tafsir tematik
MENYIBAK SEJARAH
PENCIPTAAN MANUSIA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN
Oleh : Siti Rodliyah
I.
Pendahuluan
Manusia adalah makhluk
biologis-material yang berjasad atau berbadan. Manusia adalah makhluk kasat
mata, karena ia tersusun dari barang material, baik langsung saat awal
penciptaan (produksi), maupun dalam proses reproduksi. Manusia merupakan
makhluk Allah yang satu-satunya memiliki komponen lengkap, yaitu akal dan
nafsu. Itulah diantaranya keistimewaan manusia yang Allah ciptakan. Perlu kita
ketahui bahwa sangat penting mengetahui sejarah penciptaan manusia itus
sendiri. Karena banyak teori-teori orang barat yang mengungkap asal-usul
manusia dan namun bertentangan dengan sumber ilmu kita, yaitu al-Qur’an.
Mengetahui sejarah manusia sangat mempengaruhi sikap kita sebagai objek itu
sendiri. Karena setelah kita mengetahui asal-usul kita, mungkin tingkat
kesadaran sebagai makhluk Allah manusia akan naik dan berusaha untuk melakukan
yang terbaik dalam kehidupan dunia. Kesadaran sebagai hamba Allah yang harus
mengabdikan diri hanya pada Allah. Sebagai khalifah yang harus menjaga dan
memelihara bumi tempat tinggalnya, dan satu lagi yaitu lebih berhati-hati
dengan godaan Iblis yang samar, karena dalam sejarah manusia, Iblis sudah
nyata-nyata musuh manusia. Hal tersebut dikarenakan rasa dengki dan sombong
Iblis yang tidak mau sujud pada Adam untuk menghormatinya, padahal itu merupakan
perintah Allah.
II. Pembahasan
1. Proses Produksi Manusia
Al-Qur’an telah menjelaskan bagaimana proses penciptaan manusia. Terdapat beberapa
ayat yang menyebutkan asal terciptanya manusia, diantaranya :
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ
إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ (71) فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ
مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ (72) فَسَجَدَ الْمَلَائِكَةُ كُلُّهُمْ
أَجْمَعُونَ (73) إِلَّا إِبْلِيسَ اسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ (74 (
(ingatlah) Ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: "Sesungguhnya aku
akan menciptakan manusia dari tanah". Maka apabila telah Kusempurnakan
kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; Maka hendaklah kamu
tersungkur dengan bersujud kepadaNya". Lalu seluruh malaikat-malaikat itu
bersujud semuanya, kecuali Iblis; Dia menyombongkan diri dan adalah Dia
Termasuk orang-orang yang kafir.[1]
Pada ayat tersebut disebutkan bahwa Allah
menciptakan manusia dari tanah ( Ṭīn ). Lafadz ṭīn disebut dalam
al-Qur’an satu bentuk dengan al- ṭīn atau ṭīnan sebanyak 12 kali.
Menurut al-Aṣfihani lafadz ṭīn merupakan campuran antara tanah dan air.
Tanah seperti ini lazim dinamakan tanah liat, secara empirik, salah satu sifat
tanah liat menempel dan lengket yang bisa dibentuk. sebagaimana disebutkan
dalam surah as-ṣaffat ayat 11. Tanah liat merupakan tanah
lunak sebab mengandung air yang dapat dibuat menjadi beragam bentuk, sesuai
dengan keinginan pembuatnya.[2] Dalam tafsir al-Muntakhah dijelaskan bahwa yaitu tanah yang melekat
dan menempel antara satu dengan yang lainnya. Adapun dalam tafsir Ibn Kathīr
menerangkan bahwa manusia pertama dikaitkan dengan Adam itu berasal dari satu
komponen yang berbentuk tanah liat, dan menempuh waktu selama empat puluh malam
sehingga sifat fisiknya berubah menjadi kering dan keras.[3]Oleh karena itu, al-Qur’an juga menyebutkan dalam surat al-Hijr ayat 28 dan al-Rahman ayat 14 bahwa proses produksi dengan ṣolṣōl
( tanah kering ).
Telah kita ketahui bahwa awal terbentuknya
manusia yaitu dari nabi Adam as. Dalam fase itulah dinamakan fase produksi.
