Suara Diri di Akhir Januari
Sudah pekan terakhir bulan Januari
Waktu terasa melesat sekali
Hujan lagi riang-riangnya membasahi bumi
Kadang membuat kepala ramai
Kadang membuat hati sunyi
Alih-alih melawan sepi
Kuambil buku puisi yang tersimpan rapi di lemari
Kubuka dan kutimang setiap diksi
Kuresapi setiap makna yang terpatri
Ada kata yang menghibur hati
Ada kata yang membuka memori
Ada kata yang mengingatkan pada mimpi
Dan banyak kata yang sama sekali tak kumengerti
Tapi terus kubaca dengan hati-hati
Hingga aku tak lagi merasa sendiri
Hari terus berganti
Aku terus berusaha memeluk diri
Dengan rengekan doa yang tak pernah usai
Sesekali bersama liarnya imajinasi
Kutatap langit nun di atas sana
Minggu kemarin mentari tampakkan wajah
Aku duduk di teras rumah
Sambil bersua dengan senja
Aku senang ia kembali menyapa
Hatiku riang melihat langit kembali cerah berwarna
Setelah banyak hari tampak abu-abu saja
Aih
Kadang kita memang perlu jeda
Untuk kembali merasakan momen terasa istimewa
Kadang kita perlu ingat, bahwa waktu selalu menggulirkan antara suka dan duka
Bahwa tak apa sedih, karena akan ada bahagia
Bahwa tak apa bersenang-senang, tapi juga siap dengan hal yang membuat gamang
Dua hari aku sengaja melambat
Dengan sentuhan sinar mentari yang hangat
Dengan semilir angin yang lembut dan cicitan burung yang memikat
Aku lalui terjalnya jalanan yang berat
Bukan sok kuat
Hanya melatih diri untuk mudah mensyukuri segala nikmat
Namun sepertinya Januari masih ingin kembali dengan hujannya
Aku juga kembali dengan hujanku
Bahkan badai terus berputar di kepala
Dan yaa, itu tak apa
Karena pada akhirnya semua akan berlalu bersama waktu
Bumi, 26 Januari 2026

Komentar