Kisah Bendera di Depan Rumah
Kisah Bendera di Depan Rumah
Oleh : Siti Rodliyah
Malam itu aku terbetik dalam hati untuk pulang. Kukemas sedikit demi sedikit barangku seperti baju dan buku di dalam tas. Guratan wajah tua itu tak henti-henti bergelayut di kepala. Entah kenapa?
Karena rindu yang lama terpendam dan menumpuk, atau karena cinta yang tak terucapkan sekian lama.
Aku melihat layar handphone yang tampak ada panggilan masuk, kuangkat dan suara laki-laki muda dari jauh menyapaku ramah, menanyakan kabar dan menyuruhku pulang, meski sejenak.
Tanpa berpikir panjang, aku mengiyakan. Besok. Aku akan pulang.
Esok harinya.
Di pinggir jalan raya yang bising, aku mencoba menghentikan bus dengan lambaian tanganku. Bus terhenti dan melaju tanpa ragu setelah aku masuk.
Sekian menit lewat begitu saja, dan tahu-tahu aku sudah berada dalam rumah yang tak asing lagi. Kutemui kepala anak kecil sedang menikmati empuknya bantal. Aku tersenyum melihat si mungil itu tertidur pulas. Dan di ruangan lain, kudapati sesosok perempuan dan laki-laki muda sedang sibuk mengemas barang dalam tas dan bersiap untuk pergi. Sedang mereka berdua sibuk dengan urusannya, sosok laki-laki tua yang duduk di atas kursi tua pula menatap mereka dan sesekali memberi saran untuk merapikan barang.
Aku mencoba tidak mengejutkan, tapi kehadiranku memang dirasa tiba-tiba. Bapak, laki-laki tua itu sedikit tertegun melihatku sudah seruangan dengannya. Sedangkan perempuan dan laki-laki muda yang kupanggil kakak itu tampak biasa saja melihat kehadiranku.
Kakak kandung dan iparku itu berpamitan untuk pergi sementara. Anak kecil yang masih terkantuk itu akhirnya dalam gendongan si ibu. Mereka tersenyum lega saat aku melambaikan tangan, dan si kakek dari anak kecil itu menatap kosong kepergian anak dan cucunya. Padahal, hanya sementara.
Tinggal aku dan bapak. Sosok laki-laki tua yang sudah tak tampak gagah lagi dan masih menyisakan tatapan sepi. Padahal beberapa bulan yang lalu, tatapan mata itu bersinar karena ditemani sosok anak kecil yang menggemaskan di sampingnya.
Entah kenapa aku cemburu. Aku hadir untuk menghalau kesepiannya dan menuangkan rindu yang penuh. Namun tak disambut dengan antusias dari sosok yang kupanggil bapak itu.
Bapak memilih bersandar di pintu depan serambi menatap halaman rumah yang terbentang. Dan beberapakali mencuri pandang ke arah kain bendera merah putih yang baru tadi pagi dikibarkan di atas tiang besi.
Sorot matanya menyisakan misteri. Aku mendekatinya dan membuka tirai kerinduan dengan ngobrol dengannya. Bapak tersenyum padaku, pun matanya. Seakan-akan baru menyadari akan kehadiranku. Ah, aku baru tahu setelah benar-benar kuamati cara bicaranya, bapak hanya sedih sesaat karena cucu yang selama ini mengembalikan warna hidupnya pergi sementara meninggalkannya. Dan aku juga paham, kalau sosokku tak bisa menggantikan cucu kecilnya untuk mewarnai kembali hari-harinya. Karena kini aku menjadi anak yang sudah dewasa. Yang hanya sedikit menghadirkan ceria.
Aku tak menyerah, meski aku tak bisa mengembalikan warna-warna seperti bersama cucunya, aku masih bisa menghalau kesepiannya dengan banyak bicara. Karena aku aku cukup pandai mencari topik bicara.
Bapak semakin memperlihatkan senyumnya dan kurasa perlahan terurai kesepiannya. Disela-sela obrolan, bapak akhirnya menemukan topik menarik untuk dibagikan denganku.
