Bu, Apa Itu Cahaya?
Bu, Apa Itu Cahaya?
Pada momen peringatan Isra’ Mi’raj Nabi
Muhammad Saw. beberapa hari yang lalu, di tempat saya mengajar telah mengadakan
acara untuk memperingatinya. Meski setiap tahun kami mengadakan kegiatan
peringatan Isra’ Mi’raj, tapi selalu terasa ada yang berbeda dan istimewa.
Entah mengapa, hari itu saya memulai hari dengan hati yang bahagia. Meski
sebenarnya menjalani rutinitas seperti biasanya. Kukenakan pakaian putih
sebagai dress code acara. Tak seperti biasa, aku menyiapkannya sejak malam
hari. Aku ingin menyambut hari itu dengan spesial. Karena memang hari spesial.
Acaranya dimulai dengan bersholawat bersama, kemudian menampilkan drama kisah Isra’ Mi’raj, story telling, menyanyi, dan lain-lain. Saat
itu saya duduk bersama anak-anak kelas 2 dan 3 SD. Salah satu anak didik yang
duduk di samping saya ada yang tuna netra. Dia tenang dan diam mendengarkan
setiap penampilan. Dia terlihat antusias setiap kali ada tepuk tangan yang
meriah. Dan tampak mendengarkan dengan seksama ketika ada penampilan drama yang
mengisahkan perjalanan Nabi Muhammad Saw..
Saya mendekat dan duduk tepat disampingnya saat
itu, dan ketika itu ia meraba tangan saya. Ia tak memanggil saya hingga saya menyapanya.
Mendengarnya, ia tampak senang dan girang memanggil nama saya. Ya, ia sudah
sangat mengenali suara saya. Ia memang tak bisa melihat, tapi ia cukup cerdas
menangkap informasi yang ia dengar. Setelah kusapa, ia langsung bertanya pada
saya. “Bu, saya mendengar kata cahaya tadi saat penampilan drama, cahaya itu
apa?”. Saya sejenak terdiam. Memikirkan bagaimana menjawabnya. Tapi saat itu
saya menjawab sekenanya dulu. Saya bilang padanya bahwa cahaya itu terang, yang
menerangi. Dan ia terdiam tak mengerti. Saya ingin menjawabnya lagi, namun saat
itu saya terdistrak hal lain yang membuat saya tertunda menjawabnya.
Acara selesai. Dan saya lupa tak menjelaskan
makna cahaya kepada anak didik saya tadi. Hingga akhirnya saya teringat
beberapa hari kemudian saat saya membaca buku Sirah Nabi bagian bab Isra’
Mi’raj dan bab yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad Saw. dari keturunan nabi
Ibrahim ditakdirkan Allah sebagai Nabi akhir zaman yang menyempurnakan
akhlak manusia.
“Ketika
manusia telah sampai pada titik terendah dalam jurang kesesatan, pada saat itu
telah selesai pula arena yang dipersiapkan bagi munculnya seorang pahlawan.
Allah mempersiapkannya untuk mengubah segalanya, mengubah perjalanan sejarah,
mengubah tatanan dunia, kemudian menerangi dunia dengan cahaya keadilan dan
menghapus segala kegelapan, kezaliman, dan kesesatan di muka bumi ini. Sang pembaharu
ini (Nabi Muhammad Saw.), yang telah dipersiapkan takdir untuk mengangkat
kezaliman dan menebar keadilan serta cahaya. Beliau diutus untuk mengubah pola
pikir manusia, menyucikan jiwa, mengajarkan pada manusia al-Qur’an, hikmah
kebijaksanaan, dan penyucian diri.”
Itu salah satu paragraf yang saya baca dari buku ‘Muhammad Sang Yatim’ karya Prof.Dr. Muhammad Sameh Said. Membaca itu membuat saya ingin memberitahu pada anak didik saya. Saya belum sempat lagi menjelaskan padanya, bahwa makna cahaya itu tidak sekedar yang terang dan menerangi. Tapi lebih dalam dari itu. Cahaya yang tidak hanya berarti bisa dilihat oleh indera mata, tapi justru cahaya yang dirasakan oleh jiwa.
2/2/2025 08:14 PM

Komentar