PELAJARAN HIDUP DARI KISAH ANAK JALANAN
Lama tak menuliskan perasaan dan ide di blog ini. Saya memang selalu seperti ini. Kurang konsisten dan memegang target. Selalu saja tercecer ide2 dan kemudian menjadi puing-puing penyesalan dan menyesakkan pikiran. Karena ide hanya tertumpuk di kepala saja. Dan saat mulai beraksi menulis seperti ini, godaan luar biasa mendera. Malas. Ya itu, sangat membuatku benci karena seringkali seperti itu.
Namun saya juga sangat bertanggung jawab atas tugasku. Sebisa mungkin saya melaksanakan tugas pekerjaan dengan sepenuh hati dan pikiran. Di pertengahan April 2020 ini, masih di tengah Pandemi virus Corona. Sebenarnya saya mulai tenang atas wabah ini semenjak di rumah. Kerja di rumah. Meski kewaspadaan tetap ada. Karena saya yakin dengan menjaga sosial dari orang2 yang terpapar virus Corona, virus itu tidak akan sampai di masyarakat kami.
Semoga saja tidak meluas dan segera berlalu virus Corona ini.
Aktivitas di rumah bersama keluarga tak membuatku adaptasi terlalu lama. Karena di rumah saya selalu bisa melakukan hal2 yang saya senangi meski sekarang ada jam kerja.
Saya masih suka menulis puisi di saat2 tertentu. Saya masih suka membaca novel yang ceritanya menarik. Saya masih suka dengan tantangan menulis. Dan target saya tidak muluk-muluk. Saya menargetkan setiap hari harus ada kegiatan membaca buku atau menuliskan perasaan dan ide. Pun hanya satu menit dalam sehari. Sudah lama saya membaca novel yang berjudul Street boys. Buku yang saya beli di toko buku Rembang awal bulan lalu. Buku yang menarik perhatian saya. Buku yang menceritakan kisah nyata 7 anak jalanan yang berjuang melawan kerasnya kehidupan. Saya ingin bercerita tentang buku ini, mungkin bisa dikatakan review buku. Tapi entah juga. Saya berpikir, bahwa sayang jika buku ini tidak saya ceritakan dan tuliskan.
Pertama kali yang saya baca dari buku ini adalah kalimat yang ada di sampulnya, '... Buku bermisi bagus karena memotret sisi baik anak-anak jalanan yang biasanya terabaikan.' Dari The London Paper.
Kalimat itu menggerakkan hati saya untuk menyentuhnya dan saya bawa pulang. Untuk kemudian saya selami kisahnya. Cukup menguras pikiran dan emosi saat membaca rangkaian kisah anak jalanan di buku ini. Dan jauh dari bayangan saya akan kehidupan jalanan yang ada di negara Inggris sana. Namun entah kenapa setiap sub judul buku ini, membuatku semakin ingin tahu kisahnya.
Semakin tertarik lagi saat saya membaca kalimat prakata dari 'Jaja', salah satu tokoh yang diceritakan dalam buku ini.
Awal kalimatnya seperti ini, 'buku ini mewakili suara dari jalanan. Suara yang tak didengar. Inilah yang terjadi ketika kau mengabaikan suara2 tersebut, ketika kau meninggalkan anak-anakmu di luar sana tanpa bantuan maupun dukungan, tanpa pilihan atau apapun juga.'
Kalian tahu apa yang saya pikirkan setelah membaca kalimat itu?
Pikiranku langsung terpusat pada anak-anak. Ah, mungkin juga saat ini saya berkecimpung di dunia pendidikan anak-anak. Jadi secara alami mindset saya ke arah sana. 7 anak jalanan itu terdiri dari Jaja, Phat si, Bloods, Inch, Birdie, Ribz, dan Tempman.
