Puisi tanggal 29 Fabruari
Air...
Awalnya aku tenang...
Karena kau sudah bersahabat denganku
Bahkan kuanggap bagai keluarga
Aku hidup beriringan denganmu
Dalam tangis dan tawa
Di manapun aku selalu mengingatmu
Bahkan tak rela meninggalkanmu
Bahagia kau selalu ada
Dan menghiasi warna dunia
Tak kubayangkan tak ada dirimu
Berharap semua berjalan begitu saja
Namun suatu saat...
Entah kenapa kau muak denganku
Kau tumpahkan amarahmu
Padaku, makhluk manusia
Kau terjang semua harta-harta
Kau bersorak kencang di antara telinga-telinga
Kau hantam keegoisan diri
Kau pekikkan suara ngeri
Tumpah ruah segala dirimu
Membuat makhluk kecil sepertiku terpelanting jauh
Terbaluti tangis dalam ricuh
Saat aku mulai menyayangimu
Kau justru muak dengan keserakahanku
Hidup bagaikan air yang mengalir...
Stop!
Jangan katakan itu...
Sungguh aku merasakan kau muak dengan kehidupanku
Tak cukup ku menyayangimu...
Sejenak dalam sunyi..
Kau bisikkan kata menusuk hati..
Dalan kalbumu ada rasa syukur.. itu jauh lebih berarti..
Sarang, 29 Februari 2020
Awalnya aku tenang...
Karena kau sudah bersahabat denganku
Bahkan kuanggap bagai keluarga
Aku hidup beriringan denganmu
Dalam tangis dan tawa
Di manapun aku selalu mengingatmu
Bahkan tak rela meninggalkanmu
Bahagia kau selalu ada
Dan menghiasi warna dunia
Tak kubayangkan tak ada dirimu
Berharap semua berjalan begitu saja
Namun suatu saat...
Entah kenapa kau muak denganku
Kau tumpahkan amarahmu
Padaku, makhluk manusia
Kau terjang semua harta-harta
Kau bersorak kencang di antara telinga-telinga
Kau hantam keegoisan diri
Kau pekikkan suara ngeri
Tumpah ruah segala dirimu
Membuat makhluk kecil sepertiku terpelanting jauh
Terbaluti tangis dalam ricuh
Saat aku mulai menyayangimu
Kau justru muak dengan keserakahanku
Hidup bagaikan air yang mengalir...
Stop!
Jangan katakan itu...
Sungguh aku merasakan kau muak dengan kehidupanku
Tak cukup ku menyayangimu...
Sejenak dalam sunyi..
Kau bisikkan kata menusuk hati..
Dalan kalbumu ada rasa syukur.. itu jauh lebih berarti..
Sarang, 29 Februari 2020
Komentar