Rumah Adalah Tempat Pulang


Home alone. Tulisan itu terlintas di media sosial saat aku buka ponsel pagi ini. Pertengahan Desember adalah masa libur sekolah, dan saat ini aku sudah libur mengajar. Aku banyak meghabiskan me time di rumah, dan bahkan beberapa waktu lalu aku benar-benar di rumah sendirian. Waktu itu orang tuaku sedang menginap berminggu-minggu di rumah saudara.

Waktu kecil, di rumah sendirian sungguh menakutkan bagiku. Karena aku terbiasa berinteraksi dengan banyak saudara di rumah. menginjak remaja, ada sedikit kesenangan bisa sendirian di rumah. Dan saat dewasa ini, ada rasa kelegaan dan kesepian secara bersamaan. Melegakan karena rasanya lebih bisa fleksibel. Apalagi saat libur, mau bangkit dari kasur dan bersih-bersih rumah bisa fleksibel, karena tak ada orang lain selain diriku. Mau makan, tinggal memasak sendiri atau bahkan beli di luar. Aku sangat bisa berdialog dengan diri sendiri.

Namun rasa itu tak berlangsung lama. Biasanya sore hari rasa sepi sudah mulai menghampiri. Meski ada kawan chatting di WhatsApp atau media sosial, tapi rumah tetap saja rasanya ada yang kurang. Dan menjelang malam, rasa sepi semakin menjalar.

Alih-alih aku merasa kesepian, aku lebih banyak mendengarkan podcast di youtube dan membaca buku. Entah kebetulan atau bagaimana, aku membaca sebuah novel yang di situ ada bagian cerita sang tokoh utama memutuskan pindah dari apartemennya dan kembali ke rumah peninggalan ibunya. Selama di apartemennya, dia tak pernah benar-benar merasakan yang namanya pulang. Ia tak menemukan kehangatan di dalamnya. Namun, saat kembali ke rumah ibunya, ia merasakan yang namanya pulang. Meski selama tinggal, ia juga sangat merasa kesepian tanpa ibunya. Membaca kisah itu, aku seperti mengaca.

Rumah. Apa arti rumah sesungguhnya? Bangunan fisik sebagai tempat tinggal saja, atau keluarga itu sendiri. Atau ya paket lengkap dua-duanya. Masih sendirian di rumah, aku menyalakan TV dan menyimak berita yang masih ramai tentang dampak banjir Sumatera Utara dan Aceh yang belum kunjung pulih (Semoga lekas pulih). Masyarakat kehilangan rumah mereka. Kehilangan tempat tinggal mereka. Rumah mereka banyak yang rusak parah, bahkan hancur dan hanyut. Ada salah satu liputan menayangkan seorang Ibu yang diwawancara. Si Ibu terlihat sudah pasrah dengan keadaan, sudah pasrah rumahnya hilang. Namun ia masih bersyukur karena keluarganya selamat dari banjir. Ia tak tahu harus pulang ke mana. Ia belum tahu akan bisa membangun rumah atau tidak ke depannya, tapi bagi si Ibu, pulang bersama keluarganya di pengungsian sementara ini saja sudah bahagia. Melihat itu, rasanya aku sangat malu jika tak bersyukur masih bisa di rumah dengan aman dan nyaman.

Dalam sepi, aku termenung sejenak. Di dunia ini banyak peristiwa yang sepatutnya kita pelajari. Kehilangan rumah sungguh hal yang menyedihkan, karena tentu itu adalah kebutuhan untuk tempat bernaung. Namun di sisi lain, rumah bukan hanya soal dinding dan atap. Tapi juga tentang keluarga itu sendiri. Tempat di mana keluarga bertumbuh, saling peduli, dan saling memeluk kasih sayang. Dan kita, selalu berharap pulang ke rumah tidak sekedar pulang ke tempat tinggal, tapi juga pulang merasakan hangatnya keluarga. 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menemukan Teman dan Klub Baca Buku

Agustusan Tidak Sekedar Lomba

Cita-Cita Tak Pernah Mempersoalkan Usia