arti mimpi untuk ibu
Cerpen
ARTI MIMPI UNTUK
IBU
karyaku
Kakiku melangkah pelan, letih menerjang ragaku. Setumpuk tugas
kupanggul di pundak, serasa berat hari-hari ini. Hemmm, hembusan nafas kuat
kukeluarkan dari hidung dan memikirkan masalah yang sangat berat ditanggung
untuk seumuran diriku. Namun aku selalu berpikir semua ini akan cepat selesai,
selesai tanpa bekas. Ku sangat berharap masalah ini akan hilang, lenyap dari
kehidupanku. Pulang sekolah dan sesampainya di rumah kulempar tas yang sedari
di pundak ke kasur, dan segera ku rebahkan tubuh ini di kasur yang kurang
empuk. Meskipun begitu, hal tersebut mengurangi rasa letihku. Brakk, suara
keras dari dapur menghamburkan lamunanku. Entah apa yang terjadi? Yang kutahu
keluargaku saat ini sedang terlilit hutang yang banyak. Masalah sekolahku pun
kena getahnya. Sudah enam bulan SPP belum terbayar, tidak hanya itu, sederet
buku pun belum lunas, apalagi saat ini aku kelas tiga SMA, dan kemungkinan
besar biaya sekolah pun tambah. Karena masalah keluarga, sekolah dan
kehidupanku menjadi tidak karuan. Aku merasa sangat sedih karena masalah ini,
tangis ketika mendengar ibu dan bapak berseteru pun tak bisa kutahan, tumpah
ruah air mataku. Tiba-tiba suara ibu dan bapak tidak terdengar lagi, aku
beranjak dari kamar tidur, kuusap air mata ini dan aku melangkah menuju ke dapur.
Aku terhenyak ketika kulihat ibu pergi membawa tas besar. Dan bapak hanya diam
mematung membiarkan ibu berlalu. Dengan secepatnya aku berlari mengejar ibu dan
memanggilnya. Namun ibu tidak menghiraukanku. Akhirnya ku raih tubuh ibu,
sontak kupeluk tubuh yang gemuk itu. Aku menangis sejadi-jadinya di pelukan
ibu, yang ku pikirkan saat itu adalah ibu tidak boleh pergi dari rumah, ibu
harus tetap di rumah. Apa jadinya keluargaku jika tidak ada ibu, siapa yang
mengurus rumah, siapa yang mengurusku, siapa yang memasakkan makanan untuk aku
dan bapak. Aku terisak di punggung ibu, aku tidak peduli tetangga melihat
tingkahku, toh mereka juga sudah tahu bahwa keluargaku sedang dilanda masalah.
Akhirnya ibu membalikkan tubuhnya dan melepas pelukanku, aku berkata pada
beliau agar jangan pergi tinggalkan aku, jangan
pergi tinggalkan rumah kita. Namun tatapan ibu mengatakan tidak, aku tahu mata
itu terlalu sayu menanggung semua, terlaluh lelah memikirkan masalah ini. Aku
tahu mata bening ibu menahan tangis, mungkin karena ibu tidak mau malu pada
tetangga. Karena setiap kali keluargaku dilanda masalah, ibu selalu berusaha
menutupinya, agar tetangga tidak mengetahuinya, namun untuk masalah ini, ibu
tak bisa menyembunyikannya. Akhirnya ibu memberiku pilihan, ikut ibu pergi atau
tetap tinggal bersama bapak. Pilihan yang sulit bagiku, saat itu pikiranku
rasanya buntu, aku masih tersedu-sedu, meskipun ibu berusaha membujuk aku agar
aku tidak menangis lagi, tapi air mata ini mengalir begitu saja. “ tidak perlu
menangis lagi, sakarang kau sudah besar, kau juga tahu ibu dan bapak sedang ada
masalah, ibumu ini tidak kuat lagi nduk, ibu juga sebenarnya tidak tega
meninggalkan bapakmu dan kamu di rumah, tapi ini sudah menjadi keputusan bulat.
