Review Buku ‘Your Journey To Be The UltimateU’
Review Buku ‘Your Journey To Be The UltimateU’
Hai Readers, kali ini saya akan mereview buku karya Pak Rene Suhardono yang sudah mulai saya baca sebelum liburan hingga liburan akhir tahun ini. Lagi-lagi saya sengaja menjelajahi buku di perpustakaan sekolah, sampai di titik saya menemukan buku bersampulkan silver dan cukup menyilaukan ketika terkena cahaya. Judul bukunya Your Journey To Be The UltimateU. Buku yang sengaja saya pilih untuk target self improvement.
Sebelum saya mengulas beberapa topik isi buku ini, salah satu kebiasaan saya saat pertama kali membaca buku adalah membaca profil penulisnya. Saya sama sekali tak tahu penulis Rene Suhardono ini, yang merupakan author, public speaker, dan coach. Ya karena saya membaca bukunya, saya mulai mengenalnya. Dengan membaca tulisannya, saya merasa sudah seperti ngobrol dengan penulis ini. Tentu berbeda ketika mungkin ngobrol langsung.
Di awal-awal buku ini, disuguhkan komentar-komentar sahabat penulis. Banyak banget komentarnya, dan itu menggambarkan sosok penulis dan karya-karyanya terutama karya tulisnya di kolom #UltimateU, salah satu kolom di media Kompas. Di antara komentar sahabatnya, ‘Rene Suhardono bisa melihat suatu kejadian “the ordinary story of life” yang sama dengan kita, namun Rene Suhardono bisa melihat dengan lensa yang berbeda.’ Selain itu, ada juga komentar sahabatnya yang saya suka, ‘Whats your story?’ Bukan sekedar cerita pekerjaan, perusahaan, jabatan, dan tempat lahir, tetapi cerita tentang KEHIDUPAN.’
Saya akui, setiap saya membaca buku ini sepulang mengajar atau selesai dari pekerjaan rutinitas, saya selalu bersemangat meski rasanya lelah. Apalagi pas merasakan hampa, langsung saya raih buku ini untuk mengisi kembali diri ini (fulfill).
Banyak sekali topik dalam buku ini, tentang pekerjaan, karir, passion, purpose of life, vision, dreams, contribution, dan lain-lain. Namun saya ingin memilih topik-topik tertentu untuk saya tuliskan di sini.
Pertama tentang menjadi pendengar yang baik dan peduli. Penulis menuliskan pengalamannya berteman dengan Ibu Najelaa Shihab. Bu Najelaa menerapkan teknik mendengar secara agresif dalam berinteraksi dengan anak-anak. Penulis menyampaikan andai bu Najelaa membuka kelas bagi kita semua untuk menjadi penelaah, penyimak, dan pendengar yang (lebih) baik. Kenapa? Karena begitu banyak persoalan dalam dunia kerja yang bisa diselesaikan dengan relatif mudah apabila semua pihak bersedia mendengar sedikit lebih baik. Sesulit apapun problem antarmanusia, tidak ada yang mustahil untuk dituntaskan. Syaratnya cuma satu : PEDULI.
Tulisan tersebut terngiang-ngiang di kepala saya. Guru saya, Mama Nadia yang juga merupakan pengasuh dan ketua Yayasan tempat saya mengajar juga berteman dengan bu Najelaa Shihab. Bahkan bu Najelaa pernah berkunjung ke sekolah kami. Dan itu pengalaman yang sangat bermakna bisa bertemu langsung dan mendengarkan beliau bicara soal pendidikan. Salah satunya memang pentingnya PEDULI dan EMPATI. Karena tanpa rasa itu, kita tak akan tergerak untuk melangkah. Sedikit pun. Hal itu saya alami sendiri ketika saya dulu memilih abai soal sampah. Saya tak terpikir bahwa sampah tak hanya membuat lingkungan menjadi kotor, tapi juga ancaman bagi bumi itu sendiri. Setelah Mama Nadia menggerakkan lingkungan minim sampah dengan nilai-nilai yang ingin beliau tumbuhkan di lingkungan pesantren dan sekolah milik beliau, saya juga ikut termotivasi. Dan sekarang memilih untuk peduli. Rasa sedikit peduli pada lingkungan itu, menggerakkan saya sekarang setidaknya meminimalisir sampah yang dibuang di laut dengan mengurangi dan memilahnya. Karena lingkungan rumah saya, pembuangan sampah masih di laut. Miris memang.
Kedua tentang life is meant for is living. Di salah satu paragraf, penulis menyampaikan bahwa dalam hal mensyukuri ( sekaligus menikmati ) hidup, ia belajar banyak dari sahabatnya Doni Priliandi. Ketidaktahuan, ketidakpahaman dan ketidakmampuan bukan alasan keputusasaan. Karena untuk tahu, paham, dan mampu bukanlah tujuan, namun sekedar bagian dari work-in-progress bernama kehidupan.
Dewasa ini, hal pertama yang saya syukuri setiap hari ketika bangun tidur adalah masih diberi kesempatan untuk hidup dengan sehat. Itu artinya, saya masih diberi kesempatan Allah untuk beribadah, untuk memperbaiki diri, untuk belajar, untuk bereksplor, untuk menjalani tugas-tugasku. Meski ada saatnya saya cemas tentang masa depan, namun saya tak ingin itu mendominasi dan mengambil banyak energi saya sehingga tak menikmati hari ini. Apalagi soal jodoh, saya selalu dibuat resah olehnya. Karena serba belum pasti. Namun saya juga tak mau kehilangan momen dan kesempatan berharga selagi masih sendiri. Karena saya tahu kelak ketika sudah menikah, saya tak lagi hanya memikirkan diri sendiri.
