Review Buku Manajemen Leha-Leha

 

Review Buku Manajemen Leha-Leha


Liburan semester ganjil yang lalu, saya banyak menghabiskan waktu di rumah dengan lebih banyak main social media dan membaca buku. Seperti menemukan momen yang pas, saya juga membaca buku yang berjudul Manajemen Leha-Leha karya Nishida Masaki. Buku ini ditulis oleh seorang psikiater yang banyak menangani orang insomnia dan depresi. Buku yang diterbitkan oleh penerbit Haru ini berjumlah 228 halaman. Banyak topik yang sangat relate dengan kehidupan sehari-hari yang dibahas dari kacamata psikiater.

Bab 1 membahas tentang teknik beristirahat dengan telaten dan melonggarkan gaya hidup. Bab 2 membahas tentang teknik beristirahat dengan membuat tubuh santai. Bab 3 tentang teknik meningkatkan performa dengan berlibur pintar. Bab 4 tentang teknik beristirahat dari hubungan antarmanusia. Dan bab 5 membahas tentang teknik beristirahat dari hal yang harus dilakukan. Semua tentang teknik istirahat. Karena istirahat adalah kebutuhan manusia.

Membaca buku ini cukup memberikan energi positif untuk pikiran dan perasaanku yang seringkali kepala sibuk memikirkan banyak hal, meskipun sepertinya tubuh sudah beristirahat. Masih chatting dengan rekan guru membahas perihal sekolah sampai larut malam, belum lagi overthinking soal masa depan. Namun dengan membaca buku ini, cukup membuat diri saya memahami arti penting dari sebuah kata ‘istirahat’. Bahkan hati pun perlu diistirahatkan.

Di tulisan kali ini, saya ingin mengupas salah satu dari sekian banyak pelajaran dari buku ini, yaitu tentang hubungan berbahaya antara semangat tinggi,  depresi, dan rasa lelah. 

Bicara soal depresi, saya sebenarnya tidak banyak tahu. Yang saya tahu, orang yang depresi seperti orang sakit jiwa. Hingga akhirnya saya menonton series Netflix ‘Daily Dose of Sunshine’ yang menceritakan tentang perawat yang bekerja di poli kesehatan jiwa di salah satu rumah sakit Korea Selatan. Perawat itu mengalami depresi, padahal ia dikenal orang yang baik. Namun ia terlalu menjaga perasaan orang lain hingga ia mengabaikan perasaannya sendiri. Dan itu tidak ia sadari yang akhirnya menumpuk dan lama-lama menjadi penyakit depresi.

Kalau dalam buku Manajemen Leha-Leha dikatakan bahwa ada fenomena ‘hati yang patah’. Tiba-tiba tubuh dan perasaanmu tidak bisa dikendalikan. Kau tidak bisa bangun dari kasur padahal selama ini bersemangat menjalani pekerjaan. Apabila tidak beristirahat dan memaksakan diri, risiko kelelahan jiwa dan raga akan jadi tinggi.

Dari topik pembahasan di atas, saya jauh lebih memahami apa itu depresi. Ya, itu adalah kelelahan yang diabaikan dan menjadi penyakit jiwa. Yang saya pelajari lagi baik dari series ‘Daily Dose of Sunshine’ maupun buku Manajemen Leha-Leha ini untuk mengatasi depresi adalah, kita harus menerima dulu kondisi kita, dan kemudian melakukan tindaklanjut penyembuhan. Kalau di rumah sakit ditangani dokter akan diresepkan obat, dan melakukan terapi salah satunya adalah jurnaling diri. Menuliskan pengalaman hidup yang diingat dan menandai mana perasaan atau emosi yang muncul, banyak perasaan ( emosi ) negatif atau positif.



Entah mengapa saya tertarik dengan topik kesehatan mental akhir-akhir ini. Ini mendorong saya banyak mencaritahu tentang topik tersebut. Yang menarik lagi dari buku manajemen Leha-Leha adalah kita diberitahu gejala kondisi mental yang perlu ditangani dan tips dari penulis untuk mengatasi berbagai masalah psikis yang memang konteksnya adalah orang Jepang, terutama yang merasa bersalah ketika istirahat dari pekerjaan. Namun juga relate dengan kondisi manusia pada umumnya. Berikut beberapa tips manajemen leha-leha seperti memanfaatkan waktu libur dengan bepergian di tempat terdekat supaya tidak terlalu memikirkan perencanaan yang panjang, menanti hal yang menyenangkan di akhir pekan, mengambil cuti hati dengan mengambil waktu sendiri, mengistirahatkan perasaan dengan menurunkan level ‘terlalu mejaga sikap’ menjadi ‘menjaga sikap’, melakukan breaktime dengan melakukan hal yang disukai seperti menonton film kesukaan, memasak, menggambar, dan lain-lain.

Mungkin terakhir, saya akan mencuplik kalimat dari buku ini yang menguatkan kita tentang pentingnya istirahat ;

Kemampuan mengingat, memutuskan, dan mengontrol perasaan akan hilang ketika kita sibuk. Karena kemampuan working memory kita menurun. ( hal 119 )

Istirahat dapat menghasilkan fleksibilitas dan daya tahan terhadap jadwal padat. Secara mental istirahat membuat hatimu lebih lapang, meningkatkan kemampuan mengembangkan gagasan dan dalam waktu yang sama meningkatkan konsentrasi dan produktivitasmu. ( hal 130 )

 

Jumat, 16 Februari 2024

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menemukan Teman dan Klub Baca Buku

Agustusan Tidak Sekedar Lomba

Cita-Cita Tak Pernah Mempersoalkan Usia