Rindu yang Terobati di Hari Ayah
Rindu yang Terobati di Hari Ayah
Kesepian
itu sungguh menyesakkan
Belum lagi
ditambah rindu
Sudah
terbiasa memeluk kesendirian
Namun kali
ini lebih terasa pilu
Waktu terus
berjalan ke depan tanpa pernah menoleh
Bukan jenuh,
tapi ada rasa aneh yang tertoreh
Pulang dari
mengajar, rumah tampak sepi
Sapa ayah yang
biasanya menyambutku, untuk sementara diganti sunyi
Duh,
ternyata diri tak sesiap itu ditinggal pergi
Meski tahu
hanya sementara
Kursi di
depan TV tampak kosong tanpa ada yang singgah
Aku hanya
menatapnya karena merasa tak perlu duduk di sana
Bayangan
laki-laki tua sekelebat terlihat
Namun aku
cepat sadar bahwa itu hanya ilusi akibat dari rindu yang berat
Aku
langsung menuju ke ruangan ternyamanku
Mengabaikan
sejenak ruang-ruang yang tak berpenghuni
Tiba-tiba
sosok ayah terus berputar-putar di kepalaku
Dan hatiku
bertanya-tanya, sedang apa beliau di sana? Ngobrol sama anak pertama dan
cucunyakah? Atau lagi menyeruput teh hangat? Atau sedang jalan-jalan?
Aih,
sejenak aku mendefinisikan rasa ini
Ternyata
aku sedang benar-benar rindu
Aku mencoba
meraih ponsel dan mengirim pesan pada kakak perempuan pertamaku
Aku bertanya
memastikan ayah baik-baik saja di tempat baru
Kakakku
dengan cepat membalas ayah sungguh baik-baik saja
Malah terlihat
senang menikmati suasana baru
Benar-benar
melepas jenuh
Ah, rupanya ayah tampak bersemangat di rumah anak pertamanya
Setelah
sekian lama memeluk sepi di rumah sendiri bersamaku
Perlahan,
rasa rindu yang menyesakkan berubah sedikit lega
Senja
menyapa, aku mulai bangkit
Mengamati dan
hadir sepenuhnya untuk rumah ini
Aku sendirian,
rasanya ada kebebasan tersendiri
Tapi rasa
sepi lebih mendominasi
Aih, apakah
bebas konsekuensinya harus kesepian?
Entahlah
Aku mulai
melakukan yang biasanya dilakukan ayahku
Membersihkan
sudut ruang yang jarang aku hampiri
Menutup
korden dan jendela ruang tamu
Membuang sampah
dan menyalakan lampu-lampu
Malamku
kembali sepi
Hanya aku
seorang diri penghuni rumah
Aku menepis
rasa sepi itu dengan kesibukan diskusi sana sini
Melihat video-video
pendek yang menghibur diri
Membaca buku
untuk menyibukkan kepala
Dan sampai
akhirnya tiba-tiba aku membatin, sepertinya memang aku butuh menikah.
Lantas, apa
aku benar-benar sudah menyiapkannya?
Dua minggu
berlalu
Sepulang
aktivitas di luar, aku mulai terbiasa menikmati kesendirianku di rumah
Dan hari di
mana orang-orang bilang Selamat Hari Ayah
Sesampainya depan rumah, suara Ayah
tiba-tiba terdengar jelas di ruangannya
Aku buru-buru
masuk rumah
Ku lihat
sosoknya dengan segala gaya khasnya telah duduk di kursi favoritnya
Aku tersenyum menyapanya
Pun beliau
Kesendirian
dan rasa sepi yang bersarang di hati selama beberapa hari
Sesaat
hilang seperti rasa sakit yang terobati
Hanya dengan
tahu bahwa sosok Ayah kembali di tempatnya
Kembali
berjalan di setiap sudut rumah
Rasanya
begitu lega
Rasanya tak
lagi hampa
Rasanya rumah kembali berwarna setelah redup
Dan senjaku kembali lebih hidup

Komentar