Berkawan dengan Hujan
Entah pagi yang ke berapa bangunku disambut suara rintikan gerimis. Yang awalnya berirama lembut kemudian perlahan demi perlahan berubah semakin kencang. Suara adzan subuh kini tak bergema sendirian, ia diiringi irama tetesan air hujan.
Aku tak berat membuka mata setelah terlelap dalam nyenyak. Hanya saja tubuhku ingin lanjut dalam balutan selimut yang hangat. Hawa dingin terlalu kuat menyergap hingga membuatku enggan untuk segera beranjak. Aku menatap detik jam terus berjalan. Dan ia terus berjalan hingga menyadarkanku bahwa aku sudah banyak menyia-nyiakan waktu dalam nyaman.
Aku masih mendengar gema pujian salawat dari speaker masjid dan tetesan air hujan berpadu merdu. Playlist yang tak kan kutemukan di youtube atau spotify. Tak terasa aku ikut bersenandung sambil memeluk diri mengusir dingin. Namun sepertinya dingin enggan pergi, apalagi ditemani angin. Jadi aku hanya perlu melawannya dengan terus bergerak.
Hujan bertahan mengiringi senin pagi. Menemani orang-orang yang sibuk pergi.
Aku menatap langit yang tampak kelam. Memandangi lampu jalanan yang masih menyala seperti waktu malam.
Mentari sama sekali tak menyapa. Tetesan air hujan tak henti membasahi tanah. Tiba-tiba ada rasa enggan untuk melangkah, ada rasa tak ingin terkena basah. Namun hujan tak bisa menjadi alasan untuk menetap di rumah.
Aku sudah sedikit belajar membaca alam. Kita tak bisa kendalikan hujan turun kapan. Tapi awan pekat selalu mengajak kita untuk sedia payung sebelum hujan. Sedia jas hujan dalam perjalanan. Sedia doa dan usaha sebelum giliran kita akan datang.
Hatiku kemudian berbisik dengan tenang, kau hanya perlu berkawan dengan hujan. Kau tak perlu menghindarinya. Kau hanya perlu berjalan bersamanya.
Akhirnya aku memilih untuk menari bersamanya sambil bersenandung ria. Menikmati basahnya. Melaju bersama irama tetesannya.
Perjalanan+hujan selalu bisa membuatku tenggelam dalam renungan dalam. Ketika sejenak kuhentikan lajuku, aku membiarkan diri mengamati orang lalu lalang di jalanan, sama-sama mendekap dingin di antara tetesan air hujan. Dengan sambil berharap akan sampai pada tujuan dan menemukan kembali sebuah kehangatan. Aih, aku berada di antara banyak orang yang berkawan dengan hujan. Aku satu di antara jutaan orang yang tak menyerah dengan keadaan. Aku satu di antara orang yang terus maju untuk sebuah tujuan.
Ya, jika kita terus melaju, kita akan sampai pada tujuan tak peduli seberapa deras hujan dan mencekamnya jalanan. Hujan hadir dengan berbagai perasaan, tapi dia selalu memberi warna pada hidup kita. Langit sudah kelam, mari kita jadikan hujan sebagai kawan dan warnai hari kita.
Terima kasih sudah membaca tulisan ini. Semoga menginspirasi. ❤️

Komentar