Kamu harus bisa menerimanya”,kata ibu. Aku tidak berani menatap mata ibu, aku
tunduk ketika ibu mengatakan itu. Aku tidak tahu harus bagaimana?? Ya Allah
apakah hidup serumit ini?? Apakah tidak ada jalan lain yang lebih baik?? Apa
hikmah di balik semua ini? Apakah keluarga hamba tidak pantas bahagia seperti
dulu? Entahlah, aku tidak tahu semua jawaban itu. Akhirnya kuputuskan aku ikut
ibu, aku ingin bersama ibu. Biarkan bapak di rumah dengan kakak, meskipun aku
sekarang tidak tahu di mana kakak saat keluarga keadaan genting seperti ini.
Seragam sekolah masih ku kenakan, Aku langsung ikut ibu pergi. Entah ke mana
langkah kaki ini mengarah, aku hanya mengikuti langkah kaki ibu. Akhirnya kami
naik kendaraan, satu jam perjalanan kita tempuh. Sepanjang perjalanan aku hanya
berpikir bagaimana caranya kembali ke rumah, bagaimana semua ini akan berakhir.
Ya Robbi betapa berat sekali cobaanMu, aku ingat sekali ketika pelajaran agama,
bahwa Allah menguji hambaNya itu sesuai dengan kemampuannya, dan setiap kali
masalah itu pasti ada solusinya. Aku yakin hal itu. Tak terasa sudah sampai
tujuan kami, kami turun dari kendaraan dan kulihat sebuah rumah sederhana
menyambut kami. Kenapa aku ingin menangis lagi? Entahlah! Wajah seorang
laki-laki tua yang tidak asing lagi yaitu pak dehku mempersilahkan kami duduk istirahat.
Wajah pak dehku menunjukkan keprihatinan, kemudian ibu menyuruhku istirahat di
kamar sepupuku, begitu pula pak dehku. Aku menurut saja karena aku sangat
lelah, pikiranku pun sangat kacau, aku ingin menenangkannya sejenak. Ku
rebahkan tubuhku di kasur, ku lihat langit-langit kamar sepupuku yang penuh
hiasan bintang dan aku pun tertidur.
Hhuuaaa, aku menguap dan ku buka mataku. Kulihat ke atas, bukan
hiasan bintang lagi yang kudapati di sana, seperti genteng rumahku. Aku pun
beranjak dan ternyata aku berada di kamarku sendiri. Hemmm aku merasa tidurku
lama sekali. Kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 5 sore. Dan aku heran, semua
kejadian tadi itu hanya mimpikah? Aku menarik nafas panjang-panjang, dan aku
beranjak keluar dari kamar. Sepi? Aku mencari ibu dan bapak di dapur, dan hanya
perabotan yang ku lihat. Ku cari mereka di semua ruangan tapi hasilnya pun
sama. Ke mana mereka pergi? Tiba-tiba aku teringat kejadian yang rasanya baru
terjadi. Ku panggil ibu berulang kali, tapi tidak ada sahutan sama sekali. Ku
panggil bapak berulang kali, tapi hasilnya juga sama. Aku keluar dari rumah dan
rasanya aneh. Ku lihat laki-laki tua berjalan setengah berlari menghampiriku.
Setelah dekat, ternyata itu pak dehku. Wajah pak dehku sangat prihatin dan
khawatir sekali. Secepatnya aku bertanya pada pak deh apa yang terjadi? Pak deh
menggenggam tanganku dan mencoba menguatkan aku. Kenapa beliau mencoba
menasehatiku untuk menjadi anak yang kuat? Pikiranku buntu lagi dan tidak tahu
apa yang terjadi. Kemudian pak deh menuntunku masuk ke rumah dan duduk. “sabar
za nduk, semua pasti ada hikmahnya”, kata pak deh kepadaku. Tapi aku sama
sekali tidak mengerti apa yang dikatakan beliau. Selang beberapa menit, suara
ambulance meramaikan halaman rumah. Aku terheran-heran dan segera aku keluar
rumah. Kulihat bapak, kakak dan bu dehku keluar dari mobil ambulance. Disusul
orang berseragam putih mengangkut jenazah bertutupkan jarit. Sontak aku
terduduk ketika melihat bahwa jenazah itu adalah ibu, ibuku yang wajahnya
teduh. Aku kaget dan tak percaya dengan apa yang kulihat, ini mimpi kan? Ini
tidak nyata, tidak mungkin ibu meninggalkan aku secepat itu. Aku tidak bisa
berpikir lagi. Bapak langsung memelukku dengan cucuran air mata, kakak terdiam
melihat aku. Apa arti semua ini? Bukannya ibu hanya pergi ke rumah pak dehku.
