Review Buku ‘Steal Like An Artist’ karya Austin Kleon
Awal dari saya membaca buku ini adalah didorong rasa jenuh yang tak bisa aku atasi dengan hobi yang biasanya saya lakukan. Meski membaca juga salah satu hobi saya, tapi membaca buku sudah lama sekali tak saya lakukan, yaa sesekali saya lakukan jika bertemu dengan buku yang membuatku jatuh cinta. Itu kenapa saya juga terhenti menulis. Karena saya jarang membaca buku. Saya selalu terhipnotis dan ketagihan menonton drama korea, film, dan scroll social media yang begitu beragamnya menyuguhkan konten-konten menghibur, penuh pelajaran hidup, bahkan sering saya buat alasan sedikit-dikit untuk healing.
Akhir bulan lalu lebih tepatnya, saya merasa tak ada semangat melakukan itu semua. Bahkan menjalani rutinitas mengajar di sekolah terasa datar begitu saja. Meski saat ini tak lagi datar karena ada tantangan baru yang cukup membuatku harus bertahan.
Karena rasa jenuh itu-sekaligus alih-alih menanti target menikah, saya mencoba mendorong diri saya untuk kembali menyapa buku. Saya berjalan ke perpustakaan sekolah dan mencari-cari buku yang berhasil menarik perhatianku. Niat selalu membuka jalannya, saya melihat buku bersampul warna hitam tergeletak sendiri di antara rak yang penuh jajaran buku. Buku itu lantas saya sambar tanpa pikir panjang.
Buku itu berjudul ‘Steal Like An Artist’ yang ditulis oleh seorang penulis dan seniman dari Austin, Texas yaitu Austin Kleon. Buku yang berhalaman 147 dengan tulisan singkat, padat, dan jelas setiap babnya, yang sudah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia ini cukup menggugah diri saya yang tadinya jenuh berbalik menjadi bersemangat kembali melakukan hobi membaca buku. Dan itu sepaket dengan bersemangat kembali menulis di blog pribadi yang lama bersarang laba-laba karena tak kujamah.
Ada 10 bab dengan beragam topiknya yang dibahas dalam buku ini, yang tak kalah menarik juga setiap bab nya ada coretan ilustrasi dan quotes sebagai kesimpulan dari setiap bab nya. Tentu tak semua saya akan membahasnya dalam tulisan ini. Kalau mau, silahkan membaca langsung bukunya. Saya akan membahas topik dari bab-bab yang menurut saya butuh untuk diri saya. Meski tak dipungkiri semua isinya daging.
Pertama, saya akan mereview singkat bab ‘mencuri ala seniman’. Di buku ini, sang penulis menyampaikan gagasannya bahwa tak ada karya di dunia ini yang benar-benar asli atau orisinal, semua kreasi berasal dari sesuatu yang pernah ada. Tak ada yang seratus persen asli. Jawaban seniman saat ditanya cara berpikirnya, bahwa mereka mencaritahu apa yang layak dicuri dan melanjutkannya. Hanya itu. Di sini saya berpikir mengiyakan semua itu. saya teringat dengan pengalaman saya saat mendampingi murid-murid berkegiatan literasi. Dan ada salah satu murid meminta saya menggambarkan bentuk hewan. Karena saya tak pandai menggambar, namun saya juga tak ingin mengecewakan diri dan murid saya. Saya bilang kalau akan mencari ide contoh gambar di buku. Kemudian saya mencoba menggambar hewan dengan meniru gambar di buku. Awalnya memang seratus persen meniru, namun kemudian saya menggambarnya sendiri. Saya mencoba mengingat pola gambarnya kemudian saya tambahkan imajinasi saya sendiri meski tak sebagus gambar pertama. Benar adanya, bahwa imajinasi selalu terinspirasi dari yang sudah ada. Namun mencuri di sini tak sama artinya dengan plagiasi. Sang penulis menegaskan, bahwa curi ide atau karya orang lain yang kamu idolakan dengan memahami latar belakangnya, kemudian kembangkanlah sendiri.
Kedua, sub bab yang berjudul ‘Mari Belajar’ sangat related dengan profesiku saat ini. Di bab itu penulis menyampaikan dengan padat dan jelas bahwa rasa ingin tahu adalah kunci utama belajar. Ada kutipan dari RZA juga yang dicantumkan, “Ke sekolah atau tidak, aku akan selalu belajar.” Ya, sekolah itu satu hal, pendidikan lain lagi. Sebagai guru yang mengajar di sebuah sekolah, saya menyadari betul bahwa belajar adalah kegiatan yang bisa dilakukan di mana saja dan dengan siapa saja. Namun, sekolah didirikan juga bertujuan untuk memfasilitasi anak-anak di lingkungan yang menumbuhkan dan mendukung kegiatan belajar. Di sekolah tempat saya mengajar, saya seringkali berusaha untuk tak mengabaikan rasa ingin tahu anak, bahkan melibatkan mereka mencaritahu apa yang mereka ingin tahu. Saya tak akan banyak bercerita panjang tentang pengalaman mengajar di sini, karena nanti tak jadi fokus tulisan review buku. Haha
Ketiga, saya ingin mereview bab “Untuk Memulai, Tak Perlu Menunggu Sampai Kau Temukan Jati Dirimu.” Dalam bab ini, ada sub bab berjudul “Berkarya, Kenali Dirimu.” Sang penulis menegaskan bahwa jika menunggu sampai menemukan diri sebelum berkarya, sekarang pasti masih duduk merenungkan itu. Mulai saja berkarya! Lakukan saja membuat karya, mengerjakan tugas, dan hal yang disukai setiap hari. Di saat itulah kita mengenali diri masing-masing. Sama halnya dengan diriku saat ini. Sebelum memutuskan kembali untuk menargetkan membaca buku, saya selalu merenung tentang diri saya, apa yang bisa saya lakukan selain menjadi seorang guru? Saya dulu suka menulis, tapi tulisan saya tak bagus-bagus amat. Dan itu selalu setiap hari saya hanya merenungkannya saja. And now, saya tergugah membaca tulisan Austin Kleon ini. Lakukan saja setiap hari! Dan jangan lupa, targetkan meski sedikit demi sedikit!
