Ada Lebih Dari yang Terlihat
Ada Lebih Dari yang Terlihat
Libur sekolah yang tak panjang, hanya seminggu. Namun cukup untuk jeda dari hiruk pikuk tugas. Pertengahan bulan Juni, aku bertekad untuk menulis setiap hari. Dan ingin aktif mempublikasikannya ke Medium atau blog. Namun banyak tulisan selalu berakhir di buku diary atau draft jurnal harianku. Bahkan numpuk di list bank ideku. Aku belum percaya diri mempublikasikannya ke Medium atau blog, kendati tak ada yang membaca. Entah mengapa, aku lebih konsisten membaca tulisan-tulisan di Medium. Belum untuk mempublikasikan tulisan. Aku masih harus belajar menyajikan tulisan yang layak dibaca orang lain.
Tiga hari di awal masa libur, Alhamdulillah aku bisa setiap pagi menulis jurnal. Aku niatkan untuk mengurai pikiran dan perasaan yang saat itu memang lagi dihadapkan masalah hingga membuatku overthinking sepanjang hari. Dan menulis memang ampuh untuk meredakan keruwetan pikiran dan perasaanku saat itu. Namun aku tak pernah terpikirkan untuk mempublikasikannya ke manapun. Aku memilih untuk menyimpan sendiri tulisanku itu.
Hari keempat libur, pagi hari tiba-tiba ada telepon masuk yang menginfokan bahwa ada rapat mendadak di sekolah. Rapat itu penting dihadiri. Karena itu, aku lagi-lagi tidak menyempatkan menulis dulu. Aku langsung terfokuskan pada agenda rapat meski masih membawa kesedihan dari masalah yang belum usai. Dan entah mengapa hari itu aku ingin terlihat baik-baik saja di depan teman-temanku. Aku tak ingin terlihat sedih. Saat aku berinteraksi dengan teman-temanku, saat ditanya gimana kabar selama 3 hari libur, dengan senyum yang kupaksa aku bilang ‘baik-baik saja’. Ya, aku pura-pura.
Ada lebih dari yang terlihat.
Setelah jeda satu hari tak menulis, aku kehilangan semangat menulis lagi. Pagi setelah subuh yang biasanya aku sangat bersemangat membaca buku dan menulis jurnal, tiba-tiba hari itu tak ada semangat. Sekalipun aku paksa, yang ada aku hanya menatap lama buku dan layar laptop yang tak kunjung aku nyalakan. Aku melamun, dan tiba-tiba aku menangis sejadi-jadinya mengingat masalahku. Akhirnya, hari itu aku tak memaksa diriku membaca buku dan menulis. Aku menerima perasaanku dulu. Secara utuh.
Aku tak mau menghabiskan waktu libur ini dengan sering overthinking. Karena masa libur ini aku tak bisa ke mana-mana, aku membuat list kegiatan yang bisa aku lakukan di rumah selama libur. Aku bersih-bersih rumah, menata lemari baju, lebih banyak membaca buku dan al-Quran, menulis setiap hari, dan menonton drama kesukaan. Di hari di mana aku tak bersemangat membaca dan menulis, aku akhirnya memilih untuk menonton drama korea sepanjang hari. Itu membuatku cukup terhibur dan tidak overthinking.
Aku menonton drama yang berjudul Our Unwritten Seoul. Aku tak akan menuliskan banyak tentang drama itu. Aku hanya ingin menuliskan satu adegan yang membuatku terinspirasi tetap menulis. Ketika tokoh utama drama itu yang bernama Yu Mi Ji ingin menuliskan resume tentang dirinya untuk syarat melamar kerja di sebuah kebun stroberi, namun Yu Mi Ji bingung akan menuliskan apa tentang dirinya. Setiap kali dia ingin menulis, dia merasa tertekan dan merasa tidak bisa. Hingga akhirnya dia menuliskan satu kalimat ‘Ada lebih dari yang terlihat’.
Seperti remeh, tapi setelah itu aku terinspirasi membuka buku diaryku, dan aku menuliskan satu kalimat ‘Ada lebih dari yang terlihat’. Aku bilang pada diriku, aku sudah menulis hari itu. Ya, aku sudah menulis meski sedang tak ingin.
Kadang, satu kalimat pun sudah cukup mewakili perasaan dan pikiran, bukan? Kadang, satu kalimat pun sudah cukup mewakili ide, bukan? Meski pada akhirnya aku menuliskan pengalaman ini dengan banyak kalimat.

Komentar