Bukan pergi selamanya seperti ini. Ya Allah aku baru mengerti semua yang
terjadi dalam mimpiku tadi. Tapi aku belum tahu apa sebabnya, kenapa terjadi
secepat ini. Kerumunan tetangga menyadarkanku, setelah bapak melepas pelukanku,
aku sadar bahwa ini jasad ibu. Aku termangu dan menatapnya, lama dan
mengucurlah air mataku. Ku peluk jasad ibu, dan ku bisikkan lafadz Allah.
Setelah waktu berjalan dan selesailah prosesi pemakaman. Tak henti-hentinya
lidahku mengaji untuk ibu. Aku tak peduli dengan mereka yang datang berlalu
lalang di rumahku. Sesekali aku melihat mereka yang memberi empati kepadaku.
Dan kuberikan senyuman meski cucuran air mata tak berhenti. Setelah usai semua,
aku disuruh pak deh agar masuk kamar untuk menenangkan sejenak raga dan
pikiranku. Aku menurut saja, setelah masuk kamar yang suasananya agak tenang,
pak deh mnghampiriku. Beliau menceritakan semua yang terjadi sebelum ibu
meninggal. Saat aku pulang sekolah, aku tidak seperti biasanya, aku tidak menyalami
ibu dan bapak, karena kulihat mereka bersitegang mendiskusikan sesuatu.
Kebetulan saat itu, aku juga sangat letih karena banyak tugas dari sekolah. Aku
langsung masuk kamar. Ternyata mereka mendiskusikan tentang tanah peninggalan
nenek yang akan dijual untuk melunasi hutang yang tertumpuk terlalu banyak.
Tapi bapak tidak setuju dan terjadi perbedaan pandapat antara ibu dan bapak,
maka dari itu mereka memanggil pak deh untuk menengahi semua perkara itu. Namun
sebelum pak deh sampai di rumah, pak deh mendapati bapak panik karena ibu
tiba-tiba terjatuh dan pingsan. Saat ibu jatuh, ibu menyenggol salah satu
perabotan dan terjatuh. Wajah ibu sangat pucat dan tubuhnya sangat dingin dan
kaku. Akhirnya bapak dan pak deh langsung membawa ibu ke rumah sakit. Namun
saat itu juga, aku tak berpikir akan terjadi seperti itu. Karena mungkin aku
terlalu letih dan lelap dalam tidurku. Saat itu kakak yang baru datang dan
mendapati bapak dan pak deh sedang membopong tubuh ibu langsung berlari
menyusul. Sebenarnya mereka ingin mengajakku, tapi mereka tidak tega
membangunkanku yang terlelap dalam tidur. Akhirnya aku di tinggal di rumah.
Ternyata setelah sampai di rumah sakit, ibu langsung dibawa ke ruang UGD. Ibu
mengalami tekanan darah sangat tinggi karena terlalu banyak beban pikiran.
Akibatnya raga itu tidak kuat lagi menanggungnya. Dan Allah berkehendak lain
untuk menyelesaikan masalah ini dengan mengambil ibu kembali ke hadiratNya.
Akhirnya masalah ini selesai. Akhirnya bapak bersedia menjual tanah untuk
melunasi hutang. Seperti yang kuharapkan, masalah ini selesai tanpa bekas. Kami
kehilangan ibu tercinta. Meski seperti itu aku akan selalu merindukan sosokmu
ibu. Kau wanita yang kuat, tabah dan sabar hadapi segala permasalahan rumah
tangga. Aku akan selalu mendoakanmu ibu. S_R
Selesai hari sabtu, 2014-02-15 Pukul : 16.07 WIB Di ponpes Al Anwar
3
Komentar