga bisa beraktivitas dengan buku yang full gambar.

Saat rasa semangat dan senang berinteraksi dengan buku sudah tumbuh kembali di dalam hati, aku perlu terus merawatnya dengan setiap hari minimal membaca buku 10 menit.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menemukan Teman dan Klub Baca Buku

Agustusan Tidak Sekedar Lomba

Cita-Cita Tak Pernah Mempersoalkan Usia