profil sang kyai

Profil
Sosok Pengasuh dan Ketua STAI Al-Anwar Sarang
“DR. KH. Abdul Ghofur Maimun, MA.”
Oleh : Siti Rodliyah
“Babah” itulah sebutan sosok “Gus Ghofur” dari santrinya. Beliau merupakan Kyai dan Intelektual Muslim Yang  dimiliki Pondok Sarang. Babah atau nama tenarnya “Gus Ghofur” adalah putra dari kyai besar Sarang, yaitu mbah Maimoen Zubair Dahlan dan Ibu Nyai Hj. Masti’ah (Istri kedua mbah Mun setelah bu Fahimah). Semenjak kecil, Babah sudah sangat terbiasa dengan dunia pesantren, meskipun seperti itu, beliau juga sangat akrab dengan masyarakat sekitar. Babah sudah terkenal kecerdasannya sejak kecil, dimulai pendidikan beliau dari ayahanda langsung yang sudah terlihat kepiawaian dalam menyerap beberapa pangaosan atau pengajian.
Babah memulai belajar di Madrasah ( selain di Dalem sendiri), tepatnya di Madrasah Ghozaliyyah Syafi’iyyah Sarang atau dikenal dengan ‘MGS’. Selama beberapa tahun beliau habiskan untuk rihlah ilmiyah bersama santri lain di ‘MGS’. Tidak hanya sekedar ngaos, Babah juga aktif berorganisasi pada saat itu. Salah satu organisasi yang beliau aktif adalah ‘Dewan Murid’ atau dikenal dengan ‘DeMu’. Di situ beliau juga sempat menjabat ketua ‘DeMu’. DeMu merupakan organisasi semacam ‘Osis’ di Sekolah-sekolah formal. Dari buku catatan Babah semasa di MGS yang pernah saya baca ( di Perpustakaan STAI AL-Anwar), Babah seringkali menulis pertanyaan-pertanyaan terkait ‘Fiqh’, hal itu menunjukkan bahwa semasa belajar beliau sudah sangat kritis menanggapi masalah-masalah fiqh. Setelah sekian tahun Babah belajar di lingkungan sendiri, Babah melangkahkan kaki untuk terbang ke lingkungan yang bahkan sebelumnya belum beliau jejaki. Babah terbang ke negeri ‘Piramid’ yaitu Mesir untuk menggali dalamnya pengetahuan dan menggapai cakrawala ilmu.

Beliau meneruskan studi di Al-Azhar, Kairo. Universitas Islam yang paling tua dan terkenal luar biasa pengaruhnya terhadap para pemikir atau intelektual muslim. Dengan modal yang tidak sedikit dari kampung halaman beliau yaitu Sarang, dengan penuh semangat dan perjuangan beliau belajar dari beberapa Guru besar di Al-Azhar. Di Al-Azhar Babah memfokuskan studinya di jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Bertahun-tahun hidup beliau dihabiskan untuk berenang di kolam pengetahuan Al-Azhar, betapa luar biasa beliau dalam mengkaji tafsir. Tidak heran beliau mendapatkan predikat ‘cumlaude’. Tidak berhenti di Strata satu, beliau  seakan-akan masih haus akan ilmu pengetahuan. Tanpa ragu Babah pun melanjutkan studi sampai ke Strata dua dengan jurusan yang sama dan tempat yang istiqomah. Pada saat itu pula, Babah bertemu dengan sang bidadari beliau, yakni “Mamah Nadia”. Pernikahan pun berlangsung ketika beliau masih proses studi S-2. Beliau menikah dengan ibu Nyai Hj. Nadia Jirjis dari Krapyak, Yogyakarta. Setelah menikah beliau tidak langsung boyong dari Mesir, justeru beliau sempat tinggal di Mesir bersama mamah Nadia sampai kelahiran anak pertama yaitu Nabil Abdul Ghofur. Setelah itu, mamah Nadia dan sang putra harus pulang ke tanah air, lebih tepatnya di Yogyakarta. Sementara Babah harus tinggal di Mesir untuk menyelesaikan studi S-3 jurusan tafsir. Meskipun demikian, sakinah dan warahmah mewarnai kehidupan rumah tangga mereka. Kurang lebih 18 tahun sebagian nafas Babah dihembuskan di tanah gersang Mesir untuk mengabdikan pikirannya pada ilmu pengetahuan. 18 tahun belajar di Mesir adalah waktu yang tidak sebentar dan hal yang tidak mudah. Tidak diragukan lagi pengalaman beliau yang sangat kaya. Tidak hanya pengalaman, akan tetapi juga pengetahuan yang luar biasa. Setelah gelar Doktor disandang oleh beliau, beliau pulang ke tanah air untuk mengabdikan ilmunya pada masyarakat tanah air. Tak terhitung organisasi yang beliau ikuti, baik itu ketika masa kuliah di Mesir ataupun setelah itu. Tahun sekian Babah menjadi dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Yogyakarta. Beliau juga pernah berpengalaman di kementerian agama. Pada saat itu beliau masih berdomisili di Yogyakarta bersama sang istri, lebih tepatnya di Krapyak. Ketika di Yogyakarta, sang anak kedua telah lahir, kali ini putri dan beliau beri nama Afaf Abdul Ghofur. setelah sekian tahun di Yogyakarta, akhirnya pada tahun 2011 Babah memutuskan untuk berpindah singgah ke Sarang, karena beliau telah membangun sebuah Sekolah Tinggi Agama Islam yang namanya disandarkan pada pondok Abah beliau yaitu Al-Anwar. Dengan restu dan ridlo sang ayahanda, beliau dan dibantu sahabat-sahabat dekat yang seperjuangan seperti pak Tsalis Muttaqin dan Pak Najib Buchori mendirikan STAI AL-ANWAR, dan diikuti pondok pesantren Al-Anwar 3 putra dan putri. Hal itu menunjukkan bahwa beliau sangat ingin mengabdikan dirinya untuk pendidikan yang bermutu bagi santri. Tidak hanya itu, jurusan yang ditawarkan pun tidak sembarangan, yaitu Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir yang bisa dibilang jurusan ini langka di Indonesia dengan fakultas Ushuluddin. Cara mengajar beliau kepada mahasiswa sekaligus santrinya sangat mudah dan renyah didengarkan, tidak hanya itu, wawasan dan pengalaman beliau yang luas tak jarang disharekan pada santri-santrinya.  Sampai sekarang STAI AL-ANWAR masih tahap proses menuju kemajuan peradaban santri. Dari sini menunjukkan bahwa Babah tidak hanya ingin santri adalah seorang yang kolot dengan dunia keilmiahan, santri juga bisa mengembangkan dunia keilmiahan sebagaimana ilmuwan-ilmuwan di luar sana. Dan sampai sekarang Babah menjabat sebagai ketua sekaligus dosen STAI AL-ANWAR serta pengasuh Al-Anwar 3, beliau juga menjabat jabatan penting di PBNU, dan masih banyak lagi jabatan yang beliau sandang di luar sana. SR 

Komentar

Unknown mengatakan…
sudah bagus, bagus sekali.. andai diteruskan lagi, pasti tambah OKE :)
dan, bagaimana tugasmu? cepat dikirim di emailku ya? orientalis hadis

Postingan populer dari blog ini

Menemukan Teman dan Klub Baca Buku

Agustusan Tidak Sekedar Lomba

Cita-Cita Tak Pernah Mempersoalkan Usia