tafsir tematik



MENYIBAK SEJARAH PENCIPTAAN MANUSIA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN
Oleh : Siti Rodliyah
I.     Pendahuluan
Manusia adalah makhluk biologis-material yang berjasad atau berbadan. Manusia adalah makhluk kasat mata, karena ia tersusun dari barang material, baik langsung saat awal penciptaan (produksi), maupun dalam proses reproduksi. Manusia merupakan makhluk Allah yang satu-satunya memiliki komponen lengkap, yaitu akal dan nafsu. Itulah diantaranya keistimewaan manusia yang Allah ciptakan. Perlu kita ketahui bahwa sangat penting mengetahui sejarah penciptaan manusia itus sendiri. Karena banyak teori-teori orang barat yang mengungkap asal-usul manusia dan namun bertentangan dengan sumber ilmu kita, yaitu al-Qur’an. Mengetahui sejarah manusia sangat mempengaruhi sikap kita sebagai objek itu sendiri. Karena setelah kita mengetahui asal-usul kita, mungkin tingkat kesadaran sebagai makhluk Allah manusia akan naik dan berusaha untuk melakukan yang terbaik dalam kehidupan dunia. Kesadaran sebagai hamba Allah yang harus mengabdikan diri hanya pada Allah. Sebagai khalifah yang harus menjaga dan memelihara bumi tempat tinggalnya, dan satu lagi yaitu lebih berhati-hati dengan godaan Iblis yang samar, karena dalam sejarah manusia, Iblis sudah nyata-nyata musuh manusia. Hal tersebut dikarenakan rasa dengki dan sombong Iblis yang tidak mau sujud pada Adam untuk menghormatinya, padahal itu merupakan perintah Allah.
II.  Pembahasan
1.      Proses Produksi Manusia
Al-Qur’an telah menjelaskan bagaimana proses penciptaan manusia. Terdapat beberapa ayat yang menyebutkan asal terciptanya manusia, diantaranya :
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ (71) فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ (72) فَسَجَدَ الْمَلَائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ (73) إِلَّا إِبْلِيسَ اسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ (74 (
(ingatlah) Ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: "Sesungguhnya aku akan menciptakan manusia dari tanah". Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadaNya". Lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya, kecuali Iblis; Dia menyombongkan diri dan adalah Dia Termasuk orang-orang yang kafir.[1]
Pada ayat tersebut disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia dari tanah ( Ṭīn ). Lafadz ṭīn disebut dalam al-Qur’an satu bentuk dengan al- ṭīn atau ṭīnan sebanyak 12 kali. Menurut al-Aṣfihani lafadz ṭīn merupakan campuran antara tanah dan air. Tanah seperti ini lazim dinamakan tanah liat, secara empirik, salah satu sifat tanah liat menempel dan lengket yang bisa dibentuk. sebagaimana disebutkan dalam surah as-ṣaffat ayat 11. Tanah liat merupakan tanah lunak sebab mengandung air yang dapat dibuat menjadi beragam bentuk, sesuai dengan keinginan pembuatnya.[2] Dalam tafsir al-Muntakhah dijelaskan bahwa yaitu tanah yang melekat dan menempel antara satu dengan yang lainnya. Adapun dalam tafsir Ibn Kathīr menerangkan bahwa manusia pertama dikaitkan dengan Adam itu berasal dari satu komponen yang berbentuk tanah liat, dan menempuh waktu selama empat puluh malam sehingga sifat fisiknya berubah menjadi kering dan keras.[3]Oleh karena itu, al-Qur’an juga menyebutkan dalam surat al-Hijr ayat 28 dan al-Rahman ayat 14 bahwa proses produksi dengan ṣolṣōl ( tanah kering ).
