sahabat dalam kenangan



Cerpen
Sahabat dalam kenangan
Karya: S_R
Saat kehidupan baru kumulai, aku mulai melangkahkan kaki tuk maju jalani kehidupan. Tak terasa kini umurku tujuh belas tahun. Byuurr, suara air membasahi sekujur tubuhku dan surprise dari sahabat-sahabatku. Aku kedinginan hebat, karena waktu itu tengah malam. Aku berteriak dari dalam kamar mandi agar mereka membukakan pintu untukku. Hemm alhasil mereka sama sekali tidak membukakan pintu, hanya handuk yang mereka julurkan padaku. Tapi tetap saja aku kedinginan. Setelah satu jam akhirnya tya membuka pintunya. Dan dia kaget melihatku kedinginan. Sesegera mungkin tya langsung memelukku dan menuntunku masuk kamar. Sudah dua tahun aku habiskan masa sekolahku di tempat naungan yang teduh pondok pesantren di daerahku. Meski awalnya aku terpaksa jalani ini semua, tapi beriring dengan jarum detik jam yang terus berputar akhirnya hati ini terbuka tuk jalani kehidupan ini dengan ikhlas. Setelah aku masuk kamar, aku segera ganti baju. Tya adalah sahabat dekatku, meski kami beda karakter, tapi kami berdua sangat cocok dalam segala hal. Beberapa menit kemudian tya masuk kamarku dengan membawa segelas teh. Aku menyeruputnya, dan serasa hangat sekali di tubuhku. “ maaf ya himmah, kami hanya buat kejutan sama kamu, tapi kamu malah sakit kaya gini”, kata tya. Aku hanya tersenyum. Dan akhirnya mataku terpejam juga.
 Pagi menyambut  terbukanya mataku. Dan udara segar kuhirup di balik jendela kamar. Aku segera sadar, bahwa aku sekarang tidak di kamar bersama teman-teman. Ada ranjang dan ada lemari, berarti ini kamarku di rumah, masa aku di rumah? Kapan aku pulang?.
Sesosok ibu parobaya  kemudian masuk kamarku. “ himmah sudah bangun, alhamdulillah gusti. Ini nenek bawakan bubur dan susu untuk sarapanmu nduk, biar kamu tambah sehat”, kata nenek. Aku tinggal bersama nenek, bapak dan adikku. Karena sejak 3 tahun yang lalu bapak dan ibu memutuskan bercerai dan ibu meninggalkan kami. Sekarang ibu lebih memilih hidup di negeri perantaun untuk mengumpulkan uang. Keluarga sudah tidak bisa mencegah tekad ibu, entah apa yang menjadi alasan kuat ibu untuk memilih meninggalkan kami keluarganya. Bapak dan nenek tidak pernah menceritakannya padaku. Dan aku hanya menerima takdir hidup keluarga ini. Itu pula yang menjadi alasan kenapa aku di pondok pesantren. Saat awal-awal ibu meninggalkan kami, aku hanya bisa menangis di rumah. Nilai pelajaranku di sekolah turun drastis. Dan akhirnya saat aku lulus SLTP, aku dimasukkan bapak di pondok pesantren, agar aku bisa merubah hidupku dan lebih mendapatkan bimbingan agama, dan aku bisa melupakan kejadian tentang ibu.  Setelah nenek memberikan sarapan untukku, aku segera menyantapnya, karena aku sangat lapar sekali. “ bagaimana nduk, sudah agak enakan badanmu”, tanya nenek penuh perhatian padaku. “ Alhamdulillah nek, sudah fresh banget kok. O iya nek, emangnya kapan aku pulang, perasaan kemaren aku di pondok. Kok bangun-bangun aku sudah ada di rumah?”  Tanyaku pada nenek. “ Kamu itu pingsan nduk di pondok tadi malam, terus pihak pondok menghubungi bapakmu. Bapakmu panik langsung menjemputmu ke sana. Di sana kamu sudah dibawa ke puskesmas. Tapi bapakmu tidak mau kamu dirawat inap, jadi kamu dibawa pulang. Tapi kamu sudah diizinkan tidak masuk sekolah dulu,” papar nenek. Aku ingat kejadian tadi malam, aku kedinginan di kamar mandi. Tapi tya langsung membawaku ke kamar kan? Entahlah, setelah itu aku tidak ingat lagi. Mungkin saat itu juga aku pingsan. Jadi aku tidak ingat.
