Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2020

Bayangan Ibu

Bayangan Ibu Oleh : Siti Rodliyah Kisah sedih anak yang ditinggal ibunya meninggal mungkin sudah biasa, tapi itulah kisah yang aku rasakan. Aku tidak akan menceritakan bagaimana sedihnya diriku saat ditinggal ibu tercinta. Bagaimana rasanya dunia seakan runtuh saat menyaksikan jasad ibu terbujur kaku. Bisa dibayangkan betapa sedihnya keluarga yang ditinggal selama-lamanya oleh seorang yang disayangi, apalagi seorang ibu. Bisa dibayangkan bagaimana keadaan rumah tanpa seorang perempuan yang terampil mengatur segala pernak-perniknya. Bisa dibayangkan pula seorang gadis remaja yang mulai menginjak belajar untuk bersikap dewasa kemudian tiba-tiba tertimpa ujian untuk langsung bersikap dewasa karena sang ibu yang biasanya menemani perjalanan gadis remaja tapi justru tidak ada di sampingnya. Ya, semua itu bisa dibayangkan, dan sangat dirasakan bagi mereka yang senasib. Aku ingat betul memori itu, memori yang sangat kuat hingga masih tertancap sampai aku menjadi perempuan dewasa dan mand...

Santri Berkarya Di Rumah Aja

Santri berkarya di rumah aja, kenapa tidak? Opini oleh Siti Rodliyah, S.Ag Kerja atau belajar di rumah aja di tengah pandemi ini adalah pengalaman pertama banyak orang. Kurang lebih satu bulan sudah masa ini terlalui. Dan hampir banyak orang mengharapkan pandemi ini segera berakhir dan mulai melakukan aktivitas seperti biasa. Meski tak dipungkiri, sebagian kita beraktivitas di rumah aja juga hal yang menyenangkan. Apalagi para santri yang biasanya senang libur di rumah atau pulang, he. Saya tidak akan panjang bicara tentang 'masa pandemi Corona', namun ada kaitannya. Karena saya juga mengalami masa kerja dan belajar di rumah aja saat ini. Saya ingin cerita pengalaman saya sebagai salah satu santri pondok al Anwar 3 putri. Biasanya kalau di rumah aja dan sudah ada aktivitas terjadwal jam kerja dan belajar online, mungkin saya bisa konsisten membuka-buka bacaan yang ada kaitannya dengan kerja, atau mungkin yang mahasiswa tentang materi kuliahnya. Namun biasanya kalau tidak ...

Puisi di Hari Puisi

*Di balik Pintu* Di balik pintu hari ini.. Ada sinar mentari yang tak silau Angin berhembus yang tak membelai Kicauan burung sayup-sayup Dan dedaunan berembun setitik Ingin rasanya menikmati udara di balik pintu Tapi pintuku masih tertutup erat Dan terlanjur enggan melepas mimpi Pintuku masih tertutup Tak mengizinkanku merebak angan Tak terkunci memang Tapi di luar sana sedang tak baik-baik saja Hingga pintuku teriak keras Cukup dibalikku saja Lihat dan pegang mimpimu Gerakkan tubuh dan pikiranmu mengikuti cita Aku hanya tertunduk lesu Dan menatap harap Bahwa dibalik pintu sana Akan baik-baik saja Dan jiwa manusia juga baik-baik saja.. Apalagi di bulan yang suci nan bersahaja Ramadhan yang tak biasa Namun doa dibalik pintu tak kan terputus dengan mudahnya... Bulu, 28 April 2020

Puisi Ulang Tahun ke 25

Gadis kecil yang pulang Layar yang tampak dari kejauhan itu Membuat gadis kecil menatap terpaku Di tepi pantai yang riuh Ombak bergulung menghampirinya Dan perlahan menjauhinya Begitu seterusnya... Gadis kecil dengan gaun baru Tersenyum melihat mata sayu dari jauh Mendekatinya dengan mengulum senyum indah Hingga terlihat tangan yang tak lagi kekar menggandeng tangan kecilnya Namun gadis kecil lekas melepas genggaman tangan hitam legam itu Menatap mata sayunya untuk memohon diizinkan pergi Tak lama... Cuma sebentar untuk bermain-main bersama teman kecil lainnya Sekali mendapat anggukan.. Gadis kecil itu menjauh pergi dan berlari Bersenang-senang dengan teman mainnya Gadis kecil itu terlalu lama bermain Hingga dia mencari-cari genggaman tangan itu lagi Dia ingin kembali menunggu di tepi pantai Namun ada teman yang mengajaknya kembali ke taman bermain Tamannya indah... Gadis kecil itu menyukainya Dia betah berlama-lama menikmati keindahan taman itu Bersama o...

PELAJARAN HIDUP DARI KISAH ANAK JALANAN

Lama tak menuliskan perasaan dan ide di blog ini. Saya memang selalu seperti ini. Kurang konsisten dan memegang target. Selalu saja tercecer ide2 dan kemudian menjadi puing-puing penyesalan dan menyesakkan pikiran. Karena ide hanya tertumpuk di kepala saja. Dan saat mulai beraksi menulis seperti ini, godaan luar biasa mendera. Malas. Ya itu, sangat membuatku benci karena seringkali seperti itu.  Namun saya juga sangat bertanggung jawab atas tugasku. Sebisa mungkin saya melaksanakan tugas pekerjaan dengan sepenuh hati dan pikiran. Di pertengahan April 2020 ini, masih di tengah Pandemi virus Corona. Sebenarnya saya mulai tenang atas wabah ini semenjak di rumah. Kerja di rumah. Meski kewaspadaan tetap ada. Karena saya yakin dengan menjaga sosial dari orang2 yang terpapar virus Corona, virus itu tidak akan sampai di masyarakat kami. Semoga saja tidak meluas dan segera berlalu virus Corona ini. Aktivitas di rumah bersama keluarga tak membuatku adaptasi terlalu lama. Karena di rum...