Telah kita ketahui bahwa awal terbentuknya manusia yaitu dari nabi Adam as. Dalam fase itulah dinamakan fase produksi. Terkait dengan ayat di atas proses produksi manusia dimaknai dengan  ṭīn. Kejadian proses produksi manusia itu bertahap. Pada fase ini menguraikan bahwa penciptaan Adam pertama kali dari tanah yang dibentuk, kemudian mengering sehingga mengeras dan bisa berdenting hingga menimbulkan suara yang bergerincing, saat tanah liat tersebut sudah menjadi seperti tembikar. Pada tahap inilah Adam kemudian melewati proses terakhir yang menjadikan dia manusia sempurna secara materil dan spiritual dalam bentuk tubuh yang baik, akal, pikiran dan nafsu, kemudian manusia itu sendiri yang menentukan mampu atau tidaknya menggunakan pemberian Allah dengan baik ( at-Tin/95 :4-5). Fase terakhir ini dinamakan peniupan ruh ke dalam jasad.
Terkait dengan proses pertama kali penciptaan manusia, dalam hadis riwayat Ibnu Sa’ad dari Abu Hurairah “manusia adalah anak Adam, dan Adam berasal dari tanah.” 
Perlu penegasan bahwa proses produksi berbeda dengan reproduksi. Reproduksi adalah proses pengembangbiakan, dan hal tersebut dikarenakan bertemunya air mani laki-laki dan perempuan. Maka dari itu, ketika Maryam mengandung anak ( Isa ) tanpa proses reproduksi secara umum menimbulkan kerususuhan masyarakat dengan tuduhan-tuduhan yang dilontarkan. Selain nabi Isa yang dilahirkan tanpa melalui proses reproduksi, Hawa juga termasuk manusia yang penciptaannya tidak melalui proses reproduksi secara umum.
Terkait dengan proses produksi manusia, banyak teori-teori yang muncul. Pada abad ke-19 dunia ilmu pengetahuan digoncang oleh temuan baru ynag kontroversial, Yaitu teori evolusi. Menurut teori evolusi, keberadaan manusia di bumi tidak begitu saja muncul. Pernyataan dari teori ini, waktu yang diperlukan untuk proses evolusi, yang salah satunya berujung pada terbentuknya manusia, memerlukan waktu jutaan tahun. Ini adalah salah satu proses penjelasan prosesnya saja, sedangkan teorinya tidaklah demikian. Dijelaskan bahwa hal ini menghadapkan pada masalah zaman genus homos. Yaitu terdapat bukti bahwa manusia hidup sezaman dengan semua spesies hidup lainnya yang masih bertahan hingga kini. Meskipun evolusi telah berlangsung dengan cara diferensiasi, semua spesies yang berbeda-beda sebagai hasil dari evolusi ternyata saling berkaitan, jika berusaha dilacak asal-usul manusia secara lebih teliti, hal tersebut harus difokuskan pada masa ketika keluarga hominid bercabang dari keluarga lain dalam ordo primata di antara mamalia-mamalia.pencabangan secara genetik ini tidak bisa berbalik. Bagi hominid, pencabangan itu menghapus kemungkinannya untuk menjadi gibbon atau semacam orang utan. Ketika leluhur hominid telah melewati titik bercabang ini, dan melewatinya dengan mengambil cabang hominid,itu hanya memiliki dua alternatif kemungkinan. Yaitu bisa menjadi manusia atau tidak akan bisa bertahan hidup. Sebenarnya satu-satunya genus  yang masih bertahan hidup dalm keluarga hominid adalah homo, dan di dalam genus homo, satu-satunya spesies yang masih bertahan adalah homo sapiens. Dan berarti manusia telah hidup selama sekitar dua puluh juta sampai dua puluh lima juta tahun yang silam.[4]
Sejak manusia mulai berevolusi hingga menjadi manusia makhluk yang sadar akan diri sendiri dan lingkungannya, ia tak hentinya mencari tahu dari mana ia berasal. Kemunculan teori evolusi Darwin untuk memahami dirinya ada dua perspektif, yaitu bahwa evolusi memang terjadi di bumi, dan evolusi ini terjadi karena adanya seleksi alam.
