Bayangan Ibu

Bayangan Ibu
Oleh : Siti Rodliyah
Kisah sedih anak yang ditinggal ibunya meninggal mungkin sudah biasa, tapi itulah kisah yang aku rasakan. Aku tidak akan menceritakan bagaimana sedihnya diriku saat ditinggal ibu tercinta. Bagaimana rasanya dunia seakan runtuh saat menyaksikan jasad ibu terbujur kaku. Bisa dibayangkan betapa sedihnya keluarga yang ditinggal selama-lamanya oleh seorang yang disayangi, apalagi seorang ibu. Bisa dibayangkan bagaimana keadaan rumah tanpa seorang perempuan yang terampil mengatur segala pernak-perniknya. Bisa dibayangkan pula seorang gadis remaja yang mulai menginjak belajar untuk bersikap dewasa kemudian tiba-tiba tertimpa ujian untuk langsung bersikap dewasa karena sang ibu yang biasanya menemani perjalanan gadis remaja tapi justru tidak ada di sampingnya. Ya, semua itu bisa dibayangkan, dan sangat dirasakan bagi mereka yang senasib.
Aku ingat betul memori itu, memori yang sangat kuat hingga masih tertancap sampai aku menjadi perempuan dewasa dan mandiri sekarang ini. Memori tentang sosok ibu seperti di cerita-cerita orang. Tak ada yang luar biasa dari pekerjaan ibuku, ibu rumah tangga. Begitu sejauh yang aku tahu tentang sosok ibu rumah tangga, tak begitu menonjol istimewanya, bahkan sebagian mungkin menganggap hanya ibu rumah tangga. Tapi tidak begitu denganku. Justru dari ibuku, ibu rumah tanggalah yang membuat kehidupanku jauh lebih baik dan bahkan merasa baik sampai sekarang.
Ini cerita tentang diriku beberapa tahun silam yang hidup dalam bayangan ibuku. Tentang gadis remaja yang menyedihkan karena ditinggal sang ibu. Gadis remaja yang menyedihkan karena ditinggal saudari-saudarinya merantau jauh untuk menggapai cita-citanya. Gadis remaja yang mencoba senang dan menikmati hidup bersama sanga ayah dan kakak laki-laki. Gadis remaja yang hampir setiap malamnya menangis berharap ibunya bisa hadir lagi di tengah keluarga. Gadis remaja yang selalu menyimpan rindu kepada sosok ibu. Saking rindunya, entah ke berapa kali gadis remaja itu bermimpi berjumpa dengan sang ibu, namun saat bangun dari tidur, hanya dalam bayangan.
40 hari meninggalnya sang ibu, gadis remaja itu hanya bisa menatap jendela rumahnya yang nampak semakin kusam. Bahkan tidak hanya tampilan jendela depan rumah yang terlihat kusam, bahkan wajah ayah dan kakaknya seakan ikut terlihat kusam, tak terkecuali dirinya. Kerabat-kerabat yang awalnya masih menemani untuk melipur lara pun satu persatu pamit pergi ke singgasananya masing-masing. Bahkan saudari-saudarinya ikut berpamitan untuk melanjutkan cita-citanya di tanah nun jauh. Gadis remaja itu hanya terpaku memandang dan tak bisa berpikir lebih jauh lagi tentang kehidupan selanjutnya dalam keluarganya. Bagaimana dia bisa berpikir sejauh itu, sedang umurnya masih empat belas tahun. Dan yang dia tahu hanyalah sebentar lagi akan ada ujian try out untuk persiapan ujian nasional sekolah menengah pertama. Meski di pikirannya tentang sebentar lagi menghadapi ujian sekolah, tak dipungkiri bahwa hatinya bimbang dan masih merasa sedih atas kepergian sang ibu. Dia tak tahu apa yang harus dilakukan di rumah yang lumayan luas untuk ditempati tiga orang, dan satu-satunya perempuan adalah dirinya. Ya, gadis remaja yang masih dilanda kebingungan soal urusan rumah. Kalau sudah seperti itu, dia akan memanggil kata ibu untuk melipur kegalauannya tersebut. Dan lagi-lagi yang ada hanyalah bayangan ibu.
