Kita Hanya Hamba

 Catatan Sepuluh Hari Terakhir Ramadan


Sepuluh hari terakhir Ramadan selalu terasa lebih istimewa. Istimewa karena di dalam sepuluh malam terakhir bulan Ramadan ada momen Lailatur Qadar yang dirahasiakan kapan persis terjadinya. Namun justru karena tidak dijelaskan pasti kapan terjadinya, kita sebagai muslim perlu berupaya untuk meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah sepanjang hari. Dan bukan semata ingin mendapat momen Lailatul Qadar, tapi berkelanjutan menjadi bagian dari hidup kita untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah. Salah satunya adalah dengan membiasakan diri setiap hari membaca al-Quran. Dan tentu banyak bentuk ibadah lainnya.

Pada sepuluh hari terakhir Ramadan, saya fokus melakukan aktivitas di rumah. Beberapa kali saya menyimak video pengajian Tafsir Al-Misbah oleh Abi Quraish Shihab dan bu Najelaa Shihab di youtube untuk mengisi waktu. Salah satu topik yang saya simak adalah tentang doa. Dan salah satu doa yang dianjurkan selama bulan Ramadan ini adalah doa yang berbunyi “Allahumma Innaka ‘Afuwwun Kariim, Tuhibbul ‘Afwa Fa’fu ‘Anna ya Kariim”. Doa minta ampunan kepada Allah. Alhamdulillah saya rutin membacanya. Ketika lupa pun, saya selalu diingatkan dengan lantunan-lantunan dari pengeras suara masjid atau musala saat lima waktu salat. 

Saya sempat bertanya-tanya, mengapa doa minta ampunan yang dianjurkan Nabi saat bulan Ramadan. Tapi kemudian saya menyadari bahwa manusia tempatnya salah dan lupa. Sebaik apapun, manusia selalu punya salah. Iman manusia biasa juga naik dan turun. Maka pantas memang di bulan suci ini kita perlu berusaha menyucikan diri dengan terus minta ampunan kepada Allah.

Pernah di titik malu sama Allah karena melakukan kesalahan besar pada orang lain, saya beranikan diri untuk minta maaf pada orang tersebut, namun rasanya ada yang kurang. Saya berdoa pada Allah, dan juga minta ampunan-Nya karena tak sengaja menyakiti perasaan hambaNya yang lain. Dalam video yang saya simak, Abi Quraish Shihab menjelaskan bahwa kalau kita sudah mendapat pemaafan atau ampunan dari Allah, terhapus segala dosa dan kita otomastis masuk surga. Ya, kita usahakan ampunan Allah itu di hari-hari terakhir Ramadan ini.

Selain menyimak video pengajian Tafsir Al-Misbah, selama sepuluh terakhir Ramadan saya juga menghabiskan waktu untuk membaca buku. Sempat bingung mau membaca buku apa. Namun akhirnya saya membaca kembali buku yang berjudul ‘Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya’ yang ditulis oleh Rusdi Mathari. Buku yang berhalaman 226 ini menceritakan kisah sufi Cak Dlahom dari Madura. Setiap judul kisahnya sungguh dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari. Apalagi latar belakangnya di sebuah kampung dengan khas masyarakatnya. Banyak sekali pesan yang disampaikan Cak Dlahom setiap kali menanggapi peristiwa di kampungnya. Saya akan mengutip perkataan Cak Dlahom dalam buku itu yang membuatku merenung panjang.

“Kasih sayang Allah itu untuk seluruh alam, Mat. Untuk seluruh makhluk, tapi manusia sering mengingkarinya. Ketika mereka sakit, mereka berdoa untuk minta disembuhkan. Ketika mereka melarat, mereka berdoa agar diberi kesejahteraan. Ketika kemarau mereka berdoa meminta hujan. Ketika hujan mereka lari menghindar. Doa mereka penuh nafsu. Mereka berdoa karena nafsu.”

“Padahal ketika mereka sakit, ketika mereka melarat, ketika diberi kemarau, ketika diberi hujan, boleh jadi itulah waktu dan kesempatan bagi mereka untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah. Tapi  mereka tidak paham. Mereka menganggap musibah sebagai cobaan. Mereka tidak menyadari, musibah sebagai anugerah.”

Kalimat yang saya kutip di atas, membuatku merefleksikan diri selama ini. Saya akui, bahwa selama ini saya berdoa karena nafsu. Saya meminta ini, saya meminta itu. Tapi saya sadar bahwa saya meminta kepada Allah yang Maha Mendengar dan Maha Kuasa. Ah, mungkin saat ini saya masih berdoa karena nafsu, saya manusia yang saat sakit, saya berdoa minta segera disembuhkan. Saat keadaan sulit, minta lekas dimudahkan. Saat musim terasa panas, minta semoga hujan kembali datang. dan saya akhiri doa-doa penuh nafsuku itu dengan doa  Allahumma Innaka ‘Afuwwun Kariim, Tuhibbul ‘Afwa Fa’fu ‘Anna ya Kariim”.

 Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf, dan Engkau suka memaafkan, maka maafkanlah saya.

Maafkanlah hamba-Mu ini yang masih berdoa karena nafsu. Sebagai hamba, saya meminta apa-apa pada-Mu, ya Allah. Saya berharap hanya pada-Mu. Karena saya tahu, saya hanya hamba dan Engkau Tuhanku yang Maha Baik.


Terima kasih sudah membaca tulisan ini. Semoga menginspirasi. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menemukan Teman dan Klub Baca Buku

Agustusan Tidak Sekedar Lomba

Mimpi Bukan Kata Benda Tapi Kata Kerja