Terkait dengan ayat di atas proses produksi manusia dimaknai dengan ṭīn. Kejadian proses produksi manusia
itu bertahap. Pada fase ini menguraikan bahwa penciptaan Adam pertama kali dari
tanah yang dibentuk, kemudian mengering sehingga mengeras dan bisa berdenting
hingga menimbulkan suara yang bergerincing, saat tanah liat tersebut sudah
menjadi seperti tembikar. Pada tahap inilah Adam kemudian melewati proses
terakhir yang menjadikan dia manusia sempurna secara materil dan spiritual
dalam bentuk tubuh yang baik, akal, pikiran dan nafsu, kemudian manusia itu
sendiri yang menentukan mampu atau tidaknya menggunakan pemberian Allah dengan
baik ( at-Tin/95 :4-5). Fase terakhir ini dinamakan peniupan ruh ke dalam
jasad.
Terkait dengan proses pertama kali penciptaan
manusia, dalam hadis riwayat Ibnu Sa’ad dari Abu Hurairah “manusia adalah
anak Adam, dan Adam berasal dari tanah.”
Perlu penegasan bahwa proses produksi berbeda
dengan reproduksi. Reproduksi adalah proses pengembangbiakan, dan hal tersebut
dikarenakan bertemunya air mani laki-laki dan perempuan. Maka dari itu, ketika
Maryam mengandung anak ( Isa ) tanpa proses reproduksi secara umum menimbulkan
kerususuhan masyarakat dengan tuduhan-tuduhan yang dilontarkan. Selain nabi Isa
yang dilahirkan tanpa melalui proses reproduksi, Hawa juga termasuk manusia
yang penciptaannya tidak melalui proses reproduksi secara umum.
Terkait dengan proses produksi manusia, banyak
teori-teori yang muncul. Pada abad ke-19 dunia ilmu pengetahuan digoncang oleh
temuan baru ynag kontroversial, Yaitu teori evolusi. Menurut teori evolusi,
keberadaan manusia di bumi tidak begitu saja muncul. Pernyataan dari teori ini,
waktu yang diperlukan untuk proses evolusi, yang salah satunya berujung pada
terbentuknya manusia, memerlukan waktu jutaan tahun. Ini adalah salah satu
proses penjelasan prosesnya saja, sedangkan teorinya tidaklah demikian. Dijelaskan
bahwa hal ini menghadapkan pada masalah zaman genus homos. Yaitu terdapat
bukti bahwa manusia hidup sezaman dengan semua spesies hidup lainnya yang masih
bertahan hingga kini. Meskipun evolusi telah berlangsung dengan cara
diferensiasi, semua spesies yang berbeda-beda sebagai hasil dari evolusi
ternyata saling berkaitan, jika berusaha dilacak asal-usul manusia secara lebih
teliti, hal tersebut harus difokuskan pada masa ketika keluarga hominid bercabang
dari keluarga lain dalam ordo primata di antara mamalia-mamalia.pencabangan
secara genetik ini tidak bisa berbalik. Bagi hominid, pencabangan itu
menghapus kemungkinannya untuk menjadi gibbon atau semacam orang utan. Ketika
leluhur hominid telah melewati titik bercabang ini, dan melewatinya
dengan mengambil cabang hominid,itu hanya memiliki dua alternatif
kemungkinan. Yaitu bisa menjadi manusia atau tidak akan bisa bertahan hidup.
Sebenarnya satu-satunya genus yang masih
bertahan hidup dalm keluarga hominid adalah homo, dan di dalam genus
homo, satu-satunya spesies yang masih bertahan adalah homo sapiens.
Dan berarti manusia telah hidup selama sekitar dua puluh juta sampai dua puluh
lima juta tahun yang silam.[4]
Sejak manusia mulai berevolusi hingga menjadi
manusia makhluk yang sadar akan diri sendiri dan lingkungannya, ia tak hentinya
mencari tahu dari mana ia berasal. Kemunculan teori evolusi Darwin untuk
memahami dirinya ada dua perspektif, yaitu bahwa evolusi memang terjadi di
bumi, dan evolusi ini terjadi karena adanya seleksi alam.