Bapak bercerita, kalau tadi pagi, kakakku memasang bendera depan rumah dengan tiang besi yang mendadak dibeli karena agustus sudah datang menghampiri. Sambil menunjuk bendera yang juga tampak baru itu, bapak tiba-tiba mengucapkan pada zaman dahulu.
Zaman dahulu saat kakakku masih kecil, mungkin sekitar umur 6 tahun. Bapak mengajak kakakku untuk bergegas mencari bambu untuk ditancapkan depan rumah dan dipasang bendera saat tahu bulan agustus sudah datang. Namun ada kisah lucu dibalik itu, saat sudah menyiapkan bambunya untuk dijadikan tiang bendera, namun benderanya malah entah ke mana. Bapakku sambil terkekeh mengatakan kalau seingatnya masih menyimpan bendera di lemari, namun saat dicari tidak ada. Merasa lucu karena kenapa memikirkan tiang bendera dulu saat akan memasang bendera depan rumah. Sungguh aneh.
Aku juga tak bisa menahan tawa saat bapak menceritakan bagian itu. Tak bersabar, aku langsung menyerobot tanya, lantas di manakah gerangan bendera? Apakah kemudian beli baru?
Bapak dengan sedikit terbatuk antusias menjawab rasa penasaranku. Dulu, mungkin tahun 90-an, keluarga sederhana seperti keluarga bapak tak pernah terpikirkan beli bendera baru. Ada satu bendera yang turun temurun dari kakek buyutku yang selalu disimpan dalam lemari, dan akan dipasang di depan rumah menjelang kemerdekaan atau saat bulan agustus datang. Dan satu bendera itu tak pernah hilang. Namun saat itu, bendera yang dalam ingatan masih disimpan di lemari, hilang entah di mana keberadaannya.
Kakakku yang masih kanak-kanak saat itu menangis meronta, karena tak ada bendera yang bisa dipasang. Akhirnya bapak berusaha meminjam bendera cadangan dari pamanku. Namun bendera cadangan milik pamanku sudah sobek. Dan akhirnya ibuku menjahitnya supaya bisa dipasang di depan rumah.
Aku termangu dan sedikit menahan haru. Bapak melanjutkan lagi dengan cermat melihat diriku. Aku bertanya-tanya.
Senyum simpul terulas di bibir bapak. Kemudian melanjutkan cerita. Giliran saat dulu aku masih kecil, sekitar umur 6 tahun dan saat bulan agustus datang, bapak memikirkan bendera yang akan dipasang. Lama juga bapak tak membeli bendera baru. Masih dengan bendera sobek milik paman yang masih berlangganan setiap tahunnya dikibarkan depan rumah.
Saat itu bertepatan pula rumah bapak direnovasi. Dan saat belakang rumah dibongkar, ditemukanlah bendera lawas yang lama dicari-cari di dalam kardus pakaian bekas. Bapak girang bukan kepalang. Akhirnya bendera dari kakek buyut itu ketemu. Meski warna putihnya menjadi seperti warna tulang dan warna merahnya menjadi warna oranye.
Dengan bangga bapak memasangnya kembali di tiang bendera yang terbuat dari kayu di depan rumah. Bendera itu berkibar-kibar riang seakan menari bersama angin. Namun, saat itu bapak menoleh kepada diriku, dan berucap pelan. Di saat bapak bahagia menemukan kembali bendera keramatnya, saya yang waktu itu masih kecil justru menangis meronta. Karena menurutku, saat itu bendera yang terpasang depan rumah sudah jelek dan usang dibanding bendera-bendera tetangga yang terlihat lebih baru dan menyala merah putihnya, bukan putih tulang dan oranye seperti bendera bapak.
Sejenak bapak dan aku saling tatap, dan tertawa lepas mengenang kisah lucu itu. Meski aku tak benar-benar mengingatnya. Hahahaha...
Setelah topik bicara bendera berhenti. Bapak kembali menatap bendera yang terus berkibar bersama angin di depan rumah. Tatapannya kembali sepi. Namun kutemukan setitik sorot harapan. Aku menebak, mungkin harapan bapak, kelak bisa memasang bendera di depan rumah bersama cucunya saat berusia 6 tahun.
Sekian.
Sarang, 17 Agustus 2020
Komentar