Terkait evolusi manusia ilmu pengetahuan menginformasikan bahwa kehidupan di bumi bermula  dari air. Sampai saat ini, ketika manusia mengeksplorasi bintang dan planet di jagat raya serta mencari kehidupan di luar angkasa, pertanyaan pertama selalu berkaitan dengan air. Hal tersebut dikarenakan hanya air yang mendukung terjadinya kehidupan.[5] Tanpa air, kehidupan menjadi mustahil. Al-Qur’an, sekitar 14 abad yang lalu, saat ilmu pengetahuan belum sampai pada kesimpulan ini, telah menyatakan :
وَاللَّهُ خَلَقَ كُلَّ دَابَّةٍ مِنْ مَاءٍ فَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى بَطْنِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى رِجْلَيْنِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى أَرْبَعٍ يَخْلُقُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (45(
dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, Maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.[6]
Dengan adanya  teori yang dicetuskan manusia tersebut, perlu kita ketahui pula bahwa penjelasan al-Qur’anlah yang mengandung kebenaran secara pasti, karena melalui ayat-ayatnya Allah telah menjawab  rasa ingin tahu manusia mengenai sejarah penciptaannya sendiri. Namun tidak semua orang memahami ayat-ayat Allah, maka dari itu butuh penafsiran untuk bisa mengerti betul ayat Allah yang menjelaskan proses penciptaan manusia. Dalam hal ini, surat ṣād ayat 71 sampai 74 berada dalam lingkar ayat mengenai berita yang besar. Berita besar, bukan karena jangkauannya yang luas dan menghebohkan, melainkan lebih karena isi serta efek psikologis yang berakibat terutama bagi penerimanya. Apakah setelah mendengar ayat tersebut, si penerima menjadi lebih baik atau tidak. Hal tersebut sebagaimana dengan berita besar kiamat. Banyak orang tidak percaya berita besar tersebut, sekalipun   pembawanya nabi Muhammad Saw. Pengetahuan manusia itu terbatas. Meski banyak teori yang menyatakan proses produksi manusia pertama hingga sempurna, namun tidak boleh satu pun yang mengklaim tentang proses Adam pertama kali diciptakan. Karena di dalam al-Qur’an sudah sangat jelas menjelaskan bagaimana nabi Adam yaitu manusia pertama kali yang diciptakan oleh Allah sang pencipta.
2.       Proses Reproduksi Manusia
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُونَ   وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُون
dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.[7]
Telah dijelaskan pada masa produksi yaitu masa penciptaan awal manusia, setelah fase produksi tersebut manusia mengalami perkembangbiakan, yaitu masa reproduksi. Menurut Ibnu Kathīr, Allah Swt. Telah menunjukkan kemahakuasaannyadalam konteks penciptaan manusia melalui empat cara :
1)      Penciptaan Adam dari tanah tanpa ayah dan Ibu
2)      Penciptaan Hawa dari laki-laki tanpa perempuan
3)      Penciptaan Isa bin Maryam dari seorang perempuan, dan
4)      Penciptaan manusia normal dari ayah dan ibu melalui proses pembuahan.
Dalam menjelaskan proses reproduksi manusia, ayat di atas menggunakan lafadz turāb.menurut al-Isfahani lafadz turāb adalah bumi atau tanah itu sendiri, atau sering juga diterjemahkan sebagai debu. Salah satu kata jadian turāb yaitu dari lafadz tariba yang bermakna membutuhkan atau fakir, sebagaimana terdapat dalam surat al-Balad ayat 16, yang mempunyai arti karena sangat membutuhkannya, orang-orang miskin sampai harus berkubang atau belepotan dengan tanah atau debu dalam mencari rizki. Terkait dengan reproduksi, kata jadian turāb juga diambil dari lafadz tarāib yang bermakna tulang dada perempuan, sebagaimana termaktub dalam surat at-Tariq ayat 7, di mana terletak payudara perempuan yang memproduksi ASI. Meski begitu, tetap berkaitan dan kembali pada makna dasarnya yaitu debu. Pada tahap anak-anak, manusia senang bermain dengan tanah, pasir atau debu.
