Jatuh Cinta Itu Menyenangkan, dan Melanjutkannya atau Tidak Itu Pilihan.

 


Ada saat di mana aku rindu merasakan jatuh cinta lagi. Karena aku tahu jatuh cinta itu menyenangkan. Saat jatuh cinta, hari-hari diliputi debar bahagia, berwarna, tidak hampa, membuat semangat saat melangkah, meski sementara.

Aku ingat betul pengalaman itu. Tak usah jauh-jauh pengalaman saat masa remaja atau awal usia 20 an, tahun lalu aku merasakan itu, sepanjang tahun.

Suatu waktu pulang dari aktivitas mengajar, aku girang dan hatiku berbunga-bunga karena merasakan jatuh cinta lagi setelah sekian lama tak pernah merasakan berseminya jatuh cinta dalam dada. Berbulan-bulan aku terbawa suasana indahnya jatuh cinta. Meski aku masih sendiri, tapi aku tak merasa sepi lagi karena diliputi rasa jatuh cinta. Dan itu mendorongku untuk semangat menjalani hari, membuatku semakin memperhatikan penampilan, dan membuatku ingin selalu bahagia. Pikiranku terngiang-ngiang oleh sosok laki-laki yang belum lama ku mengenalnya, yang entah mengapa membuatku jatuh cinta. Jatuh cinta yang menghiasi warna hariku dengan indah. Yang selalu aku siapkan senyum termanisku saat berpapasan dengannya.

Namun, seiring waktu aku menyadari bahwa perasaan ini hanya ilusi. Aku lebih ke jatuh cinta pada imajinasiku. Dan aku terhantam oleh fakta bahwa jatuh cinta saat usia dewasa tak boleh sebermain-main itu. Aku jadi teringat tulisan yang aku baca di Medium tentang kenapa cinta ketika kecil sederhana, ketika dewasa cinta rasanya rumit.

Aku mulai menyadari bahwa aku juga harus menggunakan logika untuk tidak larut dalam perasaan jatuh cinta yang kadang terlihat konyol. Perlahan aku bicara dengan diriku sendiri, bahwa aku harus mulai sadar penuh atas waktu ini. Apalagi saat aku tahu dirinya sama sekali tak memperhatikanku. Mungkin beberapa kali memperhatikanku, tapi aku tahu kemungkinan kecil untuk bisa melangkah bersamanya.

Aku tak berniat merawatnya. Aku tak berniat melanjutkannya. Tapi menghilangkan rasa jatuh cinta itu ternyata tak mudah. Ouh, mengapa rasa ini singgah di dalam dada. Imajinasiku semakin liar, namun aku tahu bahwa dunia ini tak melulu menuruti rasa. Aku tahu harus menyadari kenyataan. Aku mencoba mencari alasan untuk tidak jatuh cinta lagi padanya, dan berbulan-bulan aku mulai bisa berdamai. Perlahan aku tenang, aku mulai bisa mengendalikan perasaanku dengan terus berdialog dengan pikiranku.

Setelah melewati masa-masa itu. Aku benar-benar terbebas dari rasa jatuh cinta pada sosoknya. Aku kembali kosong. Perasaanku kembali tak berisi. Tak ada yang mekar. Tapi entah mengapa aku justru menemukan damai. Menemukan tenang. Menemukan diriku sendiri. Dari situ aku belajar, seharusnya perasaan jatuh cinta itu aku pelihara. Meski bukan lagi pada sosok laki-laki itu, tapi pada diriku, pada jiwaku, pada tubuhku, pada pikiran dan perasaanku dengan utuh. Meski rasanya aku masih ingin jatuh cinta lagi pada seseorang, lebih tepatnya aku ingin dicintai. Dan sebelum benar-benar mencintai dan dicintai seorang laki-laki kelak, saat ini aku justru ingin penuh mencintai diriku sendiri sebagai bentuk rasa syukurku pada Sang Pencipta.

Dan sekarang, aku rawat dan lanjutkan rasa jatuh cinta itu pada diri sendiri. Aku berusaha hadirkan jatuh cinta itu pada hari-hari, pada hal-hal kecil dalam hidup ini, pada apa dan siapa yang hadir di sisi, pada asa dan mimpi yang masih ingin terus kugapai. Dan yang paling penting, pada Tuhanku yang membolak-balikkan hati. 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menemukan Teman dan Klub Baca Buku

Agustusan Tidak Sekedar Lomba

Cita-Cita Tak Pernah Mempersoalkan Usia