Perasaan Dalam Hati



Perasaan dalam hati
Oleh : sirodl
Malam mulai larut, bintang malu untuk tampak dan bulan enggan terlihat karena awan hitam tebal menghalangi. Hawa dingin angin malam merasuk ke sela-sela kulit dan menusuk bagian dalam raga. Di lantai paling atas tanpa atap kusandarkan diri dan merenungi yang terjadi dalam hidupku. Malam ini aku ingin sendiri, mungkin di lantai bawah sana santri-santri yang lain sudah terlelap dalam dunia mimpi mereka masing-masing. Tetapi mata ini belum meminta untuk terpejam, mata ini masih ingin mengalirkankan cairan hangat ke wajah. Aku lelah hari ini. Mengapa semua ini terjadi pada diriku yang baru memulai langkah untuk mengais ilmu. Ilmu yang mulia, ilmu yang bisa menyelamatkan di dunia dan akhirat. Ilmu yang wajib untuk dituntut oleh setiap muslim dan muslimah. Pikiranku melayang pada satu tahun yang lalu. Hari terberat semasa hidupku, hari yang harus menuntut hatiku untuk merelakan semua kesenanganku selama di rumah. Hari yang menjauhkan aku dengan orang tua dan saudara-saudaraku. Dan inilah lembaran-lembaran yang telah kujalani di tempat naunganku ini untuk merintis ilmu. Dan mungkin setelah mencoretkan ini, mungkin sosokku takkan ditemukan di daftar santri pondok pesantren ini lagi.
Pada tahun ajaran baru, aku memutuskan untuk melanjutkan pencarian ilmu di naungan pondok pesantren. Aku melangkahkan kaki jauh dari tempat aku berlindung semenjak kecil. Orang tua telah sangat merelakan diri ini beranjak dari rumah. Meski ada rasa yang membebani diri untuk berjalan maju, namun aku menguatkan hati untuk tetap kukuh melanjutkannya.
Sampailah aku di tempat baruku. Meski disini bukan termasuk pondok pesantren besar, tapi sistem pembelajarannya tidak berbeda dengan pondok-pondok besar yang lain. Kajian kitab-kitab yang mantap dan ada sekolah formal bagi yang minat. Aku mengikuti keduanya, dan orang tua juga menghendaki hal tersebut. Seperti biasa, penyakit dalam yang dialami oleh kebanyakan santri baru. Penyakit kangen dan keinginan untuk pulang. Waktu itu, tak terbendung rasa kangenku dalam dada pada keluarga. Ditambah ketatnya peraturan dalam pondok pesantren, membuat diriku gerah dan ingin keluar mencari tempat yang bisa menghibur hati. Meski kegiatan sudah dimulai  dan akupun mulai mengikutinya , namun hatiku belum lega karena sesak dengan rasa kangen. Entahlah!
Setelah beberapa hari, aku mulai banyak mengenal teman-teman. Mereka begitu ramah dan baik. Aku begitu senang jika kami berkumpul bersama dan berbagi cerita hidup masing-masing, dengan piawai kami menceritakan pengalaman hidup kita, jika ada hal yang lucu kami membuka bibir lebar-lebar menertawakan hal itu. Dalam kehidupanku ini banyak kebersamaan yang selalu terjalin. Ada beberapa teman yang sejak pertama kenal kami selalu merasa dekat. Sebut saja Hindun, gadis manis yang kalem dan pintar.  Ada juga Ainul, gadis tomboy yang jenius. Mereka berdua sangat kreatif dan menyenangkan. Aku menikmati masa-masa ini  bersama teman-teman. Aku juga mulai konsentrasi dengan pengajian dan pelajaran sekolah. Dan ini adalah kenikmatan hidup yang tak pernah kuterima di rumah dan sekolah dahulu.
Namun apakah kau tahu? Selang dua bulan, aku tak tahu harus berbuat apa. Aku tak tahu mengapa terjadi yang tak ku inginkan. Aku hanya bisa mengeluh pada diri sendiri. mengapa semua teman mengabaikanku? Mengapa aku dibiarkan sendiri? mengapa tak ada yang membantuku saat aku butuh bantuan? Mengapa semua enggan bersamaku? Dan pertanyaan itu akhirnya terjawab sekarang.