Proses reproduksi merupakan pertambahan manusia lewat proses biologis atau rekayasa genetika. Baik proses produksi maupun reproduksi, pada hakikatnya manusia berasal dari bahan tanah dan air yang dalam al-Qur’an diiistilahkan   ṭīn, turāb dan ṣolṣōl.bedanya hanya pada proses awalnya. Ayat yang menjelaskan bahwa manusia juga tercipta dari unsur air yaitu :
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا
dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.[8]
Air merupakan komponen utama setiap bentuk kehidupan. 50-90 % berat makhluk hidup terdiri atas air. Dalam penjelasan mengenai proses reproduksi manusia, banyak ayat yang saling berkaitan. Tentang reproduksi manusia yang merupakan bentuk penciptaan lanjutan pasca penciptaan Adam dan Hawa melalui pembuahan spermatozoa dan indung telur di dalam rahim, dapat dilihat pada uraian surat antara lain an-Nahl /16 : 4, al-Kahf/18:37, al-hajj/22:5, al-Mu’minun/23:12-14, Fatīr/35:11, al-Insan/76:2, dan ‘Abasa/80:19.[9]
Untuk mencapai proses reproduksi, Allah telah menjelaskan bahwa manusia diciptakan secara berpasang-pasangan. Ada laki-laki dan perempuan, dalam hal ini Allah juga telah menjelaskan dalam surat yasin :
سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ
Maha suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.[10]
Makna yang terkandung dalam ayat tersebut sangatlah luas, sesuatu yang alami adalah bahwa Allah telah menciptakan antara laki-laki dan perempuan berpasang-pasangan. Karena melalui merekalah manusia akan melahirkan anak-anak sebagai penerus generasi yang akan mengisi bumi. Sesuai yang alami sesuai dengan watak Islam yang telah disebut dalam al-Qur’an sebagai agama fitrah, yakni agama yang sesuai dengan alam, yang selalu teratur dan tunduk pada siklusnya. Melakukan pernikahan kemudian berhubungan seksual dan keinginan memiliki anak adalah sebuah siklus yang normal. Namun apabila ingin memiliki anak tanpa proses pernikahan itu sesuatu yang abnormal.  
Melalui pernikahan, psangan suami istri menjadi satu diri ( nafs ). Karena itulah dalam keseharian dinamakan setubuh. Sejatinya makna ini bukanlah secara sempit hubungan seksual saja, namun lebih luas dari itu bahwa pasutri semestinya seperti satu tubuh, senasib-sepenanggungan, bahagia dan sedih bersama, dan lain-lain. Itulah makna ungkapan ayat  خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا, melalui pernikahan pula, pasangan laki-laki dan perempuan, menyalurkan hasrat seksualnya secara bebas dan tenang. tidak terusik oleh beragam hambatan sebelum menikah.karena itu, selagi keduanya belum menemukan pasangan, laki-laki dan perempuan akan merasa gelisah, sebab ada sesuatu yang hilang dari dirinya. karena hal tersebut merupakan sebuah fitrah. oleh karena itu, makna  لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا. laki-laki atau wanita akan mulai tenang dan mapan, kalau ia sudah memiliki tempat berlabuh dn berteduh. seperti itulah al-Qur'an menggambarkan dengan sakan yang berarti rumah tempat tinggal, setelah sebelumnya menusia sibuk di luar. Setelah melalui proses yang menghubungkan sahnya melakukan persetubuhan antara suami dan istri, maka proses reproduksi manusia dimulai. Dalam surah al-Mu’minun Allah berfirman :
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ (12) ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (13) ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.[11]