Terkait evolusi manusia ilmu pengetahuan
menginformasikan bahwa kehidupan di bumi bermula dari air. Sampai saat ini, ketika manusia
mengeksplorasi bintang dan planet di jagat raya serta mencari kehidupan di luar
angkasa, pertanyaan pertama selalu berkaitan dengan air. Hal tersebut dikarenakan
hanya air yang mendukung terjadinya kehidupan.[5]
Tanpa air, kehidupan menjadi mustahil. Al-Qur’an, sekitar 14 abad yang lalu,
saat ilmu pengetahuan belum sampai pada kesimpulan ini, telah menyatakan :
وَاللَّهُ خَلَقَ كُلَّ دَابَّةٍ
مِنْ مَاءٍ فَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى بَطْنِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى
رِجْلَيْنِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى أَرْبَعٍ يَخْلُقُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ
إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (45(
dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari
air, Maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan
sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan
empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, Sesungguhnya Allah Maha
Kuasa atas segala sesuatu.[6]
Dengan adanya teori yang dicetuskan manusia tersebut, perlu
kita ketahui pula bahwa penjelasan al-Qur’anlah yang mengandung kebenaran
secara pasti, karena melalui ayat-ayatnya Allah telah menjawab rasa ingin tahu manusia mengenai sejarah
penciptaannya sendiri. Namun tidak semua orang memahami ayat-ayat Allah, maka
dari itu butuh penafsiran untuk bisa mengerti betul ayat Allah yang menjelaskan
proses penciptaan manusia. Dalam hal ini, surat ṣād ayat 71 sampai 74
berada dalam lingkar ayat mengenai berita yang besar. Berita besar, bukan
karena jangkauannya yang luas dan menghebohkan, melainkan lebih karena isi
serta efek psikologis yang berakibat terutama bagi penerimanya. Apakah setelah
mendengar ayat tersebut, si penerima menjadi lebih baik atau tidak. Hal
tersebut sebagaimana dengan berita besar kiamat. Banyak orang tidak percaya
berita besar tersebut, sekalipun pembawanya nabi Muhammad Saw. Pengetahuan
manusia itu terbatas. Meski banyak teori yang menyatakan proses produksi
manusia pertama hingga sempurna, namun tidak boleh satu pun yang mengklaim
tentang proses Adam pertama kali diciptakan. Karena di dalam al-Qur’an sudah
sangat jelas menjelaskan bagaimana nabi Adam yaitu manusia pertama kali yang
diciptakan oleh Allah sang pencipta.
2. Proses Reproduksi Manusia
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنْتُمْ
بَشَرٌ تَنْتَشِرُونَ وَمِنْ
آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا
وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ
يَتَفَكَّرُون
dan di antara
tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba
kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. dan di antara tanda-tanda
kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri,
supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya
diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.[7]
Telah dijelaskan pada
masa produksi yaitu masa penciptaan awal manusia, setelah fase produksi
tersebut manusia mengalami perkembangbiakan, yaitu masa reproduksi. Menurut
Ibnu Kathīr, Allah Swt. Telah menunjukkan
kemahakuasaannyadalam konteks penciptaan manusia melalui empat cara :
1)
Penciptaan Adam dari
tanah tanpa ayah dan Ibu
2)
Penciptaan Hawa dari
laki-laki tanpa perempuan
3)
Penciptaan Isa bin
Maryam dari seorang perempuan, dan
4)
Penciptaan manusia
normal dari ayah dan ibu melalui proses pembuahan.
Dalam menjelaskan
proses reproduksi manusia, ayat di atas menggunakan lafadz turāb.menurut
al-Isfahani lafadz turāb adalah bumi atau tanah itu sendiri, atau sering
juga diterjemahkan sebagai debu. Salah satu kata jadian turāb yaitu dari
lafadz tariba yang bermakna membutuhkan atau fakir, sebagaimana terdapat
dalam surat al-Balad ayat 16, yang mempunyai arti karena sangat membutuhkannya,
orang-orang miskin sampai harus berkubang atau belepotan dengan tanah atau debu
dalam mencari rizki. Terkait dengan reproduksi, kata jadian turāb juga
diambil dari lafadz tarāib yang bermakna tulang dada perempuan,
sebagaimana termaktub dalam surat at-Tariq ayat 7, di mana terletak payudara
perempuan yang memproduksi ASI. Meski begitu, tetap berkaitan dan kembali pada
makna dasarnya yaitu debu. Pada tahap anak-anak, manusia senang bermain dengan
tanah, pasir atau debu.
Proses reproduksi
merupakan pertambahan manusia lewat proses biologis atau rekayasa genetika.