“ Sekian pengajian hari ini mbak-mbak, kita sambung pertemuan selanjutnya. Al-Fatihah! Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”. Ucap ustadz Ilham mengakhiri pengajian kitab Fathul Qorib. Entah kenapa setiap kali pengajian ustadz Ilham hatiku selalu bergetar. Aku mengaguminya, beliau memang pantas untuk dikagumi. Namun tidak untuk teman-teman yang lain. Justru sebaliknya, teman-teman tidak begitu menyukai beliau. Ustadz Ilham adalah salah satu putra kyai pengasuh pondok pesantren yang kutempati. Maka dari itu, beliau juga dipanggil “Gus Ilham”. Gus Ilham baru mengajar tahun ini, karena beliau baru boyong dari pondok pesantren tahun ini. Gus Ilham masih muda, beliau mewarisi kecerdasan abahnya. Namun, ada beberapa hal yang membuat santri-santri tidak menyukai sikapnya, yaitu sikap pilih kasih dan sering berbicara seenaknya tanpa mempedulikan perasaan santri-santrinya. Dan satu lagi, beliau sering mengadukan sikap santri-santrinya yang beliau tidak sukai kepada bu nyai, beliau juga sering menambahi peraturan pondok dengan mudahnya. Dan hal itu membuat para santri tidak nyaman. Jujur, menurutku sendiri memang tidak nyaman, tapi perasaan ini tidak seperti itu. Aku merasa dibalik sikap gus Ilham seperti itu pasti ada tujuannya, tak semena-mena bersikap seperti itu. Tapi itu hanya pikiranku, dan benarnya aku tidak tahu.
Sikap gus Ilham semakin hari semakin membuat para santri gerah, peraturan semakin ketat saja. Para santri mulai menunjukkan sikap tidak sukanya kepada gus Ilham. Tapi tidak untuk aku, entah kenapa semakin hari aku semakin mengagumi gus Ilham. Apakah aku jatuh cinta pada putra kyai yang masih muda itu? Setiap kali beliau memandangku, hati ini berdegup kencang. Ya Allah perasaan ini begitu menggangguku. Setiap kali pengajian, di otakku hanya ada gus Ilham. Aku sadar aku masih begitu kecil untuk menanggapi hal seperti ini. Dan aku masih dini untuk lancang memiliki perasaan ini. Aku juga sadar bahwa siapa orang yang ku kagumi itu. Tapi, bagaimana lagi? Aku hanya bisa menyembunyikan perasaan ini. Bahkan aku tak ingin menceritakan ini pada dua sahabatku Hindun dan Ainul. Aku selalu mengingatkan diriku sendiri untuk melupakan rasa senang itu, aku harus fokus pelajaran disini. Setiap kali teman-teman membicarakan gus Ilham, aku tak ikut serta membicarakannya. Karena yang ada aku akan sakit hati karena mereka akan membicarakan sikap gus Ilham yang mereka anggap berlebihan dan menyakitkan untuk kalangan santri. Bahkan terkadang sikapku menunjukkan pembelaan terhadap gus Ilham. Meski itu membuat teman-temanku diam terheran.
Waktu berjalan menyusuri lorong kehidupan. Seakan ada hantaman  batu besar di dalam dadaku. Aku bingung apa yang harus aku lakukan dengan sikap mereka terhadapku. bahkan Hindun dan Ainul mulai menjauhiku. Kenapa? Hanya petanyaan itu yang muncul dalam benakku. Kau tahu? Aku merasa kesepian di sini. Aku merasa terabaikan dengan sikap kalian seperti itu. Aku terbilang santri baru di sini, dan sedikit yang menjadi temanku. Itupun waktu awal-awal, dan sekarang? Bahkan seakan kalian wegah untuk mendekatiku.
Waktu itu aku sudah setengah tahun menjalani hidup di naungan pondok pesantren. Seusai jam sekolah, aku bersiap untuk mandi dan berangkat mengaji. Di aula depan ku lihat banyak teman-teman berkumpul. Karena aku harus mandi, akhirnya aku memalingkan badan dan menuju ke kamar mandi. Sebelum aku masuk ke kamar mandi, ku dapati amplop putih. Aku pungut amplop itu dan kumasukkan ke saku baju. Setelah semuanya usai dan saat aku berangkat untuk mengaji, aku berpas-pasan dengan gus Ilham. Kau tahu apa yang kurasakan? Hati ini bergetar hebat, aku deg-degan. Entah kenapa tiba-tiba aku salah tingkah. Dan itu membuatku malu.
Sekali lagi, aku hanya santri baru di sini. Dan tidak ada yang istimewa dari diriku. Pada jam belajar malam, tiba-tiba Anisa yang di sampingku menangis. “ kau kenapa Nis? Ada masalah apa? Tidak baik dipendam sendiri, kalau kau mau berbagi cerita, ceritakan saja padaku”. Kataku mencoba menenangkan. “ Aku sedih, karena aku kehilangan sesuatu. Dan sampai sekarang belum ketemu”. Ucapnya sambil menahan tangis”. Bel selesai jam belajar berbunyi. Aku ingin melanjutkan kata-kata kepada Anisa, namun setelah aku menoleh Anisa lari dan memecahkan tangisnya. Aku termangu memandangnya sedang di rudung sedih. Tak ada kegiatan setelah jam belajar. Aku melihat teman-teman sedang bersantai. Ada yang saling bercanda ria, sedang tidur-tiduran, dan ada yang saling usil.
Aku tak tahu harus melakukan apa? Aku ingin ikut bercanda ria bersama teman-teman, tapi aku terlalu takut mendekat pada mereka. Ada Hindun dan Ainul yang juga sedang asyik larut dalam tawa. Aku hanya berani menghampiri mereka berdua, mereka menyambutku dengan senang. Dan aku ikut serta larut dalam candaan mereka berdua.
