Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2025

Perempuan dan Masa Penantian

Gambar
  Perempuan dan Masa Penantian Picture from Unsplash “ Perempuan tidak tertekan oleh kelajangannya, ia tertekan oleh pandangan dan perlakuan orang-orang sekitarnya terkait kelajangannya .” Kutipan dari buku ‘Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan.’ “ Kamu kalah dari dia (adik kelas), dia sudah menikah lebih dulu” . Komentar salah satu tetangga terhadapku. Ucapan itu terngiang di telinga hingga masuk ke hatiku sampai saat ini. Aku tidak sakit hati lagi, karena aku tahu maksudnya tidak ingin menyakiti hatiku, melihat ekspresinya itu obrolan basa basi yang sebenarnya mungkin ingin menyampaikan kepeduliannya terhadapku. Hanya saja caranya dengan melontarkan komentar yang melukai hati. Ucapan itu terngiang, mengapa aku dianggap kalah hanya karena belum menikah? Sejak kapan pernikahan itu menjadi ajang perlombaan antar perempuan? “ Kamu terlalu pemilih, semakin tua, nanti semakin sulit jodohnya .” Komentar lain yang pernah kudengar. Namun saat itu aku mengabaikannya. Awaln...

Agustusan Tidak Sekedar Lomba

Gambar
  Agustusan Tidak Sekedar Lomba Memaknai Kemerdekaan Lebih Dalam Lagi Merayakan kemerdekaan sedang ramai-ramainya dilakukan oleh banyak masyarakat Indonesia. Di daerah saya, ada banyak event yang diadakan seperti lomba-lomba tradisional antara lain panjat pinang, tarik tambang, balap karung, memasukkan paku ke dalam botol, gerak jalan, karnaval, dan lain-lain. Bahkan, beberapa hari yang lalu saya mendampingi murid-murid mengikuti kegiatan perkemahan selama tiga hari dua malam, ada banyak kegiatan yang dikemas dalam konsep lomba. Lomba pionering atau tali temali, lomba menari, lomba memecahkan sandi, lomba yel-yel, dan lain-lain. Merayakan kemerdekaan atau istilah lainnya Agustusan dengan konsep perlombaan sudah menjadi tradisi tahunan banyak masyarakat  Indonesia kita. Saya tidak akan banyak membahas tentang seluk beluk mengapa lomba banyak dilakukan untuk menyemarakkan kemerdekaan. Tentu banyak juga bentuk perayaan yang lain. Saya juga bukan tidak setuju adanya lomba, ...

Bermain Dengan Buku

  Bermain Dengan Buku Sebuah Refleksi Diri untuk Kembali Berinteraksi dengan Buku Hari yang sibuk selalu menjadi alasan untuk tidak membaca buku. Setiap kali pulang dari rutinitas mengajar, rapat, dan menyelesaikan segala administrasi, bukan buku lagi sebagai teman rehat. Tapi lagi-lagi ponsel dan media sosial yang masih mendominasi untuk menghilangkan penat. Hampir dua minggu aku merasa bersalah dengan buku-bukuku yang biasanya aku sapa setiap hari dengan penuh perhatian, akhir-akhir ini aku abaikan. Aku juga mengabaikan diriku yang ingin sekali membaca buku walau sebentar namun seringnya berujung pada scrolling media sosial hingga tertidur. Bahkan paling merasa bersalah adalah ketika para ponakanku menghampiriku ingin dibacakan buku yang biasanya aku lakukan bersama mereka, namun beberapakali aku menolaknya karena alasan capek dan butuh me time. Aku akui, awal Agustus ini adalah hari-hari yang padat. Aku merefleksikan diriku. Adakalanya aku tidak terlalu menyesal waktu reha...

Cita-Cita Tak Pernah Mempersoalkan Usia

Gambar
Menilik makna cita-cita di buku Cita Untuk Perempuan yang Tidak Sempurna “ Bu, Bu Guru cita-citanya apa? ” Tanya salah satu anak didikku saat sedang bersantai pada jam istirahat. Aku tercengang tak langsung menjawab. Aku tersenyum padanya sambil merenung, ouh sedewasa ini pun masih pantas ditanya cita-cita. Bukankah seharusnya aku yang melontarkan pertanyaan itu ke anak-anak untuk memupuk semangat mereka menatap masa depan. Namun persepsiku terpatahkan oleh pertanyaan anak didikku itu. Alih-alih aku langsung menjawabnya, aku tanya balik ke dia. “Kalau kamu cita-citanya apa?”, tanyaku. Ia menjawab, “Cita-citaku pengen jadi youtuber, Bu. Kalau bu Guru sudah jadi guru cita-citanya udah tercapai ya?” Aku tertawa geli mendengarnya. Aku menjawab iya atas pertanyaan dia. Dan aku bilang, “Bu Guru masih punya banyak cita-cita lain yang ingin diwujudkan. Dan anak didikku itu lantas bersemangat bilang bahwa ia juga ingin punya banyak cita-cita yang diwujudkan. Obrolan itu berakhir ketika bel ...