Muhammad sayyid at-Ṭantawi dalam Tafsir al-Wasīṭ menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan manusia ( al-Insān )dalam ayat ini adalah Adam yang diciptakan Allah dari saripati tanah, tetapi kata ganti ketiga dalam ja’alnāhu ( Kami menjadikan-“nya”) menunjuk pada anak keturunan Adam sebagai bentuk reproduksi alami manusia pasca Adam. Dengan demikian , ayat ini sebenarnya mengandung informasi dua dari empat konsep penciptaan manusia yang Ibnu Kathīr jelaskan di atas, yaitu konsep tentang penciptaan awal manusia ( Adam ) tanpa ayah dan ibu ( produksi ) dan konsep tentang penciptaan manusia melalui pembuahan sperma laki-laki dan ovum perempuan (reproduksi). Karena itulahketika menafsirkan ayat di ats, al-Qurthubi mengatakan :
“firman Allah Swt. : وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ yakni Adam ysng berasal dari saripati tanah. Selanjutnya, yang dimaksud dari kata ganti dalam “ja’alnāhu” adalah anak keturunan Adam, meskipun tidak disebut (secara eksplisit) karena kemasyhurannya.[12]
Dalam Tafsir al-Muntakhah menjelaskan pengertian nuṭfah secara bahasa mengandung beberapa arti, diantaranya “sperma”. Sementara ‘alaqoh dari segi etimologi mengandung arti “darah kental” atau “darah encer yang segar merah”. Adapun mudhghoh berarti janin yang telah melewati fase ‘alaqoh, yaitu setelah sel-sel janin itu menempel dan menyebar pada dinding rahim secara acak dan diselimuti selaput.fase ini berlangsung beberapa minggu untuk selanjutnya memasuki fase ‘idham. Muḍghoh itu sendiri secara garis besarterdiri atas sel-sel berbentuk manusia yang kelak menjadi janin, dan sel-sel yang tidak terbentuk janin yang bertugasmelapisi sel-sel ‘tulang’. Sel tulang memiliki pusat pembentukan sendiriyang terpisah dari sel-sel pembentukan otot. Selanjutnya, setelah tulang itu dibalut dengan daging hingga secara biologis nampak telah sempurna, tibalah fase terakhir dari perkembangan janin, yakni fase peniupan ruh yang di dalam surah al-Mu’miinun disebut sebagai makhluk dalam bentuk yang lain dan unik (   خَلْقًا آخَرَ ), demikialah Allah pencipta yang paling baik.[13]
3.      Manusia Merupakan Makhluk Biologis
وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ (34) كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); Maka Jikalau kamu mati, Apakah mereka akan kekal? tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.[14]
Manusia disebut basyar karena kulitnya tampak, tidak tertutup oleh rambut atau bulu. Hanya sebagian anggota tubuh yang tertutup rambut. Hal ini berbeda dengan hewan yang yang kulitnya tertutup oleh bulu. Dari makna tersebut, al-Qur’an memakai kata basyar untuk menunujuk manusia sebagai makhluk biologis baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda yang biasa makan, minum, berhubungan seks, beraktivitas, dan lain-lain.
Dalam kaitan manusia sebagai makhluk biologis, al-Qur’an memperinci proses kejadian manusia pertama dan kejadian manusia selanjutnya. Semua kejadian manusia senantiasa lewat proses yang sama. Agar manusia dapat menjalankan fungsi biologisnya, Allah melengkapinya dengan berbagai perangkat biologis; seperti mata, kaki, tangan, mulut, hidung, dan anggota tubuh lainnya.
Dengan demikian bentuk manusia sebagai makhluk biologis, kandungan ayat 34-35 ini, di satu sisi mengingatkan kepada para pengikut setia nabi Muhammad Saw. Bahwa meski sangat mencintainya, namun beliau seperti manusia lainnya pasti mati. Hal seperti ini seperti kejadian Umar yang tidak percaya ketika mendapat informasi bahwa nabi Muhammad Saw. wafat. Hal ini perlu diingatkan, sebab ada sebagian orang yang tidak percaya kalau orang yang dicintainya itu meninggal. Pada sisi lain, ayat yang berisi kecaman kepada para penentangnya yang berharap agar Nabi Saw. segera wafat. Karena bila Nabi wafat dengan cepat, mereka dpat hidup bebas tanpa ada yang mengusiknya. Harapan dan usaha para penentang ini sempat menciutkan nyali Nabi Saw. namun Allah mengingatkan Nabi Saw. agar senantiasa tegar dan optimis dalam berdakwah.   