Ke empat, Bab “Proyek Sampingan dan Hobimu itu Penting.” Di sini sang penulis menyampaikan bahwa berlatihlah penundaan yang produktif. Ya, selain memang pekerjaan utama dan bersifat rutinitas, jangan abaikan hobi. Sang penulis menyarankan ada baiknya mengerjakan beberapa proyek sekaligus supaya tidak bosan. Bila jenuh mengerjakan satu proyek , bisa pindah ke proyek lain. Jika membuat jemu lagi, kembali ke proyek yang ditunda. Ini tips yang menurut saya unik, berlatih menunda secara produktif. Saya belum pernah melakukan hal semacam ini. Kurang lebih 7 tahun, bahkan lebih jika terhitung dari masa kuliah, saya selalu fokus pada satu proyek atau satu pekerjaan yang harus diselesaikan. Jika ada ide, saya selalu hanya menyimpannya di dalam catatan, malah banyak juga yang tak tercatat dan hilang begitu saja. Ketika saya bosan dengan satu pekerjaan itu, atau ya malas mengerjakannya, saya selalu lari melampiaskannya ke sosial media dan menonton drama korea atau film. Karena itu memang hobi saya yang menyenangkan, haha. Sebenarnya adakalanya saya juga mengelist beberapa pekerjaan, dan saya selalu menundanya dengan bermain social media dengan dalih sekaligus mencari insight, insiprasi, ide tentang kehidupan, atau strategi mengajar. Dan memang saya mendapatkannya hingga markah atau postingan yang saya simpan banyak sekali.
Kelima, ada sub judul membahas tentang rumus bukan rahasia “bekerja dengan baik dan berbagilah”. Ini nyambung dengan pembahasan keempat. Sekarang adalah era internet. Di mana informasi melimpah dan meluap. Lokasi tak lagi jadi masalah. Dua rumus itu penting kita terapkan. Bekerjalah dengan baik dan berkaryalah setiap hari, kemudian sebarkan karyamu di internet. Karena sekarang itu hal yang tak sulit. Tapi, di sini sang penulis juga menyampaikan di sub bab lainnya, bahwa jangan paksakan juga dirimu muncul di internet hanya untuk menyampaikan sesuatu-kamu bisa saja online untuk mencari bahan yang bisa disampaikan. Ya, intinya justru gunakan internet sebagai wadahmu untuk mencari inspirasi, membuat karya, dan membagikannya. Hidup sebagai orang dewasa di 10 tahun ini membuatku sadar dunia internet memang wadah, mau berfungsi baik atau tidak tergantung penggunanya. Semakin saya berselancar di social media, kadang saya semakin menggila. Tapi saya tak mengabaikan kewajiban dan kegiatan di kehidupan nyata lainnya, seperti banyak ngobrol diskusi dengan teman dan mencari circle obrolan yang sesuai kebutuhan dan minatku. Beruntungnya, saya bekerja dan berkarya di lingkungan yang baik. Meski fasilitas adakalanya terbatas, tapi tak ada yang melarangku melakukan hal-hal yang saya minati.
Keenam, ini terakhir yang akan saya review, yaitu tentang pasangan yang tepat. Sang penulis menyampaikan bahwa memilih pasangan adalah keputusan terpenting. “pasangan yang tepat” bukan hanya berarti teman hidup-tetapi juga rekan bisnis dan sahabat yang akan selalu bersamamu. Pasangan yang baik membuatmu selalu membumi. Topik ini juga tak kalah menggugah diriku yang saat ini sedang berpetualang mencari pasangan yang tepat. Tadinya karena saya disibukkan dengan segala aktivitas dan tugas sekolah, saya tak banyak memikirkan pasangan, namun seiring bertambahnya usia saya menyadari bahwa saya tak seharusnya sendiri. Saya tetap butuh pasangan, untuk diri sendiri dan juga keluarga saya. Namun, setelah saya memutuskan ingin menikah, ternyata memilih pasangan tak semudah itu, haha. Bukan saya tipe susah memilih. Yang jelas setelah membaca tulisan Austin Kleon ini, cukup memberiku sudut pandang bahwa tak seharusnya buru-buru dan sembarang memilih pasangan, apalagi hanya karena tuntutan usia, tekanan keluarga, atau melihat teman-teman. Dalam hal ini, senjata utama saya adalah doa kepada Allah yang Maha Kuasa.
Itulah review buku dari penerbit Noura Books ‘Steal Like An Artist’ yang saya kaitkan dengan pengalaman hidup saya. Tentu banyak hal yang tak saya bahas dalam tulisan ini. Buku ini tak tebal dan tak besar. Mudah dibawa ke mana-mana. Menggugah untuk berkarya dan berpikir kreatif. Hanya saja saya masih ingin membaca banyak tulisan Austin Kleon ini, karena di akhir halaman masih banyak coretan yang ternyata dibuang, menurut saya itu tak kalah menarik. Saya belum mencaritahu banyak tentang karya Austin Kleon yang lain. Tapi di profil singkatnya, penulis berumah maya di www.austinkleon.com. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk diri saya dan yang membacanya.
Bulu-Tuban, 10 November 2023


Komentar