Sebenarnya aku sudah tahu, kalau aku mempunyai jantung lemah. Namun bapak dan nenek masih menyembunyikannya padaku. Pada suatu malam, seperti kejadian tadi malam aku pingsan. Setelah aku bangun, tanpa kusengaja aku mendengarkan bapak dan dokter berbicara tentang  jantung lemah yang kualami. Sempat aku menangis menyesalinya, tapi apa daya aku hanya bisa pasrah dan terus berdoa pada robbi untuk menguatkan aku jalani kehidupan ini. Kuputuskan untuk tidak bilang sama bapak dan nenek. Aku tidak mau menambah kesedihan mereka dengan aku sudah tahu apa yang aku alami.
Sinar matahari menyebar ke seluruh alam. Aku capek tidur-tiduran di kasur, akhirnya aku bangkit dan menghampiri nenek yang sedang menjahit. “ Nek, kenapa aku harus dibawa ayah pulang?  Toh kalau aku di puskesmas juga sama saja kan, di sana aku juga diobati. Nek, kenapa aku sering pingsan? Padahal aku merasa baik-baik saja, memang sih kadang aku merasakan sakit di sini ( kutunjukkan dadaku pada nenek ).” Sontak nenek menangis dihadapanku. Aku bingung apa yang harus aku lakukan, segera aku memeluk nenek dengan perasaan bersalah mengucapkan kata-kata tadi. “ sabar ya nduk, mungkin ini cobaan pengeran untukmu. Kamu anak yang kuat. Nenek yakin kamu pasti bisa lewati jalan hidup ini.” Kata nenek yang membuat air mataku mengucur.
Tiga hari berlalu, akhirnya aku menginjakkan kaki di pondok lagi. Yang pertama menyambutku adalah siapa lagi kalau bukan tya. Tya langsung memelukku erat.sambutan teman-teman yang lain juga tidak kalah heboh. “ alhamdulillah, akhirnya kamu sembuh dan kembali di pondok lagi. Aku kangen lihat wajah manismu, sobat.” Kata tya menggelikan hatiku. Hanya senyum dan pelukan lagi untuk membalas kata-katanya.
Hari berjalan mengikuti bumi  berputar, mengikuti jarum jam berputar. Banyak problem dalam kehidupan.   Apalagi masalah teman. Tak bisa kubayangkan sebelumnya bahwa dia sangat membenciku. Dia adalah salah satu teman dekatku. Tapi mengapa dia harus membenciku? Apa ada yang salah dalam hidupku?  Entahlah, berbagai masalah aku hanya bisa mencurahkannya lewat doa, dan kucoretkan isi hati di lembar kertas diary.
Pada suatu hari dimana aku akan menghadapi ujian akhir sekolah telah sampai di pelupuk mata. Tya sudah tahu tentang penyakitku. Semenjak itu dia sangat perhatian penuh padaku. Aku sangat menyayangi sahabat-sahabatku. Dalam hidupku, selain keluarga yang melukiskan warna dalam hidupku, teman juga yang mencoretkannya dalam alur lembar hidup ini. Akhir bulan Mei.
“Tyaaa, cepetan giliran kamu yang mandi!”teriak salah seorang santri. Tya kaget, air mata yang terus mengucur segera ia hentikan dan ia usap. Dan ditutupnya buku diary milik sahabatnya itu. Namun tya tak kuat untuk beranjak dari tempat duduknya. Air matanya tak bisa dibendung juga. Tya terus terisak dengan kenangan masa lalu bersama sosok gadis yang sudah mencoretkan warna dalam hidupnya. Himmah, sahabat dekat yang enam bulan lalu telah meninggalkan kenangan-kenangan hidup, yang telah memberi semangat belajar pada dirinya, yang telah membuat dirinya sadar akan kesalahannya, dan yang membuat dirinya mengerti arti kehidupan, arti pengabdian dan masih banyak lagi. Dipeluknya buku diary himmah, suara isaknya semakin kencang . “ tya? Kamu kenapa? Koq menangis?” tanya dyah, teman sepondok tya yang dari tadi meneriaki tya untuk mandi.” Kamu ingat sama Himmah ya? Ya Allah tya, tidak usah diingat-ingat lagi, biarkan arwah Himmah tenang di alamnya. Aku yakin, Himmah adalah anak yang sholihah, dia pasti bahagia di sana. Sudah ya tya, jangan sedih lagi. Aku malah ikut sedih nih!” kata dyah mencoba menenangkan tya, namun dyah juga menahan air mata karena ikut merasakan sedih kehilangan sahabatnya Himmah.