Baik proses produksi maupun reproduksi, pada hakikatnya manusia berasal dari
bahan tanah dan air yang dalam al-Qur’an diiistilahkan ṭīn, turāb dan ṣolṣōl.bedanya hanya
pada proses awalnya. Ayat yang menjelaskan bahwa manusia juga tercipta dari
unsur air yaitu :
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ
الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا
dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air
lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah
Tuhanmu Maha Kuasa.[8]
Air merupakan komponen
utama setiap bentuk kehidupan. 50-90 % berat makhluk hidup terdiri atas air. Dalam
penjelasan mengenai proses reproduksi manusia, banyak ayat yang saling
berkaitan. Tentang reproduksi manusia yang merupakan bentuk penciptaan lanjutan
pasca penciptaan Adam dan Hawa melalui pembuahan spermatozoa dan indung telur
di dalam rahim, dapat dilihat pada uraian surat antara lain an-Nahl /16 : 4,
al-Kahf/18:37, al-hajj/22:5, al-Mu’minun/23:12-14, Fatīr/35:11, al-Insan/76:2,
dan ‘Abasa/80:19.[9]
Untuk mencapai proses
reproduksi, Allah telah menjelaskan bahwa manusia diciptakan secara
berpasang-pasangan. Ada laki-laki dan perempuan, dalam hal ini Allah juga telah
menjelaskan dalam surat yasin :
سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْبِتُ
الْأَرْضُ وَمِنْ أَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ
Maha suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan
semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun
dari apa yang tidak mereka ketahui.[10]
Makna yang terkandung dalam ayat
tersebut sangatlah luas, sesuatu yang alami adalah bahwa Allah telah
menciptakan antara laki-laki dan perempuan berpasang-pasangan. Karena melalui
merekalah manusia akan melahirkan anak-anak sebagai penerus generasi yang akan
mengisi bumi. Sesuai yang alami sesuai dengan watak Islam yang telah disebut
dalam al-Qur’an sebagai agama fitrah, yakni agama yang sesuai dengan alam, yang
selalu teratur dan tunduk pada siklusnya. Melakukan pernikahan kemudian
berhubungan seksual dan keinginan memiliki anak adalah sebuah siklus yang
normal. Namun apabila ingin memiliki anak tanpa proses pernikahan itu sesuatu
yang abnormal.
Melalui pernikahan, psangan suami
istri menjadi satu diri ( nafs ). Karena itulah dalam keseharian
dinamakan setubuh. Sejatinya makna ini bukanlah secara sempit hubungan seksual
saja, namun lebih luas dari itu bahwa pasutri semestinya seperti satu tubuh,
senasib-sepenanggungan, bahagia dan sedih bersama, dan lain-lain. Itulah makna
ungkapan ayat خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا, melalui pernikahan pula, pasangan
laki-laki dan perempuan, menyalurkan hasrat seksualnya secara bebas dan tenang.
tidak terusik oleh beragam hambatan sebelum menikah.karena itu, selagi keduanya
belum menemukan pasangan, laki-laki dan perempuan akan merasa gelisah, sebab
ada sesuatu yang hilang dari dirinya. karena hal tersebut merupakan sebuah
fitrah. oleh karena itu, makna لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا. laki-laki atau wanita akan mulai
tenang dan mapan, kalau ia sudah memiliki tempat berlabuh dn berteduh. seperti
itulah al-Qur'an menggambarkan dengan sakan yang berarti rumah tempat
tinggal, setelah sebelumnya menusia sibuk di luar. Setelah melalui proses yang
menghubungkan sahnya melakukan persetubuhan antara suami dan istri, maka proses
reproduksi manusia dimulai. Dalam surah al-Mu’minun Allah berfirman :
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ (12)
ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (13) ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ
عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا
فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ
اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari
suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air
mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu
Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal
daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang
belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang
(berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.[11]
Muhammad sayyid at-Ṭantawi
dalam Tafsir al-Wasīṭ menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan manusia ( al-Insān
)dalam ayat ini adalah Adam yang diciptakan Allah dari saripati tanah, tetapi
kata ganti ketiga dalam ja’alnāhu ( Kami menjadikan-“nya”) menunjuk pada
anak keturunan Adam sebagai bentuk reproduksi alami manusia pasca Adam. Dengan
demikian , ayat ini sebenarnya mengandung informasi dua dari empat konsep penciptaan
manusia yang Ibnu Kathīr jelaskan di atas, yaitu konsep tentang penciptaan awal
manusia ( Adam ) tanpa ayah dan ibu ( produksi ) dan konsep tentang penciptaan
manusia melalui pembuahan sperma laki-laki dan ovum perempuan (reproduksi).
