cerpen
cerpen
Anisa
untuk Yusuf
Karya
: S_R
Kala
bola mata terpana oleh ayunya wajah polos itu, hatiku berdesir lembut.
Kurasakan energi sejuk yang mengalir begitu saja dalam dada ini. Aku begitu
terpesona akhlaknya yang begitu anggun dan sopan. kalau aku mengenalnya,
mungkin akan kupinang dia. Tapi kenyataannya nama pun aku tak tahu. Dilihat
dari segi umur, aku sudah cukup matang, dilihat dari segi materi pun mungkin
aku sudah mapan. Umurku menginjak kepala tiga, namun sampai sekarang aku belum
menemukan penyempurna tulang rusukku. Belum menemukan yang bersedia untuk
kuajak sama-sama menyempurnakan separo agama. Tuntutan orang tua pun selalu
terngiang di telinga. Teman-teman yang kebanyakan sudah memiliki pendamping
hidup pun selalu mengingatkan aku untuk segera menikah. Aku sudah berusaha
untuk itu, doa pun selalu kupanjatkan kepada yang kuasa untuk berikan yang
terbaik untuk aku.
Ketika
aku dalam perjalanan untuk masuk kerja, kutemui sosok gadis yang berjilbab
putih polos duduk disampingku. Aku hanya berani menatapnya sekilas. Kuhembuskan
nafas dalam-dalam. Dia sibuk berkutik dengan handponenya, sesekali mengecek
tasnya. Aku sibukkan diriku dengan membaca buku yang aku bawa. Dan sesekali
melirik gadis yang duduk disampingku. Gadis itu sungguh ayu, warna kulitnya
tidak terlalu cerah, tapi kecoklatan. Ketika aku memandang sekali lagi
wajahnya, jantungku mulai berdetak kencang. Sesaat itu pula aku menyadari bahwa
harusnya aku tidak melakukan pandangan yang kedua, itu akan menimbulkan
syahwat. Aku terus berucap istighfar.
Waktu
terus menyusuri alunan hidup ini, matahari terus lalui bumi dan rembulan terus
gantikan cahaya matahari untuk malam. Aku belum juga temukan tulang rusukku.
Kegelisahan mulai kurasakan. Sampai akhirnya datang hari itu, ketika aku
mengikuti pengajian rutin di kampungku, aku berpas-pasan dengan gadis itu yang
pernah duduk di sampingku dalam bus. Aku mencoba untuk menyapanya, dia pun
membalas sapaku dengan senyum. Kami berjalan bersama menuju masjid. Aku tak
tahu mengapa dia juga menuju ke masjid yang ada di kampungku. Padahal yang kutahu
dia bukan warga kampungku. Sedikit banyak aku tahu betul warga yang ada di
kampungku. Ketika kami sudah sampai di masjid, kami harus berpisah karena tempat
untuk wanita dan laki-laki terpisah. Aku terus memikirkan gadis itu,
aku tidak fokus mendengarkan pengajian yang disampaikan oleh kyai. Aku begitu
resah, aku menyadarinya dan berucap istighfar dalam hati. Saat selesai
pengajian, aku mencoba untuk mencari gadis itu. Namun tak kutemukan sosoknya.
Aku tepiskan perasaan penasaranku, aku putuskan untuk segera pulang.
Suatu
ketika, ibuku sakit keras dan malaikat harus menjemput kematiannya. Hari itu
adalah hari terberat bagiku, hari sedih yang membuatku sempat frustasi. Sebelum
ibu meninggal, ibu sempat bicara denganku. “ yusuf anakku, ibu ingin sekali
melihatmu menggandeng menantu untuk ibu. Ibu ingin menyaksikan tampannya kamu
di pelaminan nanti. Namun sekarang ibu
sudah rapuh, ibu harap kau sabar nak untuk menemukan jodohmu, Allah itu maha
adil, jodohmu itu pasti.” Tutur ibu terakhir kali kepadaku. Aku meneteskan air
mata kala ibu selesai mengatakannya. Dalam hati aku terus mengatakan maafkan
aku ibu, maafkan anak laki-lakimu ini yang sampai sekarang belum memberi ibu
menantu. Belum memenuhi keinginan ibu. Karena memang aku belum menemukan sosok
wanita itu bu, belum ada yang mengisi hati ini. Aku terus menangis dalam
suasana haru kala itu.