Lagi-lagi gus Ilham yang ada dalam pikiranku. padahal aku ingin konsentrasi belajar dan menghafalkan nadzoman untuk pengajian besok. Apakah aku benar-benar dikuasai oleh perasaan kagum. Apakah ini hanya sekedar kagum? Entahlah! Mungkin juga bisa dibilang jatuh cinta.
Hari jum’at, hari yang serasa panas sekali. Entah berita apa yang kudengar, berita ini sangat menggelikan telingaku. Aku tak tahu harus mengatakan apa pada mereka. Aku bukan pencuri. Hanya itu yang terbesit di hatiku. Aku menangis sejadi-jadinya ketika mereka menuduhku mencuri uang Anisa. Aku bahkan tidak berpikir panjang untuk melakukan perbuatan seperti itu. Selama di pondok, alhamdulillah keuanganku tercukupi dari kiriman orang tua. Kau tahu mengapa mereka menuduhku? Karena mereka menemukan amplop berisi uang milik anisa di saku bajuku ketika melakukan penggeledahan. Tanpa mencari tahu benarnya, mereka langsung menuduhku sebagai pencuri. Waktu itu aku belum sempat menjelaskan pada pengurus, berita tuduhan itu sudah menyebar ke satu pondok. Aku tak tahu siapa gerangan yang menyebarkan cerita itu. Padahal dari pengakuan pihak pengurus tidak ada yang menyebarkan tuduhan pencurian kepadaku. Meski akhirnya aku sudah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tapi tetap saja, tuduhan itu tak cepat hilang dari obrolan para santri. Mulai saat itu aku merasa terabaikan, tak banyak teman yang peduli dengan keadaanku. Saat aku sakit keras pun, sedikit dari mereka yang menjenguk. Meski aku dirawat oleh pengurus kesehatan, itu pun hanya saat aku minum obat. Hindun dan Ainul saja yang sering menungguiku, meski kadang mereka berdua harus meninggalkan kegiatan sebentar. Aku sangat berterimakasih pada mereka berdua. Dalam keadaan seperti itu, aku mencoba menguatkan diriku. Aku tak bercerita pada orang tua, aku takut mereka tambah terbebani dengan keadaanku. Setelah aku sembuh, aku sudah mulai mengikuti pengajian setiap hari. Dan serasa sakit hati ini ketika gus Ilham memalingkan muka ketika bertemu denganku. Bahkan saat dalam forum ngaji, beliau tak mengajukan pertanyaan pada diriku. Padahal semua teman-teman dapat pertanyaan dari beliau. Hal itu tidak hanya terjadi satu atau dua kali, tapi setiap kali mengaji. Aku merasa semakin terabaikan. Bahkan dari orang yang selama ini aku kagumi. Apa kesalahanku sehingga aku diperlakukan seperti ini. Saat itu aku memang belum mengerti. Aku terus kuatkan diri. Sampai akhirnya aku tahu jawaban di balik semua ini. Suatu sore aku temukan sepucuk surat di lokerku, aku buka surat itu dan aku baca.
Untuk sahabatku Aulia,
Maafkan diri ini yang selalu menyakitimu. Maaf selama ini aku telah membencimu. Maaf aku telah melakukan kesalahan besar kepadamu. Aku telah salah menilaimu selama ini. Kau tahu kenapa aku melakukan ini padamu? karena aku iri padamu, aku cemburu padamu sahabatku. Kau disenangi banyak teman, kau juga disenangi gus Ilham. Kau anak baru, tapi kau sudah jadi santri favorit karena kepintaranmu, karena kau termasuk gadis yang cantik. Banyak anak-anak yang memujimu. Tapi aku? Aku tak sepandai dan secantik dirimu, tidak banyak teman yang dekat denganku. Maafkan atas rasa iriku, karena rasa itu pula aku berani menyebarkan tuduhan bahwa kau yang mencuri uang anisa. Maaf seribu kali maaf sahabatku. (HN)
Aku tersentak membaca surat itu, apakah aku seperti itu di hadapan teman-teman? Yang kurasa, malah justru sebaliknya. Tapi aku mulai memahami apa yang terjadi sebenarnya. Yang kusesalkan seharusnya dia tidak perlu iri dengan diriku, harusnya kita menerima diri kita sendiri apa adanya. Dan kita harus bersyukur apa yang sudah takdir kita. Dan perlu kita tahu bahwa rasa iri itu bagaikan kayu bakar yang dilalap api. Aku memaafkan dia, aku memaafkan apa yang sudah terjadi. Sebentar lagi kenaikan kelas. Aku terlanjur bilang orang tua, bahwa aku akan pindah. Pindah tempat naungan untuk mengaji. Untuk lebih tenang dan menata kembali hati ini agar tak ada luka yang membekas.  



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menemukan Teman dan Klub Baca Buku

Agustusan Tidak Sekedar Lomba

Cita-Cita Tak Pernah Mempersoalkan Usia