Ketika Senja Menyaksikanku



Ketika Senja Menyaksikanku
By: SIRODL
Senja begitu memanjakan setiap mata yang memandang, aku menikmati waktu ini dengan dia. Dia yang membuatku kagum, yang membuat setiap waktuku untuk memikirkannya. Sekarang aku di dekatnya, getaran dada tak bisa kuhindari, hatiku berdesir kala bicara dengannya. Tatapan matanya menghujam jantungku, dan aku begitu merasa lemah di hadapannya. Dan aku rasa aku telah jatuh cinta padanya.
Setelah kuliah aku tak tahu harus melakukan apa, aku rebahkan diri ini untuk mengambil istirahat sejenak. Tiba-tiba bayangannya merasuk dalam pikiranku dan menjalar penuhi lamunanku. Namun sebentar setelah itu, jauh di sana mendengung suara adzan. Aku segera tersadar dari lamunanku dan bangkit untuk membuyarkan bayangan sosoknya. segera aku ambil air wudlu dan sholat maghrib. Aku bingung dengan perasaanku sekarang. Sebenarnya banyak kesibukan yang aku lakukan, tapi bayangan dia tak lepas dari kesibukanku. Bagaimana tidak? Terkadang malah sosoknya yang berada di hadapanku. aku aktif mengikuti kegiatan di kampus, entah itu diskusi ataupun organisasi. Dia adalah salah satu anggota suatu organisasi di kampusku, begitupun aku. Meski kami beda tugas dan jalur, tapi tak jarang pula kami bertemu.
Saat itu aku mendapat tugas meliput sebuah peristiwa yang sedang marak-maraknya di kampus untuk pengisian majalah kampus. Saat aku beristirahat di masjid, aku lihat dia dengan fasihnya bicara menjelaskan sesuatu pada teman-temannya. Wajahnya begitu manis dan teduh, dia juga dikenal aktivis yang alim karena dia lulusan pondok pesantren. Tapi sikapnya yang sederhana dan rendah hati membuatku menaruh kagum pada sososknya. Tutur bicaranya halus pada lawan jenisnya. Menurutku dia adalah cowok idaman wanita sepertiku yang membutuhkan kasih sayang seorang kekasih setelah ditinggal pendamping hidup. Setelah memandangnya lama, tiba-tiba dada ini sesak teringat sesuatu. Teringat masa laluku dengan mantan suamiku. Terbilang satu tahun sudah aku menjanda karena cerai dengan suamiku dulu. Pernikahan yang tak kuharapkan, pernikahan yang karena keterpaksaan. Setelah keluar dari jenjang SMA, orang tuaku menjodohkan aku, aku sudah menolaknya secara halus dan tegas, tapi apa boleh buat, takdir menggariskan aku menjadi seorang istri meski hanya dua bulan. Setelah kejadian itu, aku memutuskan untuk kuliah dan pergi dari kampung halaman. Bukan melarikan diri, aku tetap minta izin pada orang tua. Meski butuh perjuangan untuk mempertahankan tekad. Dan akhirnya aku bisa sampai di kampus ini dan bertemu dengan sosok zaky yang kukagumi.
Tak terasa buliran air mata menetes membasahi pipi, dan aku terhenyak kaget saat ada tangan yang menyodorkan sapu tangan kepadaku. Zaky, cowok yang kukagumi diam-diam itu sekarang ada di hadapanku. dia mengumbarkan senyumnya yang manis dan tenang padaku. Aku membalas senyumnya dengan malu-malu. Dan kutekuk wajahku menyembunyikan rona merah di pipi.
“ kenapa menangis mbak ana? Ada masalah toh?” tanyanya penuh perhatian. “ tidak ada apa-apa, aku hanya ingin menangis.” Jawabku malu-malu.  “Emm terkadang orang itu pintar menyembunyikan masalah, meski sudah tampak di wajahnya kegelisahan. Tapi tak semua tangis itu karena adanya masalah, bisa juga karena rasa bahagia. Bukan begitu mbak ana?” tutur zaky. “ emmm, i..iya, bisa jadi,” jawabku dengan gugup. Sekarang sudah sore, mbak ana masih ada kegiatan lagi?”tanyanya. “sebenarnya belum kelar semua, tapi saya selesaikan sampai di sini dulu”, balasku. “kalau begitu ikut saja dengan kami jalan-jalan menikmati senja hari. Ada Rani dan Milla juga koq.”ajaknya padaku. “ emm boleh, tapi aku ga ganggu kan?” sebenarnya ganggu sih, ganggu hatiku, hahaha.” Rayunya. Deg, hatiku tersentak kala dia mengucapkan itu, apakah dia juga memiliki perasaan yang sama sepertiku? Ah, entahlah! “hai, koq malah bengong, yuk jalan!”ajaknya memecahkan perasaan galauku. Akhirnya kami jalan bersama, namun aku terus menyembunyikan perasaan malu. Selang beberapa waktu, tibalah kami di suatu tempat yang menurut kami cocok untuk menyaksikan indahnya senja hari. Di kampus kami ada taman yang biasanya dibuat nongkrong anak-anak kalau lagi santai. Kami melepaskan canda dan tawa bersama dengan suasana yang asyik. Kami juga ngobrol ke sana ke mari, terkadang diselingi dengan nada-nada diskusi. Aku menikmati suasana seperti ini. Senja semakin menyemburatkan sinarnya, indah dan menakjubkan. Setelah beberapa saat,teman-teman pada membuyarkan diri untuk pulang, begitu pula aku. Aku melangkah dengan hati  gembira, namun disaat aku merogoh saku hendak mengambil hp, tak ada hp di sakuku. Aku terus mengingatnya, dan aku ingat kalau hpku ketinggalan di taman. Aku lupa meletakkannya dibawah. Kuputar balik langkah kakiku untuk ke taman kampus. Dan aku grogi ketika kudapati Zaky masih duduk sendirian di sana. Kupandangi dia sedang menikmati suasana senja dengan penuh hikmad, aku bimbang mau menghampirinya. Sebelum kaki ini melangkah, aku tersentak dengan suara yang memanggilku. Aku menoleh dan ternyata Zaky yang memanggilku. Akhirnya aku melangkah mendekat dengan penuh percaya diri. Dan tanpa kuharapkan, dia mempersilahkan duduk di sampingnya. Kami berdua duduk dengan menikmati senja yang semakin menyemburatkan cahaya merahnya. Awan yang membentuk lukisan di langit, indah!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menemukan Teman dan Klub Baca Buku

Agustusan Tidak Sekedar Lomba

Cita-Cita Tak Pernah Mempersoalkan Usia