Karena itulahketika menafsirkan ayat di ats, al-Qurthubi mengatakan :
“firman Allah Swt. : وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ yakni Adam ysng berasal dari saripati tanah. Selanjutnya,
yang dimaksud dari kata ganti dalam “ja’alnāhu” adalah anak keturunan
Adam, meskipun tidak disebut (secara eksplisit) karena kemasyhurannya.[12]
Dalam Tafsir al-Muntakhah menjelaskan
pengertian nuṭfah secara bahasa mengandung beberapa arti, diantaranya
“sperma”. Sementara ‘alaqoh dari segi etimologi mengandung arti “darah
kental” atau “darah encer yang segar merah”. Adapun mudhghoh berarti
janin yang telah melewati fase ‘alaqoh, yaitu setelah sel-sel janin itu
menempel dan menyebar pada dinding rahim secara acak dan diselimuti
selaput.fase ini berlangsung beberapa minggu untuk selanjutnya memasuki fase ‘idham.
Muḍghoh itu sendiri secara garis besarterdiri atas sel-sel berbentuk
manusia yang kelak menjadi janin, dan sel-sel yang tidak terbentuk janin yang
bertugasmelapisi sel-sel ‘tulang’. Sel tulang memiliki pusat pembentukan
sendiriyang terpisah dari sel-sel pembentukan otot. Selanjutnya, setelah tulang
itu dibalut dengan daging hingga secara biologis nampak telah sempurna, tibalah
fase terakhir dari perkembangan janin, yakni fase peniupan ruh yang di dalam
surah al-Mu’miinun disebut sebagai makhluk dalam bentuk yang lain dan unik
( خَلْقًا آخَرَ ), demikialah Allah pencipta yang
paling baik.[13]
3.
Manusia
Merupakan Makhluk Biologis
وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِتَّ
فَهُمُ الْخَالِدُونَ (34) كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ
بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun
sebelum kamu (Muhammad); Maka Jikalau kamu mati, Apakah mereka akan kekal? tiap-tiap
yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan
kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada kamilah kamu
dikembalikan.[14]
Manusia disebut basyar karena
kulitnya tampak, tidak tertutup oleh rambut atau bulu. Hanya sebagian anggota
tubuh yang tertutup rambut. Hal ini berbeda dengan hewan yang yang kulitnya
tertutup oleh bulu. Dari makna tersebut, al-Qur’an memakai kata basyar
untuk menunujuk manusia sebagai makhluk biologis baik laki-laki maupun
perempuan, tua maupun muda yang biasa makan, minum, berhubungan seks,
beraktivitas, dan lain-lain.
Dalam kaitan manusia sebagai
makhluk biologis, al-Qur’an memperinci proses kejadian manusia pertama dan
kejadian manusia selanjutnya. Semua kejadian manusia senantiasa lewat proses
yang sama. Agar manusia dapat menjalankan fungsi biologisnya, Allah
melengkapinya dengan berbagai perangkat biologis; seperti mata, kaki, tangan,
mulut, hidung, dan anggota tubuh lainnya.
Dengan demikian bentuk manusia
sebagai makhluk biologis, kandungan ayat 34-35 ini, di satu sisi mengingatkan
kepada para pengikut setia nabi Muhammad Saw. Bahwa meski sangat mencintainya,
namun beliau seperti manusia lainnya pasti mati. Hal seperti ini seperti
kejadian Umar yang tidak percaya ketika mendapat informasi bahwa nabi Muhammad
Saw. wafat. Hal ini perlu diingatkan, sebab ada sebagian orang yang tidak
percaya kalau orang yang dicintainya itu meninggal. Pada sisi lain, ayat yang
berisi kecaman kepada para penentangnya yang berharap agar Nabi Saw. segera
wafat. Karena bila Nabi wafat dengan cepat, mereka dpat hidup bebas tanpa ada
yang mengusiknya. Harapan dan usaha para penentang ini sempat menciutkan nyali
Nabi Saw. namun Allah mengingatkan Nabi Saw. agar senantiasa tegar dan optimis
dalam berdakwah.
