Pesan Buku 'Selamat Tinggal' Untukku
Pesan Buku 'Selamat Tinggal' Untukku
Aku ingin menceritakan tentang pengalamanku membaca buku karya Tere Liye yang berjudul 'Selamat Tinggal'.
Awalnya saya menjelajah di dunia google book. Disitu, aku melihat ada buku terbaru karya Tere Liye yang bersampulkan biru. Aku ingin membacanya, entah kenapa saya langsung tertarik saat melihatnya. Namun niat membeli e-booknya aku tepiskan dan berniat jika suatu saat e-book itu dicetak dan diperjualbelikan, aku akan membelinya.Aku tak banyak baca buku, tapi sekali aku jatuh cinta dengan buku, aku akan membacanya dengan penghayatan dan tak akan cepat2 ku selesaikan, biar masih bisa menimang-nimang isi buku. Berlebihan ya?
Suatu hari, jari tangan saya mengayunkan sosial media. Di sebuah halaman, ada gambar yang menarik hati saya. Yups, buku bersampulkan biru, karya Tere Liye yang berjudul 'Selamat Tinggal' telah dicetak dan diperjualbelikan.
Cekatan jari jempol saya menyentuh layar handphone untuk buat pesanan.
Setelah buku di tangan, tak langsung aku membacanya. Selang beberapa hari, aku benar-benar memulai membaca setiap kata yang terangkai dan hanyut dalam alur ceritanya. Aku tak ingin membahas panjang tentang alur ceritanya. Aku hanya ingin menyampaikan sudut pandangku sebagai pembaca, bahwa cerita yang disuguhkan penulis sungguh alami dan pesan yang disampaikan benar-benar tersurat tanpa harus mencetak tebal isi pesan itu. Karakter tokoh dalam cerita sungguh tak berlebihan bak superhero. Sangat alami dan apa adanya, yang justru menggambarkan tokoh yang punya kesadaran akan lingkaran keadaannya yang salah dan memiliki tekad untuk memperbaiki kesalahan tersebut.
Pesan-pesan yang aku ingat meski lama sudah selesai membaca buku tersebut, adalah pesan bahwa 'sesuatu yang palsu/bajakan, apapun itu, adalah hal yang tidak baik, dan penulis berusaha menyuarakan bahwa semua itu perlu diperbaiki'. Tak dipungkiri, bahwa banyak sekali kepalsuan, kecurangan dan kebohongan dalam hidup ini, bukan? Rasanya 'sebuah kejujuran' adalah sesuatu yang mahal. Dan rela memanipulasi hanya untuk menutupi segala ambisi atau ketakutan yang ada dalam diri. Contoh kecil dalam hidupku, saat diriku mengetahui kebohongan seseorang karena ketakutannya. Saat diriku disuruh berbuat curang untuk menyatakan iya padahal tidak. Dan saat diri berkata jujur serta terbuka, justru dianggap aneh. Aih, aku terbiasa terbuka dan tidak menutupi kebenaran. Meski awalnya sangat menyakitkan. Dan meski tak sering diriku tergoda juga dengan kebohongan sesaat.
Apakah ini zaman manipulasi? Entahlah..
Saat membaca salah satu bagian cerita dalam buku ini, yaitu saat si tokoh utama sedang tidak produktif menulis lagi karena kesedihannya, karena ketidakmampuannya untuk kembali move on, mengingatkan juga pada diriku yang sama sekali tak bergairah untuk melakukan apapun saat dilanda kesedihan. Dan sulit untuk move on setelah dilanda ujian kesehatan fisik, hati dan pikiran. Bukan karena diputuskan atau ditolak kekasih seperti kisah-kisah cinta pada umunya, tapi aku terpuruk dan waktu tersia-siakan karena rasa tak menerima akan takdir Allah yang menimpaku. Sungguh, saat dilanda pilu, semangat berkarya juga buntu. Dan aku malu pada waktu.
Adakalanya cerita yang kita baca, tak jauh beda dengan keadaan kita.
Mungkin?
Hei, waktu memang menyembuhkan luka, kan? Iya, Allah mengabulkan doa-doa beriringan dengan berjalannya waktu. Bagaimana luka itu sembuh? Ya harus ada usaha menyembuhkannya yang diiringi doa-doa. Begitulah yang aku rasakan. Pun kesalahan, bisa diperbaiki kan? Ya harus ada usaha untuk memperbaikinya, memang. Penulis dalam buku 'Selamat Tinggal', ada pesan yang cukup membuatku berpikir tentang betapa keyakinan dan aksi yang nyata, akan berdampak besar dalam perubahan kehidupan.
Kalimatnya begini ;
"Jangan berkecil hati, Kawan, jika hari ini kepal jemarimu masih lemah. Jangan berkecil hati, Kawan, jika hari ini suaramu jauh dari lantang dan didengarkan. Sungguh jangan berkecil hati, Kawan, jika dirimu belum mampu mengubah situasi.
"Ayo, mari berdiri bersamaku. Kita akan melangkah bersama. Saling menguatkan, saling mendukung. Ayo, mari kita memperbaiki. Kita mulai dari diri kita sendiri, dari keluarga sendiri, esok lusa kita akan menyaksikan perubahan telah datang. Saat itu tiba, suara-suara kita akan membahana terdengar. Kepal tinju kita akan menggetarkan gunung-gunung. Percayalah." ( halaman 321)
"Kita tidak pernah sempurna. Kita mungkin punya keburukan, melakukan kesalahan, bahkan berbuat jahat kepada orang lain. Tapi beruntunglah yang mau berubah. Berjanji tidak melakukannya lagi, memperbaikinya, dan menebus kesalahan tersebut. Berani mengucapkan 'Selamat Tinggal'. " ( halaman 349)
Begitulah pesan yang aku baca, yang seakan itu juga tertuju padaku sebagai pembaca. Bagaimana denganmu, Kawan?
Satu kalimat lagi yang ingin aku tulis sebagai penutup, yaitu tidak ada yang berubah, kecuali perubahan itu sendiri.
Sekian.

Komentar