Mereka adalah anak-anak yang sejak usia dini sudah hidup di jalanan karena broken home. Karena keluarganya mereka yang berantakan. Karena kehidupan mereka yang miskin. Ada pula yang keluarganya mampu, namun lebih memilih kehidupan jalanan karena merasa nyaman dengan kawan jalanan yang penuh perhatian dan menerima apa adanya daripada keluarga sendiri. Kawan jalanan yang lebih memberi rasa keluarga.
Kalian tahu? Saat membaca bagian kisah itu, entah kenapa sesak menyeruak dalam dada saya, pikiran saya juga berkecamuk. Wah, betapa pondasi hubungan manusia pertama adalah di keluarga. Bayangkan saja jika keluarga itu berantakan. Mungkin inilah bagian penting dari pendidikan keluarga.
Dan kalian tahu? Buku ini mengisahkan kehidupan jalanan yang sangat keras, brutal, dan melenceng dari norma2 kebaikan. Maaf saya mengatakan ini, '7 anak jalanan ini beserta banyak kawan2nya menghabiskan masa tumbuh kembangnya dengan narkoba, ganja, seks, merampok, berkelahi, dan bersenjata.
Alasan mereka melakukan seperti itu karena lingkungan mereka menyuguhkan keadaan seperti itu dan untuk mempertahankan hidup. Karena orang tua mereka tak bisa memberikan pilihan hidup yang lain pada mereka.
Mereka terjerumus pada lingkaran negatif di jalanan, lingkungan mereka tinggal.
Dan saat mereka beranjak dewasa pun, 7 anak ini semakin brutal dalam melakukan berbagai kejahatan. Mereka selalu kejar2an dengan polisi karena menjual narkoba. Sehingga suatu kali, Jaja masuk penjara. Jaja adalah ketua geng jalanan yang ada di Angel Town, komplek jalanan mereka. Jaja adalah sosok yang disegani kawan2nya karena pemikirannya yang berbeda. Dia dianggap sosok panutan karena pemikiran dan tindakannya selalu membuat maju kehidupan gengnya.
Saat di dalam penjara karena tertangkap menjual narkoba, Jaja merenungi kehidupannya. Dia berpikir ada yang salah dalam hidupnya. Ya, dalam perenungan itu, akhirnya Jaja memutuskan untuk memperbaiki kehidupannya kelak saat ia keluar dari penjara. Di dalam penjara, ia mulai menyusun rencana dengan kawannya tentang hal positif apa yang akan ia lakukan. Jaja orang berkulit hitam asal Jamaika yang punya passion di bidang musik rap, sehingga di dalam penjara dia mulai punya harapan baru.
Singkat cerita, Jaja dan kawan2nya masuk keluar penjara lagi karena terjebak dengan lingkaran kejahatan lagi. Itu semua memang soal mempertahankan hidup. Namun sosok Jaja sudah punya tekad dan rencana untuk memperbaiki kehidupannya. Saat Jaja masuk penjara entah yang ke berapa kali, Jaja merenungi kembali kehidupannya. Dia berpikir ada yang salah dalam hidupnya. Bukan orang-orang seperti Jaja dan kawan2nya yang salah. Tapi sistem. Ada yang salah dengan sistem. Saat membaca bagian ini, saya pun berpikir, bahwa merenungi hidup dan kemudian berefleksi adalah bagian terpenting. Karena hidup ini memang tak sempurna, iya kan?
Dalam perenungan diri itu, Jaja dan kawannya Ribz bertemu dengan seorang muslim di Penjara. Di situ dia mulai tertarik dengan Islam. Diam2 Jaja mulai membaca tulisan2 Islam dan mendengarkan ceramah2 dari CD yang diputar di penjara. Jaja mulai menemukan titik cahaya Islam yang membuat dia lebih tenang dan mengenal kehidupan yang dia pertanyakan selama ini. Sistem hidupnya yang dia salahkan. Namun, di sini Jaja juga terpapar oleh kelompok Islam yang radikal. Namun untungnya ada kawannya juga yang menunjukkan Islam agama perdamaian. Meski Jaja belum tahu sholat, namun dia sudah memilih menjadi muslim.