4. Kisah nabi Adam As.
Dari penjelasan beberapa ayat di
atas sudah sangat jelas tentang penciptaan manusia pertama kali yang tidak bisa
terlepas dengan kisah nabi Adam. Allah menciptakan alam raya, termasuk
bumi dan segala isinya. Kemudian Allah juga menciptakan malaikat –malaikat yang
selalu patuh menjalankan segala perintah Allah, mengerjakan ibadah dan tugasnya
masing-masing yang sudah ditentukan Allah bagi mereka. Kemudian diciptakan
Allah pula nabi Adam sebagai manusia pertama untuk menempati bumi luas yang
sudah terbentang, berketurunan, bergolong-golongan, berbangsa-bangsa, tersebar
ke seluruh pelosok.
Manusia
diciptakan Allah agar menyembah dan menyucikan Allah, lalu menjadi pengatur
bumi yang tak teratur, dengan bercocok tanam, memelihara binatang, mendirikan
rumah-rumah, dan sebagainya. Allah memberitahukan kehendak-Nya ini kepada semua
malaikat : “ Aku hendak menciptakan manusia agar menjadi pengatur di muka bumi
itu.”
Para
malaikat lalu menjawab :”Apakah manusia yang Engkau ciptakan untuk mengatur
bumi , ya Tuhan kami? Tidakkah manusia nanti akan merusak dan saling membunuh?
Kiranya kami selalu patuh dan menyucikan Engkau! Terhadap saran malaikat itu
Allah berfirman : Aku lebih tahu akan apa yang kamu tidak mengetahuinya.
Setelah
mendengar jawaban Allah tersebut, semua malaikat bungkam. Kemudian Allah
memerintahkan malaikat sujud sebagai tanda penghormatan kepada makhluk Allah
yang dinamakan Adam, manusia pertama kali. Karena menyadari akan kedudukan dan
kemuliaan Adam, para malaikat dapat mengerti akan perintah Allah untuk
menghormayi Adam. Mereka menjawab : “ baiklah ya Tuhan kami. Kami dengar dan
kami taati segala perintah-Mu.” Allah lalu menciptakan Adam dari tanah dengan
tanah-Nya sendiri, berbentuk seperti kita sekarang ini. Ketika Adam telah sadar setelah melalui
berbagai proses penciptaan, Adam kemudian mengucapkan Alhamdulillahi Rabbil
‘Alamiin, para malaikat kagum dan menjawab : “Yarhamukallah ya Adam”.
Para malaikat berdiri berjejer mengelilingi Adam, lalu sujud untuk hormat
kepada Adam sebagaimana yang telah diperintahkan Allah kepada mereka. Hanya
Iblis yang tak mau sujud dan tidak mau hormat kepada Adam. Dia tetap berdiri
membangkang dan sombong. Karena kesombongannya itu, akhirnya Allah mengusir
Iblis dari surga-Nya. Namun, karena Iblis masih tidak terima, Iblis bersumpah
bahwa Iblis dan anak turunnya akan memusuhi Adam dan anaka turunnya. Oleh
karena itu, kemudian Allah membekali Adam dengan akal sebagai alat untuk
menghindrai tipu daya Iblis dan anak turunnya.
Karena
saat itu Adam sebagai manusia seorang diri, akhirnya ketika Adam tertidur Allah
menciptakan Hawa, manusia kedua setelah Adam sebagai pendampingnya. Adam sangat
senang dan gembira melihat Hawa. Dengan Hawa, hilanglah kesepian Adam. Kemudian
Allah berfirman :”Hai Adam, tinggalah engkau dengan istrimu di dalam surga
ini. Makan dan minumlah sepuas-puasnya. Tetapi awas, janganlah kalian berdua
emakan buah dari pohon ini. Bila kalian memakannya, berarti kalian berdua
melanggar perintah-Ku.”
Singkat
cerita, karena adanya berbagai godaan Iblis kepada nabi Adam dan Hawa, akhirnya
mereka berdua memakan buah khuldi. Baru
saja buah khuldi masuk tenggorokan Adam, lenyap sudah baju yang menutupi aurat
Adam, begitu pun Hawa, mereka malu kepada Allah. Karena telah
melanggar perintah Allah, akhirnya Allah menurunkan mereka
berdua ke bumi dan meninggalkan kenikmatan surga. Di bumi mereka harus hidup
bersusah payah dengan mencucurkan keringat dan kadang air mata.
