Perempuan Tanpa Ibu yang Bermimpi Menjadi Ibu
Pagi yang
cerah membuatku semangat bangkit dari tempat tidur. Meski musim libur, jam bangun
tetap sama dini hari. Langit terlihat tampak terang, seterang semangatku untuk
kembali membaca tulisan-tulisan di Medium. Kala itu, aku membaca tulisan bu
Dypa tentang Pernahkah dirimu bercita-cita menjadi ibu. Jawabanku pernah. Bahkan
sudah hampir 10 tahun yang lalu aku menuliskannya menjadi salah satu daftar
impianku.
Beberapa waktu
yang lalu, aku menghabiskan waktu sepanjang hari untuk membaca novel The Life
List karya penulis Lori Nelson Spielman. Belum mengkhatamkannya, tapi beratus halaman
kulahap kisahnya dalam sekali duduk saking asyiknya. Novel tersebut
menceritakan seorang perempuan berusia 34 tahun yang harus mewujudkan daftar
impiannya semasa remaja karena wasiat ibunya. Dan salah satu daftar impiannya saat
remaja adalah jatuh cinta dan punya satu atau dua anak (menjadi ibu). Sepanjang
membaca setiap paragraf novel itu, aku seperti bicara pada diriku sendiri. Ada
beberapa bagian kisah dalam novel itu yang relate dengan kisah hidupku. Dan di
antaranya adalah impian jatuh cinta dan menjadi ibu.
Dulu aku
tak pernah terpikirkan bahwa menjadi ibu itu sebuah cita-cita. Semasa kecil
selalu jawabannya adalah profesi karir ketika ditanya cita-cita. Guru, dokter,
polisi, pramugari. Bahkan menjadi penulis pun dulu aku tak pernah terpikirkan,
meski sejak kecil hatiku sudah mengatakan kelak aku ingin bisa menulis dengan
lihai. Dan ketika selesai masa remaja, aku menambahkan daftar impianku, menjadi
ibu.
Kenanganku bersama
sosok ibu berakhir saat aku usia remaja. Usia 15 tahun. Usia di mana aku belum
bisa berpikir secara mendalam seperti sekarang. Perasaanku sedih dan kalut kala
itu. Aku tak bisa membayangkan tanpa sosoknya di rumah. Namun waktu terus
berjalan, aku melanjutkan hidup bersama sosok ayah dan saudara tanpa kehadiran
ibu. Ada kalanya aku menggantikan peran sosok ibu di rumah, dan dari situ aku
belajar tumbuh menjadi perempuan yang kuat dan tidak mudah goyah meski tanpa
hangatnya kehadiran ibu. Salah satu kenangan yang kuingat dari ibu adalah
beliau sosok perempuan yang kuat. Sosok perempuan yang tidak mudah goyah di
kala ujian melanda. Meski aku tahu saat sepinya malam tangisnya perlahan pecah.
Dan aku yang masih kecil kala itu, meringkuk memeluk punggungnya. Aku berharap
ibu masih terus di sisiku. Namun takdir berkata lain. Dan pada akhirnya waktu
terus mengajariku ikhlas.
Kembali mengulik
kisah dalam novel the Life List yang aku baca, mewujudkan impian jatuh cinta
dan menjadi ibu sungguh perjalanan yang panjang dan tak mudah. Perjalanan itu tak
semudah mewujudkan impian menjadi guru, membeli hewan peliharaan, dan bertemu
sahabat lama. Dalam kisahku, aku pun demikian. Apalagi di usia yang semakin
dewasa. Semakin berumur, rasanya semakin banyak tantangan dan kecemasan.
Menjadi ibu
sepaket menjadi seorang istri. Bertahun-tahun menjadi perempuan single
mengajariku untuk enjoy dengan kehidupan. Meski adakalanya merasa kesepian. Tapi
aku beruntung berada di lingkaran pertemanan yang saling menguatkan. Berkali-kali
aku mendengarkan kawan yang sudah menjadi ibu mencurahkan isi hatinya. Betapa bahagia
dan lelahnya menjadi ibu. Dan aku menyimaknya. Belajar darinya. Aku tahu,
menjadi ibu bukan hanya soal bahagia saja, tapi juga lelah dan repotnya. Tak hanya
hangatnya saja, tapi juga pengorbanannya.
Saat ini, aku masih dalam perjalanan mewujudkan impian menjadi ibu. Aku berpetualang mencari sosok ayah dari anak-anakku kelak. Aku tak ingin tergesa-gesa meski rasanya dikejar usia. Aku ingin secara sadar memilih dan memutuskan kelak menjadi istri siapa dan membangun keluarga seperti apa. Aku sadar bahwa impian ini adalah impian yang mulia. Bagian dari ibadah. Aku teringat sebuah video di Instagram yang menyampaikan reminder bagi yang belum menikah, hal terbaik yang bisa kamu siapkan untuk anakmu kelak adalah dengan menjadi muslim yang berpendirian teguh sebelum menikah, karena hal terbaik yang bisa kamu berikan untuk anakmu kelak adalah memilih pasangan yang tepat, yang bisa menjadi ibu dan ayah untuk anakmu kelak. Kamu harus mengembangkan diri, harus belajar. Jika kamu tidak mengusahakan yang terbaik, tidak terus belajar, dan kamu tidak berusaha menjadi yang terbaik yang kamu bisa, kamu tak akan mendapatkan yang terbaik untuk anak-anakmu. Padahal itu hak mereka, bahkan sebelum mereka lahir.
Terima
kasih sudah membaca tulisan ini. Semoga menginspirasi.
Komentar