Rem dan Kebebasan
Rem dan Kebebasan
Dulu, aku selalu membayangkan
menjadi wanita mandiri yang bisa naik motor sendiri dan bebas menentukan ke
mana tujuanku. Dan Allah mengabulkan itu saat aku memang benar-benar
membutuhkannya. Alhamdulillah, hampir 5 tahun ini saya sudah memiliki motor
sendiri dan seringnya saya gunakan untuk pulang dan pergi ke sekolah. Bisa
dibilang, setiap hari saya terlatih naik motor.
Hingga suatu momen, saya sudah
menyadari bahwa sepertinya motor saya ada yang tidak beres, terutama bagian
rem. Namun entah mengapa saya mengabaikannya, karena masih berfungsi meski tidak
begitu baik. Saat itu saya masih yakin bisa mengendalikannya. Dan suatu saat
saya melaju dengan cepatnya, tiba-tiba kendaraan di depan saya berhenti karena
menunggu bis yang sedang menepi menaikkan penumpang. Saya sudah ancang-ancang
untuk menekan rem kiri motor saya, tapi ternyata masih saja melaju dengan
kencang hingga ban depan hampir menyentuh kendaraan di depan saya dan saya
sontak menekan rem kiri dan kanan, itu pun tidak berhenti sempurna namun
terselamatkan karena kendaraan depan saya sudah melaju lagi. Seketika itu saya
deg-deg an dan berkeringat dingin karena hampir saja kalau saya tidak baik
mengendalikan motor, bisa saja terjadi kecelakaan. Dan itu membuat saya takut.
Tanpa pikir panjang, saya tidak
ingin menunda memperbaiki rem motor saya. Akhirnya saya langsung mencari
bengkel untuk memperbaiki rem. Saat itu saya harus menunggu rem motor diperbaiki
lumayan cukup lama. Dan di situ saya merenungkan kejadian yang masih
mengagetkan itu. Mungkin masalah rem
terlihat sederhana, namun karena peristiwa itu, saya justru menjadi belajar
tentang pentingnya peran rem dalam membatasi kebebasan kita. Adakalanya memang kita percaya diri bisa
mengendalikan diri, kita bebas melaju sesuai tujuan kita. Namun kita tak bisa
mengendalikan orang lain, ada situasi yang di luar kendali kita. Apalagi di
tempat umum, seperti di jalan raya. Meski masing-masing pengendara menyadari
batasan-batasan jalur laju tanpa adanya pembatas secara fisik, bisa bebas
menentukan kecepatan laju kendaraannya, namun tetap saja kita perlu
berhati-hati dan waspada atas diri kita dan kendaraan yang kita bawa. Mungkin
itulah pentingnya rem. Kita butuh
sesuatu atau alat untuk mengendalikan kebebasan kehendak kita. Supaya terhindar
dari hal-hal buruk yang bisa membahayakan diri dan orang lain.
Ah, sepanjang perenungan, saya jadi
teringat kutipan-kutipan dari buku yang pernah saya baca tentang kebebasan dan
batas. Seperti kutipan di buku Emha Ainun Nadjib yang berjudul Anak Asuh
Bernama Indonesia. “Tuhan menganugerahkan kemerdekaan seolah tanpa batas,
padahal kemerdekaan adalah alat untuk menentukan batas, tetapi kemudian
batas-batas dibatalkan oleh ketidak-terbatasan atau ketiadaan batas.” Saya juga
teringat kutipan yang ada di buku Filsafat Kebahagiaan karya pak Fahruddin Faiz
yang baru-baru ini saya baca, “Agama memberi kita batas, biar kita tahu
batas-batas mana yang diperbolehkan dan yang terlarang.”
Saya tidak tahu dua kutipan itu
tepat atau tidak saya kaitkan dengan pelajaran dari peristiwa saya di atas.
Tapi saya hanya ingin menyampaikan dari renungan saya, bahwa kita sebagai
individu memang diberi kebebasan, tapi kebebasan itu dibatasi oleh kebebasan
orang lain. Dan karena kita diberi kebebasan, kita butuh alat atau nilai-nilai
yang bisa mengatur batas kebebasan kita. Ya, kita butuh yang namanya rem supaya
bisa lebih baik dan tepat mengendalikan kecepatan laju kita dan tidak menabrak
kebebasan orang lain.
31 Januari 2025
M/1 Sya’ban 1446 H

Komentar