Tak lama
kemudian, Adam dan Hawa tiba di permukaan bumi. Diterimanayalah wahyu Ilahi
yang pertama yang menyatakan bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa keduanya.
Allah juga mengingatkan atas godaan Iblis dan anak turunnya sampai hari kiamat.
Kemudian, hiduplah Adam dan Hawa di bumi dengan bersusah payah hingga mereka
berketurunan. Kisah Adam itu disampaikan
Allah melalui kitab suci-Nya( al-Qur’an) sebagai pelajaran dan peringatan bahwa
kita manusia sekalipun makhluk terbaik dan mulia, tetapi tetap mempunyai
kelemahan. Di antara kelemahan manusia itu ialah sifat pelupa. dan saat itulah
Iblis mudah memperdayakan manusia. Maka dari itu, hendaknya manusia
berhati-hati.
5.
Manusia
sebagai Khalifah
Erat
kaitannya penciptaan manusia sebagai khalifah, khalifah dalam arti bahasa yaitu sesuatu yang menempati
bagian belakang. Al-Qur’an telah menyebutkan beberapa ayatnya yang berkaitan
dengan Khalifah, salah satu ayat tersebut tertuang dalam surah
al-Baqarah, yaitu:
وَإِذْ
قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا
أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ
بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya
aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata:
"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang
akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa
bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan
berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.[15]
Dalam buku Membumikan Al-Qur’an karya
M. Quraish Shihab menyatakan sebagai berikut, “Arti kekhalifahan ada tiga unsur
dalam pandangan al-Qur’an, yaitu: 1) Manusia (sendiri) yang dalam hal ini
dinamai khalifah, 2) Alam raya, yang ditunjuk oleh ayat ke-21 Surah
al-Baqarah sebagai bumi, 3) Hubungan manusia dengan alam dan segala isinya,
termasuk dengan manusia (istikhlaf atau tugas-tugas kekhilafahan).
Selanjutnya, hubungan manusia dengan alam khalifah dan mustakhlaf adalah
hubungan sebagai pemelihara yang saling membutuhkan satu sama lain. Maka tugas
manusia adalah memelihara dan memakmurkan alam ini. Orang beriman dan beramal
saleh, yang melakukan perbaikan dijanjikan akan dapat menguasai dunia ini.”[16]
Pernyataan di atas menunjukkan bahwa peran
manusia yang disebut sebagai khalifah adalah makhluk yang dipilih Allah
untuk memelihara dan memakmurkan alam (bumi). Allah menjadikan bumi tempat
tinggal manusia dan makhluk hidup lainnya karena bumi ditinjau dari segi
keikliman sangat seimbang antara energi dan atmosfer. Rata-rata energi yang
diserap dari sinar matahari seimbang dengan energi yang dipancarkan kembali
oleh bumi. Mengenai bumi sebagai tempat tinggal manusia lebih dijelaskan di
dalam tafsiran surat an-Nahl ayat 10 sampai 16. Dalam tafsiran ayat 12 surat
an-Nahl menerangkan bahwa Allah lah yang mengatur pergantian siang dan malam
yang manfaatnya dapat dirasakan manusia, siang hari untuk bekerja dan malam
hari untuk istirahat.[17] Walaupun alam diciptakan Allah untuk
kehidupan manusia, namun manusia tidak boleh semena-mena memperlakukan alam,
karena alam merupakan fasilitas hidup manusia, sehingga manusia harus bisa
memanfaatkan alam dengan segala isinya ini untuk disyukuri melalui memelihara
dan memakmurkannya.
III.
Kesimpulan
Al-Qur’an telah menjelaskan bagaimana proses penciptaan manusia. Terdapat beberapa
ayat yang menyebutkan asal terciptanya manusia, diantaranya surah ṣād: 71-74, al-Rum : 20-21, al-Anbiya’:34-35,
al-Mu’minun:12-14, al-Baqoroh: 30, an-Nahl /16 : 4, al-Kahf/18:37,
al-hajj/22:5, al-Mu’minun/23:12-14, Fatīr/35:11, al-Insan/76:2, dan
‘Abasa/80:19.