Setiap pagi yang biasanya bangun tidur sudah ada bau masakan yang sedap dari dapur. Saat itu tak ada lagi. Gadis remaja itu berusaha bangkit dengan perasaan dangkalnya. Dia hanya akan membeli sarapan untuk dirinya sebelum berangkat sekolah serta ayah dan kakaknya sebelum berangkat kerja. Sejenak gadis remaja itu teringat jasa sang ibu yang begitu luar biasa pada kehidupannya. Saat melewati tempat makan yang biasa digunakan untuk makan keluarga, tiba-tiba muncul bayangan ibunya yang sudah menyuapi sarapan untuknya saat masih akan berangkat sekolah taman kanak-kanak. Sang ibu menyiapkan sarapan dan memanggil ayah, kakak, dan gadis remaja itu untuk makan sarapan sebelum berangkat ke sekolah dan kerja. Karena waktu masih kanak-kanak gadis itu sering merengek tidak mau sarapan, sang ibu mau tidak mau dengan senang hati merelakan tangannya untuk digunakan menyuapi putri kecilnya terlebih dahulu sebelum dirinya makan sesuap. Ah, bayangan itu ke sekian kalinya membuat hati gadis remaja itu bergetar hebat dan membuatnya bertekad kuat untuk terus mandiri.
Waktu siang pulang sekolah, gadis remaja itu biasanya akan senang bila tiba di rumah kemudian disambut oleh senyuman wanita yang biasanya duduk di ruang tengah. Namun, keadaan itu sudah berubah. Tak ada lagi yang menyambutnya saat pulang sekolah. Saat melihat ruang tengah, sejenak gadis remaja itu melihat bayangan bahwa sang ibu mengulurkan tangannya untuk disalimi. Kemudian sang ibu menyuruh untuk mengganti baju dan setelah itu akan menyuruh makan siang dengan lembut. Ah, betapa senangnya pulang sekolah bila keadaan masih seperti itu, ada yang memperhatikan meskipun sederhana dan seringkali tak dirasakan oleh anak. Perhatian kecil itulah yang sering terlupakan dan tak istimewa. Padahal jika tak ada perhatian kecil itu, mungkin tak akan merasa begitu senang. Namun dari bayangan sang ibu, gadis remaja itu justru menguatkan diri dan bertekad untuk mengumpulkan keberanian diri agar bisa mendapat perhatian dari dirinya sendiri dan sang ayah. Akhirnya sepulang sekolah, gadis remaja itu mencoba belajar berperan sebagaimana ibunya.  Awalnya memang tak mudah, sulit untuk menyesuaikan kebiasaan barunya. Yang awalnya bertindak untuk dirinya sendiri, gadis remaja itu harus memikirkan dan bertindak untuk ayah dan kakaknya. Yang awalnya dia bersantai dan menonton tv sepulang sekolah, tapi harus diubah kebiasaan itu menjadi memasak untuk makan siang dan makan malam keluarganya. Waktu remaja yang biasanya dibuat main-main dan kesenangan semata, tidak lagi untuk gadis remaja yang ditinggal ibunya namun tetap melekat bayangannya. Ya, karena hakikatnya sang ibu tak meninggalkannya, sang ibu masih ada dalam memorinya. Meskipun dalam hal yang kecil dan tak istimewa.
Saat belajar memasak, ini pun pertama kali baginya. Meski saat itu dia tak tahu apa-apa tentang hal ihwal memasak, apalagi memasak menu-menu keluarganya yang  jarang bisa dicari diinternet, gadis remaja itu tak pantang menyerah. Dia terus memutar otak bagaimana saya bisa memasak untuk keluarga dengan baik. Sejenak dia memandang suasana dan peralatan dapur, tiba-tiba bayangan ibu muncul dengan senyuman teduhnya yang menggambarkan guratan wajah lelah namun bahagia. Memori gadis itu terbuka kembali, dia ingat betul, sehari-hari pagi dan siang ibunya berkutat di dapur. Ya, ibunya memang hanya ibu rumah tangga, tapi pekerjaannya sangat menancap dalam memori gadis remaja itu. Karena apa? Karena keluarga merasakan kebahagiaan salah satu faktornya adalah hal yang sederhana, yaitu makanan. Dan siapa lagi biasanya yang berjasa untuk menyiapkan makanan, kebutuhan sehari-hari manusia di sebuah keluarga, kalau tidak sang ibu, adat daerahku seperti itu. Bayangan ibu yang terampil memainkan peralatan dapur terus menampakkan wajah ketulusannya, bau bumbu-bumbu dapur tercium semerbak saat sang ibu mengupas satu persatu bahan-bahan masakan. Ah, tak ada keluh yang terucap dan terlihat, karena wajah sang ibu hanya menyiratkan kebahagiaan keluarga dengan menyajikan makanan lezat untuk keluarga. Gadis remaja itu perlahan mengerti saat menatap bayangan ibunya, betapa pekerjaan sehari-hari sang ibu di dapur yang tak dianggap istimewa itu justru sumber kebahagiaan keluarga, kebahagiaan dirinya selama ini. Bayangkan saja jika setiap harinya tak  tersaji makanan di rumah. Ah gadis remaja itu tak mau membayangkan karena saat itu juga dia merasakannya. Gadis remaja itu ke sekian bergetar hatinya melihat bayangan sang ibu, dan saat itu hanya bisa berucap ibu andaikan kau masih di sini bersama kami.
