memahami perbedaan laki-laki dan perempuan
Artikel
Memahami Perbedaan Laki-laki dan Perempuan
Oleh : Siti Rodliyah
Berbicara tentang perbedaan laki-laki dan
perempuan, seringkali terlintas di dalam pikiran kita tentang isu gender. Itu
hal biasa, apalagi pada masa sekarang banyak pengaruh oleh pemikiran feminism.
Gender berbeda dengan seks. Seks di sini yaitu jenis kelamin. Secara kodrati
yang membedakan laki-laki dan perempuan adalah jenis kelamin dan organ fisik
itu sendiri. Perlu diketahui bahwa perbedaan laki-laki dan perempuan dalam hal
ini secara umum penelitian ilmiah menunjukkan bahwa seperti perbedaan kulit.
Kulit laki-laki lebih tebal daripada kulit perempuan. Oleh sebab itu, ketika
beranjak umur perempuan cenderung lebih cepat tua karena kulit cepat keriput,
daripada laki-laki yang cenderung awet muda. Perbedaan pita suara perempuan
lebih pendek daripada laki-laki sehingga suara laki-laki lebih keras. Perbedaan
lainnya adalah bentuk tulang. Tulang laki-laki ukurannya lebih besar daripada
perempuan. Otot pada tubuh laki-laki perimbangannya lebih banyak daripada
kandungan lemaknya, berbeda dengan perempuan yang terdapat lapisan lemak
langsung di bawah kulit. Akan tetapi lapisan ini membantu perempuan untuk
menjaga kondisi tubuhnya melebihi kemampuan laki-laki. pertumbuhan otak kanan laki-laki
lebih cepat daripada bagian kiri. Oleh karena itu anak laki-laki tidak begitu
mahir dalam masalah pengucapan dibanding anak perempuan. Sementara dalam
melaksanakan pekerjaan dan olahraga anak laki-laki lebih baik.[1]
Dan masih ada beberapa perbedaan organ fisik antara laki-laki dan perempuan
lainnya. Pada dasarnya manusia diciptakan dengan anatomi tubuh yang sempurna,
baik itu laki-laki maupun perempuan. Dilihat dari dasar fisik saja, dua jenis
manusia ini banyak perbedaan meskipun hakikatnya sama.
Melihat perbedaan fisik tersebut, tentu
mempengaruhi psikologi antara keduanya. Dalam hal ini perlu ditekankan bahwa
perbedaan sex berbeda dengan perbedaan gender. Gender itu sifat yang melekat
karena bentukan dari sosial budaya lingkungan, dan sifatnya dinamis. Tidak
seperti sex yang memang sudah dari lahir seperti itu. Diantaranya sifat yang
sudah melekat adalah laki-laki bersifat maskulin, dan perempuan bersifat
feminin. Akan tetapi hal tersebut bisa jadi berubah, karena sifat maskulin dan
feminin itu bentukan sosial budaya lingkungan. Justeru ada lingkungan yang
sebaliknya. Perempuan bisa jadi maskulin, dan laki-laki bisa jadi feminin.
Perbedaan perlakuan masa kecil seorang anak
sangat mempengaruhi sifat seseorang. Kebanyakan dari masyarakat memang memperlakukan
anak sesuai jenis kelaminnya. Secara normal, laki-laki tindakannya lebih
dominan kelelakiannya daripada keperempuanannya. Pada batas tertentu, cara
berpikirnya tertuju pada kebutuhan dirinya sendiri atau lebih kepada egonya.
Sementara perempuan sebaliknya, yaitu lebih dominan keperempuanannya dengan
menonjolkan sifat-sifat yang bisa mendorong seseorang mau memberikan perhatian
dan kepedulian pada orang lain.[2]
Sebenarnya antara laki-laki dan perempuan
tidak lebih unggul dari siapapun. Justeru dengan kita menyadari adanya
perbedaan tersebut, kita menemukan sebuah penciptaan dari Allah yang sempurna. Karena
perbedaan tersebut tidak bersifat kontradiktif kemudian menjauh antara satu
dengan yang lain. Justeru perbedaan tersebut menumbuhkan rasa saling melengkapi
dan membutuhkan antara keduanya. Ketika kita meyadari dan menghormati perbedaan
tersebut, maka kita akan dapat mencapai keseimbangan hidup.
Yang jadi persoalan di sini adalah
ketidakadilan. Ya, sering kita dengar bahwa perbedaan yang mencolok sering
menimbulkan ketimpangan. Menurut hemat saya, hal itu tidak akan terjadi jika
antara laki-laki dan perempuan saling menyadari dan menghormati perbedaan
keduanya. Dalam perspektif gender tidak ada pemetaan antara laki-laki dan
perempuan. Perempuan mendapatkan hak yang sama seperti laki-laki dalam ruang
apapun sesuai kualitas atau skillnya masing-masing. Hal itu bisa diterima, akan
tetapi tidak harus dipaksakan atau sesuai dengan kemampuan yang dimiliki tanpa
menyalahi kodrat. Karena mau diapa-apakan, laki-laki dan perempuan tetap
berbeda. Dalam Islam, relasi laki-laki dan perempuan sudah diatur sedemikian
rupa. Dan menurut saya terkait adanya perbedaan pembagian antara laki-laki dan
perempuan dalam Islam, seperti masalah pembagian harta warisan yang sering
dipermasalahkan feminisme, itu sudah proporsional. Karena memang dalam Islam
diatur bahwa yang wajib menafkahi keluarga adalah seorang suami, oleh karena
itu pembagian harta waris lebih banyak laki-laki dibanding perempuan. Hal ini
bukan berarti perempuan dilarang mencari nafkah, hanya saja tidak dituntut
kewajiban. Sementara suami wajib menafkahi keluarga.
Komentar