Sebenarnya yang membuat tya menangis bukan karena mengingat kepergian Himmah. Karena itu sudah berlalu. Dan itu sudah menjadi takdir Allah. Yang membuat tya tidak bisa berhenti menangis adalah mengingat  kesalahannya sendiri. kesalahan yang dulu ia buat kepada sahabatnya, kesalahan dia yang tidak mau mengerti ketulusan sahabatnya itu. Kesalahan mengapa dia harus punya perasaan iri pada sahabat dekatnya sendiri. perasaan dulu yang mengakibatkan rasa sakit di dadanya. Dia akui, bahwa Himmah adalah anak yang cerdas. Semasa sekolah dan di pondok, Himmah adalah anak yang pintar menjelaskan sesuatu, karena kecakapan dan kegrapyakannya pula dia disenangi banyak teman-teman. Berbeda dengan tya yang lebih suka menyendiri, serius dan terkadang ketus menjelaskan sesuatu. Namun, semasa sekolah tya pun adalah termasuk orang yang pintar di kelas, dan banyak teman-teman yang menyeganinya. Begitupun di pondok, tya sering di utus oleh bu nyai untuk nyemak pengajian teman-teman lain. Dan karena mungkin perbedaan itulah yang membuat tya  iri kepada sahabatnya sendiri. dan entah kenapa, rasa iri kepada Himmah bertambah manakala Himmah diangkat menjadi pengurus inti di pondok. Sedangkan dirinya hanya sebagai seksi. Entah hawa apa yang mendukung rasa sakit hatinya kepada himmah sahabatnya. Sejak saat itulah tya selalu menulis surat kepada Himmah, surat yang menyatakan rasa sakit hatinya, kekecewaannya, bahkan kebenciannya. Namun, Himmah adalah anak yang kuat. Meski seperti itu, dia berusaha untuk mendekat dan berbaikan dengan tya. Dia tetap menceritakan hidupnya kepada tya. Meskipun terkadang tya selalu berusaha menjauh. Namun, lama-kelamaan tya mulai menyadari kesalahannya. Apalagi semenjak tya mengetahui Himmah mengidap penyakit jantung lemah. Tya langsung minta maaf pada Himmah. Tapi, sekali lagi Himmah membuat cengang diri tya. Bahkan Himmah tidak merasa sakit hati kepada tya. Meski tya tahu kalau himmah menahan rasa sakitnya. Himmah adalah anak yang kuat.
Tya menyesal merasa iri pada sosok himmah. Padahal, dirinya sendiri pun sudah cukup beruntung. Tya menyadari semua kekeliruannya. Dan pada saat-saat terakhir,tya selalu bersama himmah. Moment-moment terakhir bersama himmah sangat berkesan didalam hidup tya maupun himmah. Dua sahabat yang mungkin banyak membuat teman-teman lain iri. Namun, disaat detik-detik yang seharusnya seluruh kelas dua belas berkumpul bersama untuk acara perpisahan dan terima ijazah, Himmah malah tidak datang. Saat itu adalah moment yang mungkin sangat berkesan untuk para siswa kelas dua belas. Tapi tidak untuk tya, tya harus melewati acara itu tanpa sahabatnya yang selama ini membuat dia semangat belajar. Ya, himmah telah pergi meninggalkan dunia karena memenuhi panggilan ilahi. Himmah pergi lima hari sebelum acara perpisahan kelas dua belas, dan dua hari setelah pengumuman kelulusan. Himmah meninggal di rumah. Karena saat itu memang waktu liburan. Ketika pihak sekolah dan pihak pondok melayat ke rumah duka himmah, kami tak berani menanyakan apa yang terjadi pada himmah sebelum kepergiannya. Memang, kematian itu tidak terduga, dan kita juga tidak tahu kapan kematian itu datang pada diri kita. Kematian tak memandang usia. Ya Allah ya Robbi, kepada Engkau segala urusan kami pasrahkan.
Begitu banyak kisah hidup  yang ditinggalkan sosok himmah di sekolah maupun di pondok. Dan sosok himmah terkenang dalam hati sahabat-sahabatnya. Enam bulan berlalu, kesedihan karena kematian himmah pun lambat laun mulai digantikan keceriaan kembali. Tya memutuskan untuk mengabdi di pondok. Sementara waktu dia tidak ingin melanjutkan kuliah. Entah kenapa dia menginginkan untuk tetap tinggal di pondok. Itu dari hatinya. Dan ketika  suatu hari, tya tak sengaja menemukan buku kecil di pojokan lemarinya. Tanpa dia duga buku kecil yang lumayan tebal itu adalah diary sahabatnya himmah. Buku itu seakan menghadirkan sosok himmah kembali. Namun, tya segera sadar bahwa semua itu sudah berlalu. Dan kini dia akan menyongsong hidup tanpa himmah. Himmah yang selalu ada untuk hidupnya. Memang begitulah kehidupan persahabatan di dunia.
 Selesai di ppp al-Anwar 3. Tgl 03-03-2014. Pkl: 13.03.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menemukan Teman dan Klub Baca Buku

Agustusan Tidak Sekedar Lomba

Cita-Cita Tak Pernah Mempersoalkan Usia