Pelan, Tapi Tetap Jalan!

 

Pelan, Tapi Tetap Jalan!



Seringkali diri ini merasa terburu-buru atau tergesa-gesa supaya segalanya terwujud sesuai ingin. Dalam hal apapun. Semakin dewasa ini, saya tahu bahwa untuk mencapai hal tertentu butuh proses yang panjang dan mendalam. Namun tetap saja, di waktu-waktu tertentu diri tetap ingin semuanya berjalan cepat. Dampaknya, diri selalu dihantui rasa cemas, pikiran berlebih, dan kekhawatiran. Semua itu membuat diri tidak bisa menikmati setiap momen hidup ini. Padahal semakin bertambahnya usia, diri ingin tenang dan damai dari karut marutnya kehidupan. Percaya bahwa semuanya akan datang dan tercapai di waktu yang tepat.

Saya belajar dari pengalaman saya menghadapi beberapa situasi dalam hidup saya. Seperti baru-baru ini yang saya alami. Saya sakit tenggorokan dan cedera otot bagian dada karena kecapekan. Karena saat saya merasakan sakit itu di tengah harus menyelesaikan tugas, saya ingin cepat sembuh. Namun langkah yang saya ambil, saya terburu-buru ingin sembuh dan melakukan tips untuk memulihkan tubuh dengan cepat. Padahal, tubuh saya butuh istirahat lebih lama. Tidak hanya tubuh saya, tapi juga pikiran saya. Akhirnya saya memilih lebih berdamai dan menerima dulu rasa sakit yang saya alami. Alih-alih saya ingin cepat pulih, saya mencoba menikmatinya dengan mulai memperlambat dan pelan menjalani proses pemulihannya. Terus berdoa, berusaha minum obat sesuai saran dokter, dan istirahat total tanpa memikirkan tugas. Bosan melanda karena saya harus rebahan berhari-hari. Namun saya pelan-pelan menikmati rasa bosan itu. Dan semua itu terlewati begitu saja.

Saya juga pernah mengalami kekesalan lemotnya aplikasi WhatsApp saya saat mengirim foto. Karena saya punya kebutuhan untuk mengirim foto di grup sekolah, saya tergesa-gesa untuk memencet tombol send tanpa memedulikan peringatan layar hitam. Dan akhirnya WhatsApp saya error. Saya kesal saat itu, namun saya juga lekas menyadari bahwa tindakan saya sangatlah sembrono hanya gara-gara ingin cepat. Akhirnya saya mulai pelan membuka kembali aplikasi WhatsApp saya dan membiarkannya bekerja dengan kelemotannya. Dan Alhamdulillah akhirnya berhasil terkirim.

Beberapa hari yang lalu, saya juga membaca buku yang isinya naskah drama dari penulis Puthut EA. Bukunya berjudul ‘Orang-orang yang Bergegas’. Menceritakan tentang sebuah keluarga yang banyak dari anggota keluarganya selalu bergegas pergi keluar rumah karena sibuk dengan aktivitasnya. Hanya seorang ibu yang memeluk rasa sepinya menunggui rumah sambil menyaksikan datang dan pergi suami dan anak-anaknya. Banyak dialog antara si ibu dengan suami dan anak-anaknya di kala mereka berada di rumah, dan itu yang membuat hangat ceritanya. Mengingatkan kembali bahwa tempat damai untuk pulang tetaplah rumah, meski pada akhirnya bergegas kembali untuk meninggalkan rumah setiap harinya. Membaca buku itu mengingatkan pada pengalaman saya sendiri. Saya sering bergegas keluar rumah tanpa banyak berdialog dengan orangtua. Namun, saya tahu bahwa saya hanya perlu pelan untuk berjalan sesuai waktunya. Saya upayakan untuk tidak sering terburu-buru pergi, namun tepat waktu. Begitu pula perihal jodoh. Saya hanya ingin yakin bahwa Allah sudah mengatur waktu yang tepat. Alih-alih terburu-buru ingin cepat bertemu jodoh karena usia semakin bertambah, saya upayakan pelan-pelan saja namun tetap jalan usaha dan doanya memperbaiki diri setiap hari.

Manusia memang punya sifat tergesa-gesa, maka dari itu kita selalu butuh pengingat untuk tetap sadar utuh bahwa kehidupan tetap berjalan meski prosesnya pelan.

 

24 Desember 2024

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menemukan Teman dan Klub Baca Buku

Agustusan Tidak Sekedar Lomba

Cita-Cita Tak Pernah Mempersoalkan Usia