Ketiga tentang pendidikan. Di topik ini, penulis menuliskan pengalamannya menonton film 3 Idiots. Saya juga pernah menontonnya dulu semasa kuliah. Dan bagus banget pelajarannya, bahkan saya sampai terharu. Seringkali saya membaca tulisan dengan topik pendidikan, karena saat ini saya masih berkecimpung di dunia pendidikan. Dan saya berharap saya terus berkarir di bidang ini, karena saya sangat bersyukur dan menikmatinya sekaligus merasa diri ini bermakna ketika tahu bahwa sudah berkontribusi, meski harus terus berefleksi. Satu kesimpulan di topik ini yaitu Pendidikan bukan soal “belajar apa” ( What To Learn), tapi “Bagaimana belajar” ( How To Learn). Bagaimana dengan kita?
Keempat tentang karir. Dulu, saya berpikir karir sama dengan pekerjaan. Keduanya tak ada beda apapun tujuannya. Setelah membaca buku ini, saya baru tahu detil perbedaannya. Pekerjaan adalah alat, tidak lebih dan tidak kurang. Your Career is yours. Your Career is You. Karir bicara tentang passion ( segala hal yang sangat diminati), purpose of life ( segala hal yang paling penting dalam hidup ), dan values ( segala hal yang diyakini ). Karir juga punya ujung kebahagiaan dan ketercapaian, our own happiness and fulfillment in life. Dan semua itu sejalan dengan kata KONTRIBUSI.
Banyak yang ingin aku sampaikan tentang karir ini, tapi lebih jelasnya bisa membaca bukunya langsung saja. Awalnya saya menganggap profesi guru yang saya jalani saat ini adalah pekerjaan. Namun sejak dulu, dalam hati kecil saya, saya tak ingin menjalani profesi ini untuk sekedar pekerjaan yang identik hanya karena mendapatkan uang. Meski tetap saya juga tak memungkiri membutuhkan uang untuk kesejahteraan hidup saya. Namun selalu saya kembalikan, materi yang saya dapatkan kembalinya ke diri saya sebagai guru untuk turut berkontribusi dalam dunia pendidikan di Indonesia. Saya suka membersamai proses belajar anak-anak. Dan saya ingin membantu anak-anak belajar untuk siap hidup yang lebih baik.
Kelima tentang ekspektasi. Sekarang saya lebih berhati-hati untuk berekspektasi. Entah kenapa kalau bicara tentang ekspektasi selalu saya anggap tentang harapan yang tinggi, bahkan ketinggian. Terus jatuhnya tak sesuai ekspektasi dan sakit banget. Tantangan tersendiri bagi saya harus menyesuaikan ekspektasi dengan realita. Kadang malah memilih tak berekspektasi apapun. Namun di buku ini ada topik Great Expectations : Your Next Big Thing. Ini bukan soal ketinggian ekspektasi. Tapi soal semangat melakukan perubahan. Seperti yang dituliskan penulis, ‘Mencapai sekedarnya, menempuh rutinitas dan menjadi biasa-biasa saja memang mudah, namun cenderung membosankan. Hidup sekedarnya tidak akan pernah memenuhi syarat menjadi diri sendiri yang terbaik. Kenapa tidak melakukan perubahan sekarang?’
Keenam tentang kepercayaan diri dan kenyamanan. Di topik ini penulis menceritakan pengalamannya memakai pakaian yang ia nyaman ketika di acara tertentu. Saya juga punya pengalaman terkait pakaian. Saya tipe orang yang lebih suka dan nyaman memakai pakaian casual seperti kaos bahkan di acara-acara komunitas pendidikan. Namun suatu saat saya pernah ditegur untuk memakai pakaian formal ( batik ) di sebuah acara komunitas tertentu. Dan semenjak itu, saya belajar menyesuaikan outfit dengan melihat acara dan komunitasnya. Tapi beruntungnya, aktivitas sehari-hari di tempat saya mengajar memberi keleluasaan untuk memakai pakaian, yang penting pantas dan sopan. Penulis menuliskan, ‘Menjadi diri sendiri tidak berarti banyak apabila tidak banyak hal menarik yang bisa ditawarkan. Ketertarikan awal memang diawali dari penampilan, namun selebihnya tergantung pada kejujuran dan ketulusan berperilaku. Bagi yang mempertanyakan pilihan pakaian Anda, jawab saja : Don’t Judge a Book By it’s Cover.
Ketujuh tentang peran wanita. Ini topik terakhir yang saya pilih untuk diulas. Penulis menceritakan tentang peran penting para wanita dibalik kehidupannya, yaitu sang ibu, istri, dan rekan kerja yang memotivasinya. Penulis merasa beruntung dikelilingi figur-figur wanita kuat, yang selalu mendukung pilihan hidupnya. Saya senang sekali membaca bagian ini karena meski saya belum bersuami, rasanya senang ada laki-laki yang memberikan apresiasi pada wanita karena perannya yang luar biasa. Sesederhana mengurus rumah. Saya juga bercita-cita hidup dengan pasangan yang mensupport wanita berkarir. Dan saya juga akan belajar bagaimana menjalani multiperan dalam rumah tangga. Terutama menjalani peran sang Ibu.
Itu tujuh topik yang bisa saya review berdasarkan sudut pandang saya pribadi. Buku yang tebalnya 261 halaman ini sungguh asyik untuk self improvement. Apalagi di saat-saat musim libur yang banyak waktu luangnya. Sebagai pembaca, tetap saya sarankan membaca bukunya langsung. Buku ini termasuk buku lama, diterbitkan pada tahun 2011 oleh Penerbit Buku Kompas. Semoga bermanfaat tulisan ini.
26 Desember 2023


Komentar