Malam menjelang, maghrib mengundang. Suara adzan bersahut-sahutan dari satu musholla ke musholla lainnya. Sang ayah dan sang kakak juga sudah kembali pulang dari tempat bekerja, dan saatnya keluarga berkumpul untuk menikmati waktu bersama serta melepas lelah dari padatnya aktivitas kerja seharian. Gadis remaja itu mencoba untuk memposisikan diri sebagai anak yang sudah cukup dewasa dan bisa mengurus diri sendiri di hadapan sang ayah yang tampak kulit wajahnya berkerut, entah karena tua atau lelah. Begitupun di hadapan kakak. Gadis remaja itu punya kebiasaan baru lagi setelah ditinggal ibunya saat maghrib seperti itu. Ya, seusai sholat maghrib, membaca doa tahlil untuk sang ibu. Yang dia tahu dari guru mengajinya adalah salah satu membahagiakan orang tua yang sudah meninggal adalah dengan mengirimnya doa untuk menerangi alam kuburnya, dan itu diyakininya sampai saat ini.
Di tengah lantunan doa-doa untuk sang ibu, tiba-tiba air mata gadis remaja itu menetes dan jatuh begitu saja, hingga beberapa tetes membasahi lembar kertas doa-doa yang dia baca. Di saat itu juga, bayangan sosok ibu bergelayut dalam pikirannya, bahkan semakin lama semakin tampak nyata di hadapannya dengan wajah tersenyum seakan menghibur anak gadisnya yang mencoba untuk tegar mengahadapi rasa rindunya pada sang ibu. Bayangan sang ibu yang ada di hadapannya serasa mengajak bicara pada dirinya, apakah kau belajar melakukan tugas-tugas rumah yang ibu pernah lakukan dulu, rumah adalah tempat paling nyaman untuk kembali. Bertemu keluarga yang disayangi adalah hal yang paling membahagiakan setelah kau melakukan aktivitas di luar. Maka dari itu, cobalah untuk menjaga dan merawat rumah beserta isinya dengan baik. Membersihkan rumah dan halamannya, memasak dan menyajikan makanan, mencuci baju, mencuci peralatan dapur adalah sebagian langkah atau pekerjaan untuk mencapai kebahagiaan itu. Tapi yang lebih penting lagi dari semua itu adalah ketulusan. Ya, ketulusan hatilah yang akan mencapai kebahagiaan keluarga, meskipun tanpa sosok ibu.
Gadis remaja itu semakin tenggelam dalam pikiran dan perasaannya. Dan hal itu membuatnya semakin menangis tersedu sedan. Dia berpikir, apakah bisa dia melakukan langkah untuk mencapai kebahagiaan keluarga itu. Gadis remaja itu hanyalah sosok gadis kecil yang hanya pernah menyaksikan apa yang selama dilakukan sang ibu untuk keluarganya. Pernah melakukan pun itu hanya sekedar membantu. Tak benar-benar dia melakukan segala macam pekerjaan ibu rumah tangga. Sang ayah dan sang kakak menggenggam tangan si gadis remaja itu dan menorehkan senyum tanda saling menguatkan.
Malam semakin larut, saat akan memejamkan mata untuk tidur, bayangan ibu kembali menghiasi imajinasinya. Hingga tak tahu bahwa bayangan sang ibu mengikuti sampai ke alam mimpinya. Mimpi yang indah. Mimpi gadis remaja itu saat kembali menjadi anak-anak. anak kecil yang merengek minta digendong karena kelelahan. Sang ibu tanpa mengeluh langsung meraih tubuh putri kecilnya dan didekap dalam gendongannya. Hangat sekali dekapan ibu, meski pekerjaannya sering tak dibilang istimewa, ibu rumah tangga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menemukan Teman dan Klub Baca Buku

Agustusan Tidak Sekedar Lomba

Cita-Cita Tak Pernah Mempersoalkan Usia