Romantisnya Kumandang Sahur.. Sahur.. Sahur!
Ramadan telah datang. Ia adalah satu-satunya bulan yang menciptakan suasana berbeda selama satu bulan penuh. Puasa tidak menghalangi aktivitas sehari-hari. Justru kedatangannya membuat kita lebih memprioritaskan beberapa kegiatan ibadah lain, seperti salat tarawih, membaca al-Quran (tadarus), menyimak pengajian, makan sahur, berbuka puasa, dan lain-lain. Dan hampir banyak muslim sudah terbiasa dengan itu. Meski di awal butuh penyesuaian diri.
Sebagian orang mungkin terbiasa bangun sepertiga malam atau dini hari sebelum subuh. Namun, sebagian yang lain tidak terbiasa. Ketika bulan Ramadan, maka banyak muslim akan membangun kebiasaan untuk bangun pada sepertiga malam atau sebelum subuh untuk sahur. Dan beruntungnya saya tinggal di desa atau kampung yang memiliki tradisi ada alarm membangunkan sahur warganya melalui pengeras suara masjid atau musala. Dan banyak di bagian-bagian daerah di Indonesia memiliki tradisi serupa.
“Sahur… Sahur… Sahur… Sampun jam tigo, monggo sedoyo masyarakat saged bangun sahur. “
Itu sedikit cuplikan suara bapak-bapak mengumandangkan alarm sahur untuk warga desa. Saya sering terbangun ketika mendengar suara kumandang itu, hanya saja saya kadang tidak langsung bangun karena saya berpikir waktu sahur masih panjang. Ketika saya kembali tidur, setengah jam lagi saya dibangunkan kumandang membangunkan sahur lagi.
“Sahur… Sahur… Sahur… Sampun jam setengah sekawan, monggo sedoyo masyarakat enggal-enggal sahur.”
Kalimat itu diulang tiga kali. Dan itu membuatku bangkit untuk segera bersiap makan sahur. Tentu anggota keluarga yang lain sudah bangun terlebih dahulu. Bukan tidak ada yang ingin membangunkanku, tapi kumandang membangunkan sahur sudah cukup mengingatkan kami sekeluarga untuk sahur.
Selang beberapa menit, kembali terdengar:
“Sahur… Sahur… Sahur… Sampun jam sekawan kirang gangsal menit, monggo sedoyo masyarakat enggal-enggal sahur. Imsak jam sekawan langkung sedoso menit, Ingkang dereng sahur, enggal-enggal sahur. Sahur… Sahur… Sahur…”
Entah mengapa saya tiba-tiba tersenyum mendengarnya. Rasanya romantis sekali dibangunkan dan diingatkan dengan cara seperti itu. sebagai bagian dari warga desa, saya merasa diperhatikan, merasa bahwa itu adalah bentuk kepedulian sebagai sesama warga desa supaya kita semua tidak bablas ketiduran sehingga tidak sahur. Bisa saja masing-masing individu memperhatikan jam imsak dan mengatur waktu makan sahurnya masing-masing, namun kumandang alarm sahur dari masjid dan musala itu bukan sekedar membangunkan, tapi juga tanda bahwa kita memang perlu saling mengingatkan.
Dalam benak, aku berucap Alhamdulillah masih ada orang yang sukarela melakukan hal seperti itu.
Tampak biasa dan sederhana dilakukan, namun jika disadari lebih dalam, itu sungguh hal yang mulia dan mengesankan. Setidaknya mengesankan bagiku yang kadang suka meromantisasi hal-hal sederhana dalam hidup ini. hehe
Waktu imsak tiba, lantunan surah ar-Rahman mulai berkumandang menandakan bahwa tidak lama adzan subuh akan menyusul dikumandangkan. Sembari menunggu waktu subuh, ingatanku terlempar pada salah satu video yang pernah kulihat di media sosial, dalam video itu menceritakan tentang seseorang yang merasa rindu tinggal di kampung Indonesia setelah dia pindah di Jepang. Salah satu hal yang dirindukan adalah ramainya suasana kampung dengan kumandang adzan lima waktu salat, ditambah ketika bulan Ramadan seperti ini, ramai tadarus al-Qur’an di segala penjuru desa. Belum lagi lantunan pujian salawat yang syahdu menemani suasana ibadah puasa. Dan aku menyadari bahwa semua itu sungguh indah. Suasana yang sungguh patut disyukuri berada di lingkungan yang mengingatkan kita betapa istimewanya kumandang adzan, lantunan Qira’ al-Quran, pujian salawat, dan alarm membangunkan sahur.

Komentar