Setelah
kejadian itu, aku bertekad untuk segera meminang gadis itu. Aku sudah mengenal
keluarganya, ternyata dia adalah anak dari keluarga pak Ahmad pindahan dari
Semarang. Mereka sudah hampir dua bulan tinggal di daesaku. Ketika aku bertekad
untuk mengunjungi rumah pak ahmad dan meminang anisa, nama gadis itu, aku
sangat gugup. Namun semua itu tetap kulakukan. Pak ahmad sangat bahagia sekali
ketika aku melamar anisa puterinya, namun pak ahmad menanyakan kesiapanku untuk
menerima anisa apa adanya. Aku menjawab dengan kata Insyaallah. Sebelum
memutuskan lebih jauh lagi, pak Ahmad ingin saya ta’arufan dulu dengan anisa.
Beberapa waktu kemudian anisa dengan jilbab hijaunya keluar dari
persembunyiannya. Anisa duduk di samping pak Ahmad ayahnya, anisa
menyembunyikan wajahnya dalam tundukan yang dalam. Entah malu atau apa. Ketika
ta’arufan kumulai dengan mengucapkan salam kepada anisa, dia tak segera
menjawab. Dia mengeluarkan buku kecil dan pulpen, kemudian menuliskan sesuatu
di atas lembar buku kecil itu, setelah itu dia menyodorkannya padaku. Aku
sempat tak mengerti, aku hanya menerimanya dan kemudian membaca tulisan yang
ada di buku kecil itu. Isinya adalah jawaban salam. Pak Ahmad diam
memperhatikanku, tatapannya penuh harap mengerti. Tapi aku mencoba berpikir
jernih, aku bertanya pada Anisa kedua kalinya, “apakah kamu bersedia dan siap
jika kujadikan seorang pendamping hidupku?” Anisa menarik kembali buku kecilnya
dan menuliskan sesuatu kedua kali. Ketika buku itu disodorkan kepadaku, aku
segera mengambilnya. Sesuai apa yang kutebak, isinya adalah sebuah jawaban atas
pertanyaanku. Isinya adalah “apakah kamu juga bersedia dan siap menjadikanku
seorang istri di hidupmu?” aku mencoba untuk lebih tegas. Namun dipikiranku,
kenapa dia tidak mau bicara langsung saja, kenapa harus lewat tulisan? Aku
menjawab Insyaallah, namun dengan nada yakin dan mantap. Pak Ahmad seperti
menahan sesuatu, setelah beberapa saat, pak Ahmad angkat bicara dengan
mengatakan bahwa anisa satu tahun yang lalu telah kehilangan pita suaranya
karena sebuah kecelakaan. Aku melongo mendengarnya, diriku sempat kaget, namun
aku segera menguasai diriku dan mencoba untuk bijak. “bagaimana nak Yusuf,
apakah kamu sekarang masih mau menikahi puteriku anisa? Ini adalah pilihanmu.
Jika kau bersedia menikahi puteriku, kami sangat bahagia mendengarnya. Karena
umur anisa juga sudah cukup matang bagi wanita untuk menikah. Kami keluarga
tidak mau anisa menjadi gadis tanpa suami selamanya. Beberapa pekan yang lalu
ada seorang pemuda sepertimu juga meminang anisa, tapi setelah dia tahu keadaan
anisa sebenarnya, dia memutuskan untuk mundur dan tidak mau menikahi anisa.
Padahal kami juga sangat mengharapkan dia menerima apa adanya keadaan puteri
kami.
Pak
Ahmad menceritakan kejadian itu dengan penuh perasaan kepabakan yang tanggung
jawab. Akhirnya aku merasa ini adalah saatnya aku harus memilih hidup yang
sebenarnya. Aku mantap ingin menikahi Anisa binti Ahmad. Mungkin ini tidak
sesuai dengan apa yang kubayangkan, namun ini adalah pilihan hidup yang harus
aku hadapi dengan penuh percaya diri. Akhirnya, aku menikahinya pada bulan
Maulud dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan sebuah al-Qur’an. Itu
adalah permintaan dari Anisa sendiri. Dan sekarang kami jalani bahtera rumah
tangga yang insyaallah sakinah, mawaddah dan warahmah. Dengan penuh kesyukuran
atas segala kenyataan hidup ini. Sekian
Selesai 11
September 2014 di ponpes Al-Anwar 3 Sarang
Komentar