Telah kita ketahui bahwa awal terbentuknya
manusia yaitu dari nabi Adam as. Dalam fase itulah dinamakan fase produksi.
Terkait dengan di atas proses produksi
manusia dimaknai dengan ṭīn.
Kejadian proses produksi manusia itu bertahap. Pada fase ini menguraikan bahwa
penciptaan Adam pertama kali dari tanah yang dibentuk, kemudian mengering
sehingga mengeras dan bisa berdenting hingga menimbulkan suara yang
bergerincing, saat tanah liat tersebut sudah menjadi seperti tembikar. Pada
tahap inilah Adam kemudian melewati proses terakhir yang menjadikan dia manusia
sempurna secara materil dan spiritual dalam bentuk tubuh yang baik, akal,
pikiran dan nafsu, kemudian manusia itu sendiri yang menentukan mampu atau
tidaknya menggunakan pemberian Allah dengan baik ( at-Tin/95 :4-5). Fase
terakhir ini dinamakan peniupan ruh ke dalam jasad.
Daftar Pustaka
Al-Qur’an
Abdul Ghafur, Waryono. Menyingkap Rahasia Al-Qur’an
Merayakan Tafsir Kontekstual, Yogyakarta: eLSAQ Press, 2009.
Kementerian Agama RI Tahun 2012. Tafsir Al-Qur’an Tematik Kedudukan dan
Peran Perempuan. Jakarta: Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan
Syari’ah,2012.
Toynbee, Arnold. Mankind and Mother Earth, terj. Agung
Prihantoro, dkk. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2014.
Kementerian Agama RI tahun 2012. Tafsir Ilmi Penciptaan Manusia dalam
Perspektif Al-Qur’an dan Sains. Jakarta : Direktorat Urusan Agama Islam dan
Pembinaan Syari’ah, 2012.
Kementerian agama RI. Pelestarian Lingkungan Hidup
(Tafsir AL-Qur’an Tematik. Jakarta: PT. Sinergi Pustaka Indonesia, 2012.
Kementerian agama RI. Penciptaan
Bumi dalam Perspektif al Quran dan Sains( Tafsir Ilmi). Jakarta: PT. Sinergi Pustaka Indonesia, 2012.
Arifin, Bey. Rangkaian Cerita
dalam Al-Qur’an. Bandung : PT Al-Ma’arif, 1952.
[2] Abdul Ghafur, Waryono, Menyingkap Rahasia Al-Qur’an Merayakan Tafsir
Kontekstual, ( Yogyakarta: eLSAQ
Press, 2009 ), 149.
[3] Kementerian Agama RI Tahun 2012, Tafsir Al-Qur’an Tematik Kedudukan dan
Peran Perempuan, ( Jakarta: Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan
Syari’ah,2012 ), 25.
[4] Toynbee, Arnold, Mankind and Mother Earth, terj. Agung Prihantoro,
dkk, ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2014), 30-31.
[5] Kementerian Agama RI tahun 2012, Tafsir Ilmi Penciptaan Manusia dalam
Perspektif Al-Qur’an dan Sains, ( Jakarta : Direktorat Urusan Agama Islam
dan Pembinaan Syari’ah, 2012), 27.
[6] Al-Qur’an, 24 : 45
[7] Al-Qur’an,
30:20-21.
[9] Kementerian Agama RI tahun 2012, TafsirAl-Qur’an tematik Kedudukan dan
Peran Perempuan , ( Jakarta : Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan
Syari’ah, 2012), 29.
[10]
Al-Qur’an, 36:36.
[11] Al-Qur’an,
23:12-14.
[12] Kementerian Agama RI tahun 2012, TafsirAl-Qur’an tematik Kedudukan dan
Peran Perempuan , ( Jakarta : Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan
Syari’ah, 2012), 30-31.
[13] Ibid, 31-32.
[14] Al-Qur’an, 21:
34-35.
[15] Al-Qur’an,
2:30.
[16] Kementerian agama RI, Pelestarian Lingkungan Hidup (Tafsir AL-Qur’an
Tematik), (Jakarta: PT. Sinergi Pustaka Indonesia, 2012), h. 2.
[17] Kementerian agama RI, Penciptaan Bumi dalam Perspektif al Quran
dan Sains( Tafsir Ilmi), (Jakarta: PT. Sinergi Pustaka Indonesia,
2012), h. 15.
Komentar