Dengan Menulis, Aku diPilih
Tulisanmu
dipilih. Kalimat itu tidak hanya membuatku senang, tapi membuat diriku kembali
bermakna. Kembali utuh. Kembali penuh. Setelah beberapa waktu hati terkikis
oleh rasa sedih dan khawatir membayangkan jika tak ada seorang pun yang akan
memilihku. Aku sempat patah hati dengan harapanku sendiri soal jodoh. Di usia
yang semakin bertambah, semakin
bertambah pula harapan untuk bertemu pasangan hidup yang saling mencintai dan
melengkapi. Dan di momen aku benar-benar merasa tak dipilih oleh siapapun, tiba-tiba
ada tiga notifikasi bahwa tulisan-tulisanku telah dipilih. Notifikasi itu
dikirim dan kuterima seakan Tuhan menghibur dan menguatkan hatiku yang sedang
tidak tentu arah.
Tahun lalu
hingga sekarang, aku benar-benar mendorong diri untuk tak berhenti menulis.
Menulis apapun, dipublikasikan atau disimpan. Karena aku tahu, dengan menulis aku
lebih bisa mendengarkan suara diri. Dengan menulis aku bisa pulih, bisa kembali
merasa dan berpikir jernih.
Salah satu
yang pernah kutulis adalah praktik baik tentang budaya sekolah tempatku mengajar.
Tulisan-tulisan itu kemudian aku kirim ke sebuah Surat Kabar. Ada tulisan yang
berhasil lolos kurasi dan dimuat di salah satu edisi Surat Kabar Guru Belajar. Tulisan
itu dibaca banyak orang di luar sana. Dan seiring waktu, aku tak terlalu
mengingat tulisan itu. Hingga suatu waktu ada chat WhatsApp masuk dari salah
seorang kawan guru, mengabarkan bahwa tulisanku adalah salah satu tulisan yang
dipilih untuk dibedah dan jadi bahan diskusi pada pertemuan guru di daerahnya. Aku
senang mendengarnya. Meski sudah lama aku menulisnya, tapi tulisan itu bisa relevan
dan jadi bahan belajar orang-orang di luar sana yang seprofesi. Dan karena itu,
aku kemudian diundang menjadi salah satu pembicara sebagai teman belajar
mereka.
Tak
berselang lama, kawan lama yang kukenal dari pertemuan kegiatan literasi tiba-tiba
juga mengirim pesan padaku. Dia mengabarkan bahwa menemukan tulisan lamaku di
sebuah buku antologi. Dari sekian tulisan, dia juga memilih membaca kembali
tulisanku. Aku senang dan berterima kasih padanya karena sudah membaca tulisan
lama itu.
Mendapat
dua kabar itu, sejenak kulupakan rasa sedihku. Aku fokus pada hal-hal yang membuatku
kembali merasa berharga dan bermakna. Aku berusaha lebih tenang. Aku mencoba
menata ulang hati untuk lebih terarah. Tidak banyak cemas pada hal-hal yang
belum terjadi dan di luar kendali. Saat hati mulai perlahan kukembalikan utuh,
ada satu notifikasi dari Medium yang belum kubuka. Sampai ketika aku
membukanya, namaku disebut dalam sebuah tulisan yang berjudul "Laporan Cermin Refleksi dengan
Pantulan Paling Murni" dari penulis Kak dhea.m. Aku pelan membaca tulisan itu, hingga
sampai di kalimat yang menyatakan bahwa tulisan refleksiku dibilang teruji
sebagai tulisan “Pantulan Paling Murni”, aku bersyukur. Itu membuat hatiku
semakin utuh menatap diriku sendiri bahwa aku bukan tidak dipilih, aku dipilih!
Karena
sudah dipilih, bukan berarti aku berhenti. Itu justru membuatku harus terus
belajar dan lebih konsisten menulis. Dan tidak lagi hanya karena ingin dipilih
orang lain, tidak sekedar ingin diakui, tapi aku ingin memilih diriku sendiri
untuk terus berkarya selama aku bisa. Aku sadar bahwa hidup selalu soal
pilihan, dan kita berani jujur atau tidak dengan pilihan-pilihan itu.
Sebagai
penutup, aku memilih satu kutipan dari penulis Ibrahim Elfiky yang juga
membuatku merasa dipilih;
“Setiap
orang harus menerima dirinya seperti yang ia lihat. Juga mencintai dirinya
dalam keadaan apapun.”
Terima
kasih sudah membaca tulisan ini. Semoga menginspirasi. ❤️

Komentar