4.      Kisah nabi Adam As.
Dari penjelasan beberapa ayat di atas sudah sangat jelas tentang penciptaan manusia pertama kali yang tidak bisa terlepas dengan kisah nabi Adam. Allah menciptakan alam raya, termasuk bumi dan segala isinya. Kemudian Allah juga menciptakan malaikat –malaikat yang selalu patuh menjalankan segala perintah Allah, mengerjakan ibadah dan tugasnya masing-masing yang sudah ditentukan Allah bagi mereka. Kemudian diciptakan Allah pula nabi Adam sebagai manusia pertama untuk menempati bumi luas yang sudah terbentang, berketurunan, bergolong-golongan, berbangsa-bangsa, tersebar ke seluruh pelosok.
Manusia diciptakan Allah agar menyembah dan menyucikan Allah, lalu menjadi pengatur bumi yang tak teratur, dengan bercocok tanam, memelihara binatang, mendirikan rumah-rumah, dan sebagainya. Allah memberitahukan kehendak-Nya ini kepada semua malaikat : “ Aku hendak menciptakan manusia agar menjadi pengatur di muka bumi itu.”
Para malaikat lalu menjawab :”Apakah manusia yang Engkau ciptakan untuk mengatur bumi , ya Tuhan kami? Tidakkah manusia nanti akan merusak dan saling membunuh? Kiranya kami selalu patuh dan menyucikan Engkau! Terhadap saran malaikat itu Allah berfirman : Aku lebih tahu akan apa yang kamu tidak mengetahuinya.
Setelah mendengar jawaban Allah tersebut, semua malaikat bungkam. Kemudian Allah memerintahkan malaikat sujud sebagai tanda penghormatan kepada makhluk Allah yang dinamakan Adam, manusia pertama kali. Karena menyadari akan kedudukan dan kemuliaan Adam, para malaikat dapat mengerti akan perintah Allah untuk menghormayi Adam. Mereka menjawab : “ baiklah ya Tuhan kami. Kami dengar dan kami taati segala perintah-Mu.” Allah lalu menciptakan Adam dari tanah dengan tanah-Nya sendiri, berbentuk seperti kita sekarang ini.  Ketika Adam telah sadar setelah melalui berbagai proses penciptaan, Adam kemudian mengucapkan Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamiin, para malaikat kagum dan menjawab : “Yarhamukallah ya Adam”. Para malaikat berdiri berjejer mengelilingi Adam, lalu sujud untuk hormat kepada Adam sebagaimana yang telah diperintahkan Allah kepada mereka. Hanya Iblis yang tak mau sujud dan tidak mau hormat kepada Adam. Dia tetap berdiri membangkang dan sombong. Karena kesombongannya itu, akhirnya Allah mengusir Iblis dari surga-Nya. Namun, karena Iblis masih tidak terima, Iblis bersumpah bahwa Iblis dan anak turunnya akan memusuhi Adam dan anaka turunnya. Oleh karena itu, kemudian Allah membekali Adam dengan akal sebagai alat untuk menghindrai tipu daya Iblis dan anak turunnya.
Karena saat itu Adam sebagai manusia seorang diri, akhirnya ketika Adam tertidur Allah menciptakan Hawa, manusia kedua setelah Adam sebagai pendampingnya. Adam sangat senang dan gembira melihat Hawa. Dengan Hawa, hilanglah kesepian Adam. Kemudian Allah berfirman :”Hai Adam, tinggalah engkau dengan istrimu di dalam surga ini. Makan dan minumlah sepuas-puasnya. Tetapi awas, janganlah kalian berdua emakan buah dari pohon ini. Bila kalian memakannya, berarti kalian berdua melanggar perintah-Ku.”
Singkat cerita, karena adanya berbagai godaan Iblis kepada nabi Adam dan Hawa, akhirnya mereka berdua  memakan buah khuldi. Baru saja buah khuldi masuk tenggorokan Adam, lenyap sudah baju yang menutupi aurat Adam, begitu pun Hawa, mereka malu kepada Allah. Karena telah melanggar perintah Allah, akhirnya Allah menurunkan mereka berdua ke bumi dan meninggalkan kenikmatan surga. Di bumi mereka harus hidup bersusah payah dengan mencucurkan keringat dan kadang air mata.
