recto verso
RECTO
VERSO
Oleh
: S_R
Sorot
mata itu seolah-olah bicara, meski kadang terlihat redup. Bahkan ketika mata
itu terpejam aku bisa merasakan apa yang ada di dalam bayangan mata itu. Kala
kau menatap bola mataku, binar matamu tampak cerah meski kadang masih basah
oleh embun air mata. Kala kau tak memandangku, tapi aku tahu bola hitam matamu
itu mencari keberadaanku. Kau gerakkan ke kanan, namun jika tak kau temukan
diriku, kau alihkan dan gerakkan ke kiri. Kala kau sudah menemukan sosokku,
senyum tersungging dari bibir kecilmu. Aku merasakan apa yang kau rasakan kala
itu, kau lega dan senang telah menemukan keberadaan diri yang mungkin ada yang
tak mengharapkan kehadiranku.
Aku
tahu semua yang kau rasakan kala itu. Kala kau berada di sisiku, berada di
dekatku yang mungkin hanya berjarak lima sentimeter. Tingkahmu serba salah dan
perkataanmu semrawut seakan lidahmu kaku kala itu. Padahal aku juga tahu kalau
biasanya lidahmu begitu fasih untuk berkata-kata dan tingkahmu natural. Jika kau tak senang pada sesuatu,
kau tampakkan tingkah yang orang lain mudah menebak apa yang kau rasakan.
Begitu pun kalau kau senang pada sesuatu, tingkahmu membuat orang di sekelilingmu
ikut senang meski tadinya biasa-biasa saja. Apalagi mimik wajahmu itu, sangat
mudah mengekspresikan perasaan dalam balik dadamu. Ah, kau begitu mudah
dipahami, apalagi denganku yang peka terhadap sikap orang lain.
Aku
juga tahu tangan siapa yang menulis puisi indah itu. Meski puisi itu tak secara
langsung ditujukan pada diriku, tapi aku tahu kau telah selipkan inisial namaku
di dalam kalimat indah itu. Aku tahu, banyak sekali inisial nama yang sama
denganku, tapi entah mengapa aku yakin kalau itu adalah nama inisial yang
ditujukan pada diriku. Ah, kau saja yang terlalu pintar menyamarkan semuanya.
Kau begitu pandai dalam merangkai kata-kata yang tak semua orang mengerti makna
kata-katamu.
Aku
memang seakan-akan tahu tentang semua yang kau rasakan. Tapi, yang tak bisa
kumengerti darimu adalah mengapa lidahmu tak mau mengatakan semuanya.
Mengungkapkan apa yang ada di balik dadamu kepadaku. Mengapa kau seolah-olah
tak terjadi apa-apa kepadaku. Padahal sudah jelas matamu, tingkahmu bahkan
sikapmu kepadaku berbeda. Apakah mungkin aku yang terlalu gede rasa menaggapi
tingkahmu. Atau apa? Ah, kau membuatku tidak mengerti meski aku tahu dirimu.
Tahu belum tentu mengerti, tahu belum tentu memahami. Memahami juga belum tentu
yang dipahami tahu, kalau tak ada pengungkapan. Uh, membimbangkan. Aku ingin
kau mengatakannya langsung di hadapanku, akan aku pasang betul-betul telingaku
untuk mendengarkan. Akan aku pasang wajah serius untuk memperhatikan. Akan aku
siapkan hati untuk menerima apapun deretan kata yang kau ucapkan tentangku.
Tapi sepertinya kau tak punya keberanian untuk mengungkapkannya. Tapi sekali
lagi aku tahu kalau kau adalah orang yang berani mengatakan apapun. Dan
entahlah, sampai sekarang aku masih menantimu untuk mengungkapkannya. Meski
kadang aku tak mengaharapkannya. Sekian
Komentar