malam berbintang yang sunyi
Malam Berbintang yang Sunyi
Oleh : S_R
Malam ini bintang bertaburan dan kerlap kerlip indah.
Menawan hati pemandangan langit malam yang sunyi ini. Aku begitu rindu tidur di
dekapnya, aku rindu nyanyian yang mengantar mataku terpejam. Aku rindu tutur lisannya
yang membacakan dongeng kala aku resah tak bisa bermimpi indah. Aku sangat
merindukan sosokmu mbok Inah.
Pukul tujuh aku harus siap berangkat sekolah. Tapi
bagaimana aku harus siap, memakai seragam pun aku kesulitan, apalagi menalikan
tali sepatuku. Buku sudah aku siapkan tadi malam sebelum tidur, dan sudah
kumasukkan ke dalam tas. Tapi untuk memakai seragam, ah memasukkan kancing baju
yang membuatku sulit. Andai saja mbok inah, pengasuhku ada di sini, takkan
susah aku setiap kali akan berangkat sekolah. Tiba-tiba aku ingin menangis,
menjerit dan marah. Kenapa mbok Inah pergi tak bilang-bilang, kenapa aku
ditinggal sendiri di rumah besar ini. aku masih kecil untuk menempati rumah
orang tuaku yang bahkan tak pernah mengunjungiku. Mbok Inah kenapa tak
kembali-kembali, aku butuh mbok Inah seperti dulu, yang selalu mencurahkan
waktu dan perhatiannya pada hidupku.
Pukul tujuh sudah lewat, aku masih menangis dan memegang
seragamku. Aku ingin berangkat sekolah, tapi bagaimana caranya. Semakin aku
ingat mbok Inah, semakin aku ingin berteriak. Sempat pula pikiran negatif
menghampiri otakku, mbok Inah tega menelantarkan bocah sepertiku, mbok Inah
jahat! Jahat! Jahat! Ah aku harus bagaimana sekarang? Apa aku harus terus
menangis dan menunggu mbok Inah datang. Tapi mbok Inah sudah pergi terlampau
lama. Satu hari mbok Inah menghilang sejak aku pulang sekolah kemarin, tak ada
yang menjemputku. Waktu itu aku terus menunggu mbok Inah untuk menjemputku.
Tapi sampai sore, mbok Inah tak menampakkan wajah teduhnya. Akhirnya aku
terpaksa diantar pulang bu Shamila. Sampai pulang pun tak kuketahui
keberadaannya. Aku kesepian, tak ada yang menemani bermain. Aku semakin ingin
menangis dan menjerit.
Perutku mulai keroncongan, sejak tadi malam aku tak makan
nasi. Hanya susu yang tersisa di kulkas yang aku minum. Ada satu bungkus
biskuit bekal aku sekolah. Aku bingung, aku tak paham semua ini. mbok Inah
kembalilah, kembali dan ajak aku kalau kau pergi. Jangan biarkan aku sendiri.
Aku mulai takut. Tangisku pecah dan kulepaskan semua suaraku. Mbok Inah,
kembalilah!
Selang beberapa menit, bu Shamila datang menghampiri
tubuhku yang lemas. Pandanganku sudah tak begitu jelas, buram dan akhirnya
gelap. Tapi aku merasakan hangatnya pelukan, seperti pelukan mbok Inah. Ah,
barangkali mbok Inah sudah kembali. Kepalaku berat dan aku tak ingat apa-apa.
Aku merasakan segarnya air yang seakan mengalir di setiap
sela tubuhku. Dingin! Mataku ingin terbuka, rasanya sudah lama tidurku.
Perlahan mataku terbuka dan bayangan mbok Inah di depanku, namun lama-lama
bayangan itu menjadi nyata. Ternyata benar-benar mbok Inah yang wajahnya teduh.
Sontak aku langsung memeluknya. Aku menangis sejadi-jadinya karena takut
ditinggal olehnya lagi. Mbok Inah balas memeluk erat tubuh kecilku. Saat
kulepas pelukan, mbok Inah ternyata menangis. Aku mencoba mengusap air matanya
dan bialng kalau aku sangat merindukan dirinya, aku sangat takut kala mbok Inah
meninggalkan diriku sendiri. Aku sayang mbok Inah, teramat sayang. Namun mbok
Inah semakin deras saja air matanya, aku tak mengerti. Aku kembali dipeluknya,
dan mbok Inah membisikkan kata-kata lembut di telingaku, “mbok Inah juga amat sayang dirimu Nabilla
gadis kecilku yang cantik. Kelak kau akan menjadi wanita yang amat cantik,
bahkan bidadari bisa saja iri melihat kecantikanmu kelak. Jaga dirimu, mbok
Inah selalu ada di sisimu di setiap malam yang berbintang dan kerlap kerlip
indah.
Sekian
Komentar