Tak lama kemudian, Adam dan Hawa tiba di permukaan bumi. Diterimanayalah wahyu Ilahi yang pertama yang menyatakan bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa keduanya. Allah juga mengingatkan atas godaan Iblis dan anak turunnya sampai hari kiamat. Kemudian, hiduplah Adam dan Hawa di bumi dengan bersusah payah hingga mereka berketurunan.  Kisah Adam itu disampaikan Allah melalui kitab suci-Nya( al-Qur’an) sebagai pelajaran dan peringatan bahwa kita manusia sekalipun makhluk terbaik dan mulia, tetapi tetap mempunyai kelemahan. Di antara kelemahan manusia itu ialah sifat pelupa. dan saat itulah Iblis mudah memperdayakan manusia. Maka dari itu, hendaknya manusia berhati-hati.
5.      Manusia sebagai Khalifah
Erat kaitannya penciptaan manusia sebagai khalifah, khalifah dalam arti bahasa yaitu sesuatu yang menempati bagian belakang. Al-Qur’an telah menyebutkan beberapa ayatnya yang berkaitan dengan Khalifah, salah satu ayat tersebut tertuang dalam surah al-Baqarah, yaitu:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.[15]
Dalam buku Membumikan Al-Qur’an karya M. Quraish Shihab menyatakan sebagai berikut, “Arti kekhalifahan ada tiga unsur dalam pandangan al-Qur’an, yaitu: 1) Manusia (sendiri) yang dalam hal ini dinamai khalifah, 2) Alam raya, yang ditunjuk oleh ayat ke-21 Surah al-Baqarah sebagai bumi, 3) Hubungan manusia dengan alam dan segala isinya, termasuk dengan manusia (istikhlaf atau tugas-tugas kekhilafahan). Selanjutnya, hubungan manusia dengan alam khalifah dan mustakhlaf adalah hubungan sebagai pemelihara yang saling membutuhkan satu sama lain. Maka tugas manusia adalah memelihara dan memakmurkan alam ini. Orang beriman dan beramal saleh, yang melakukan perbaikan dijanjikan akan dapat menguasai dunia ini.”[16]
Pernyataan di atas menunjukkan bahwa peran manusia yang disebut sebagai khalifah adalah makhluk yang dipilih Allah untuk memelihara dan memakmurkan alam (bumi). Allah menjadikan bumi tempat tinggal manusia dan makhluk hidup lainnya karena bumi ditinjau dari segi keikliman sangat seimbang antara energi dan atmosfer. Rata-rata energi yang diserap dari sinar matahari seimbang dengan energi yang dipancarkan kembali oleh bumi. Mengenai bumi sebagai tempat tinggal manusia lebih dijelaskan di dalam tafsiran surat an-Nahl ayat 10 sampai 16. Dalam tafsiran ayat 12 surat an-Nahl menerangkan bahwa Allah lah yang mengatur pergantian siang dan malam yang manfaatnya dapat dirasakan manusia, siang hari untuk bekerja dan malam hari untuk istirahat.[17] Walaupun alam diciptakan Allah untuk kehidupan manusia, namun manusia tidak boleh semena-mena memperlakukan alam, karena alam merupakan fasilitas hidup manusia, sehingga manusia harus bisa memanfaatkan alam dengan segala isinya ini untuk disyukuri melalui memelihara dan memakmurkannya.
III.             Kesimpulan
Al-Qur’an telah menjelaskan bagaimana proses penciptaan manusia. Terdapat beberapa ayat yang menyebutkan asal terciptanya manusia, diantaranya surah ṣād: 71-74, al-Rum : 20-21, al-Anbiya’:34-35, al-Mu’minun:12-14, al-Baqoroh: 30, an-Nahl /16 : 4, al-Kahf/18:37, al-hajj/22:5, al-Mu’minun/23:12-14, Fatīr/35:11, al-Insan/76:2, dan ‘Abasa/80:19.