'Menurutku, kalau kau ingin menjadi Muslim maka jadilah seorang Muslim. Lebih baik mengenali diri sendiri melalui Islam daripada menjadi bebal'. Itu perkataan Jaja saat dia juga ditawari teman pendetanya untuk memeluk kristen. Namun Jaja selalu menghargai ajakan temannya.
Bagian kisah ini membuat mataku terbuka lebar, bahwa agama apapun sebenarnya memanusiakan hubungan. Namun jika kita menemukan titik nilai Islam yang memanusiakan hubungan, justru di situlah nilai luar biasa agama Islam. Saya kagum dengan sosok Jaja.
Dia adalah satu dari sekian banyak orang yang diberi petunjuk Allah mengenal Islam di saat kehidupannya berada di titik terendah.
Menurutku ini bermula dari pencarian dan perenungan jati diri. Ya ini tentang mengenali diri sendiri.
Sepanjang membaca kisah yang ada di dalam buku ini menguras pikiran dan emosiku. Betapa dunia di luar itu keras. Betapapun aku membayangkan kerasnya mempertahankan hidup atau mencari uang di luar sana, itu hanya bayangan. Karena aku tak pernah benar2 merasakannya.
Ada hal lain yang menarik perhatianku dari buku ini. Ibu Jaja yang seorang single parent dan mengurus 4 anak. Juga berpikir bahwa seorang ibu tetap memikirkan kehidupan anaknya. Apalagi di lingkungan keras. Pada momen yang lebih baik, ibu Jaja, Sharon namanya, menganalisa Jaja dan kawan2nya, bahwa mereka bukanlah anak-anak jahat yang rela berbuat apa saja demi uang. Ia hanya melihat mereka sebagai kumpulan anak-anak yang melawan rasisme, diskriminasi dan pengucilan.
Sharon percaya, sistem pendidikan yang membuat anak-anak seperti anak2nya mengalami kegagalan. Ia ngeri dengan sistem pengajaran yang kaku di sekolah. Pengajaran yang tidak cukup luwes untuk memenuhi kehidupan. Sistem yang merugikan wanita kulit hitam dengan 4 anak di tengah kerasnya kehidupan di Angel Town, Inggris.
Membaca ini saya merasa hal itu cukup menampar pendidikan konvensional yang tidak berkaitan dengan kehidupan sepanjang hayat. Ya, hanya materi.
Saya semakin yakin, bahwa penting menerapkan merdeka belajar dalam pendidikan yang lebih kontekstual.
Ini kisah inspiratif menurutku, karena di akhir kisah buku ini menceritakan perjuangan 7 anak jalanan yang terjebak pada lingkaran negatif, namun juga dari pengalaman negatif itu mereka berjuang memperbaiki setiap keadaan dengan bekerjasama membangun bisnis dan menyampaikan pesan kehidupannya lewat musik. Ya, perjuangan memperbaiki keadaan.
Membaca buku ini harus pintar menangkap pelajaran hidup yang disajikan. Karena buku ini bercerita mengalur sesuai pengalaman hidup para tokoh.
Terakhir, saya ingin menuliskan apa yang saya dapatkan setelah membaca buku terjemahan 'Street boys' ini.
Hidup ini banyak pilihan, jika mau mencarinya. Namun yang membatasi pilihan adalah ketidaktahuan. Sebanyak apa yang kita tahu, sebanyak itulah pilihan hidup kita. Saya juga berpikir, bahwa betapa penting anak sejak usia dini terpapar banyak hal dan arahan pada hal2 positif dari orang dewasa.
Karena kelak saat dewasa akan banyak tahu dan banyak pilihan hidup. Serta memilih hidup dengan bijak.
Sekian tulisan ini, semoga bermanfaat bagi siapa saja yang membaca.
Komentar
Setelah membaca ini, Saya jadi ikut tersentuh juga..
Jadi kepingin baca novelnya juga...
Hihi
Kan kita belanja novelnya barengan ya kemarin😂