Telah kita ketahui bahwa awal terbentuknya manusia yaitu dari nabi Adam as. Dalam fase itulah dinamakan fase produksi. Terkait dengan  di atas proses produksi manusia dimaknai dengan  ṭīn. Kejadian proses produksi manusia itu bertahap. Pada fase ini menguraikan bahwa penciptaan Adam pertama kali dari tanah yang dibentuk, kemudian mengering sehingga mengeras dan bisa berdenting hingga menimbulkan suara yang bergerincing, saat tanah liat tersebut sudah menjadi seperti tembikar. Pada tahap inilah Adam kemudian melewati proses terakhir yang menjadikan dia manusia sempurna secara materil dan spiritual dalam bentuk tubuh yang baik, akal, pikiran dan nafsu, kemudian manusia itu sendiri yang menentukan mampu atau tidaknya menggunakan pemberian Allah dengan baik ( at-Tin/95 :4-5). Fase terakhir ini dinamakan peniupan ruh ke dalam jasad.



















Daftar Pustaka
Al-Qur’an
Abdul Ghafur, Waryono. Menyingkap Rahasia Al-Qur’an Merayakan Tafsir Kontekstual, Yogyakarta: eLSAQ Press, 2009.
Kementerian Agama RI Tahun 2012. Tafsir Al-Qur’an Tematik Kedudukan dan Peran Perempuan. Jakarta: Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syari’ah,2012.
Toynbee, Arnold. Mankind and Mother Earth, terj. Agung Prihantoro, dkk. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2014.
Kementerian Agama RI tahun 2012. Tafsir Ilmi Penciptaan Manusia dalam Perspektif Al-Qur’an dan Sains. Jakarta : Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syari’ah, 2012.
Kementerian agama RI. Pelestarian Lingkungan Hidup (Tafsir AL-Qur’an Tematik. Jakarta: PT. Sinergi Pustaka Indonesia, 2012.
Kementerian agama RI. Penciptaan Bumi dalam Perspektif al Quran dan Sains( Tafsir Ilmi). Jakarta: PT. Sinergi Pustaka Indonesia, 2012.
Arifin, Bey. Rangkaian Cerita dalam Al-Qur’an. Bandung : PT Al-Ma’arif, 1952.










[1] Al-Qur’an, 38 : 71-74.
[2] Abdul Ghafur, Waryono, Menyingkap Rahasia Al-Qur’an Merayakan Tafsir Kontekstual, (  Yogyakarta: eLSAQ Press, 2009 ), 149.
[3] Kementerian Agama RI Tahun 2012, Tafsir Al-Qur’an Tematik Kedudukan dan Peran Perempuan, ( Jakarta: Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syari’ah,2012 ), 25.
[4] Toynbee, Arnold, Mankind and Mother Earth, terj. Agung Prihantoro, dkk, ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2014), 30-31.
[5] Kementerian Agama RI tahun 2012, Tafsir Ilmi Penciptaan Manusia dalam Perspektif Al-Qur’an dan Sains, ( Jakarta : Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syari’ah, 2012), 27.
[6] Al-Qur’an, 24 : 45
[7] Al-Qur’an, 30:20-21.
[8] Al-Qur’an , 25: 54.
[9] Kementerian Agama RI tahun 2012, TafsirAl-Qur’an tematik Kedudukan dan Peran Perempuan , ( Jakarta : Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syari’ah, 2012), 29.
[10] Al-Qur’an,  36:36.
[11] Al-Qur’an, 23:12-14.
[12] Kementerian Agama RI tahun 2012, TafsirAl-Qur’an tematik Kedudukan dan Peran Perempuan , ( Jakarta : Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syari’ah, 2012), 30-31.
[13] Ibid, 31-32.
[14] Al-Qur’an, 21: 34-35.
[15] Al-Qur’an, 2:30.
[16] Kementerian agama RI, Pelestarian Lingkungan Hidup (Tafsir AL-Qur’an Tematik), (Jakarta: PT. Sinergi Pustaka Indonesia, 2012), h. 2.


[17] Kementerian agama RI, Penciptaan Bumi dalam Perspektif al Quran dan Sains( Tafsir Ilmi), (Jakarta: PT. Sinergi Pustaka Indonesia, 2012), h. 15.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menemukan Teman dan Klub Baca Buku

Agustusan Tidak Sekedar Lomba

Cita-Cita Tak Pernah Mempersoalkan Usia