Postingan

Waktu Terasa Cepat Sekali

Gambar
  Dokumentasi Pribadi Sore yang cerah Aku sengaja tak ingin segera pulang ke rumah Aku duduk sendiri di gazebo sekolah Membiarkan angin lembut menerpa wajah Mengamati burung gereja yang terbang dan hinggap di segala arah Mengamati dedaunan yang bergoyang dengan riangnya Mengamati tupai yang melompat dengan girangnya Mendengarkan paduan suara alam yang indah Suara angin, pohon, burung, hati, dan kepala Mataku terpejam Ku hirup udara dalam-dalam Dan menghembuskannya perlahan Benar-benar hadir dalam momen masa kini Benar-benar menyadari keberadaan diri Benar-benar terasa damai Langkah suara kaki membuat aku segera membuka mata Dan sapaan kawan membuyarkan keheninganku Aku tak terganggu Aku hanya tahu bahwa kehadirannya adalah tanda aku perlu menyudahi asyiknya dengan diri Aku sambut ia dan kita duduk bersama Ngobrol tentang sekolah Ngobrol tentang keresahan diri Dan sampai di topik kita berbicara tentang waktu "Waktu terasa cepat sekali", ucapnya Dan aku ...

Suara Diri di Akhir Januari

Gambar
Sudah pekan terakhir bulan Januari Waktu terasa melesat sekali Hujan lagi riang-riangnya membasahi bumi Kadang membuat kepala ramai Kadang membuat hati sunyi Alih-alih melawan sepi Kuambil buku puisi yang tersimpan rapi di lemari Kubuka dan kutimang setiap diksi Kuresapi setiap makna yang terpatri Ada kata yang menghibur hati Ada kata yang membuka memori Ada kata yang mengingatkan pada mimpi Dan banyak kata yang sama sekali tak kumengerti Tapi terus kubaca dengan hati-hati Hingga aku tak lagi merasa sendiri Hari terus berganti Aku terus berusaha memeluk diri Dengan rengekan doa yang tak pernah usai Sesekali bersama liarnya imajinasi Kutatap langit nun di atas sana Minggu kemarin mentari tampakkan wajah Aku duduk di teras rumah Sambil bersua dengan senja Aku senang ia kembali menyapa Hatiku riang melihat langit kembali cerah berwarna Setelah banyak hari tampak abu-abu saja Aih Kadang kita memang perlu jeda Untuk kembali merasakan momen terasa istimewa Kadang kita perlu ingat, bahwa wakt...

Berkawan dengan Hujan

Gambar
  Dok pribadi Entah pagi yang ke berapa bangunku disambut suara rintikan gerimis. Yang awalnya berirama lembut kemudian perlahan demi perlahan berubah semakin kencang. Suara adzan subuh kini tak bergema sendirian, ia diiringi irama tetesan air hujan.  Aku tak berat membuka mata setelah terlelap dalam nyenyak. Hanya saja tubuhku ingin lanjut dalam balutan selimut yang hangat. Hawa dingin terlalu kuat menyergap hingga membuatku enggan untuk segera beranjak. Aku menatap detik jam terus berjalan. Dan ia terus berjalan hingga menyadarkanku bahwa aku sudah banyak menyia-nyiakan waktu dalam nyaman.  Aku masih mendengar gema pujian salawat dari speaker masjid dan tetesan air hujan berpadu merdu. Playlist yang tak kan kutemukan di youtube atau spotify. Tak terasa aku ikut bersenandung sambil memeluk diri mengusir dingin. Namun sepertinya dingin enggan pergi, apalagi ditemani angin. Jadi aku hanya perlu melawannya dengan terus bergerak. Hujan bertahan mengiringi senin pagi. Meneman...

Mimpi Bukan Kata Benda Tapi Kata Kerja

Gambar
  Merefleksikan Kembali Daftar Impian Siapa yang benar-benar tak punya mimpi sama sekali? Saya yakin semua orang punya mimpi. Sekecil dan sesederhana mimpi itu. Disadari atau tidak. Saya lebih sering menggunakan kata mimpi untuk menggambarkan cita-cita atau impian. Entah mengapa saya suka kata mimpi dan bermimpi. Karena dengan kata itu selalu menumbuhkan rasa penuh harapan dan membuat diri terus bergerak tanpa batas untuk menggapai apa yang kita impikan. Namun dewasa ini saya tahu, mimpi hanyalah ilusi tanpa aksi. Beberapa waktu lalu saat detik-detik 2025 berakhir, saya membuka kembali daftar impianku sepanjang tahun itu, dan ternyata ada harapan besar yang belum aku gapai. Sedih rasanya, tapi saya segera sadar bahwa impian itu masih bisa diwujudkan di tahun 2026. Saya melepas kertas yang bertuliskan daftar impian dari dinding kamar. Saya lipat dan kusimpan. Namun saat saya hendak menuliskan kembali daftar impian tahun 2026, saya terhenti. Saya berpikir ulang apakah daftar ...

Perempuan Tanpa Ibu yang Bermimpi Menjadi Ibu

Gambar
  Pagi yang cerah membuatku semangat bangkit dari tempat tidur. Meski musim libur, jam bangun tetap sama dini hari. Langit terlihat tampak terang, seterang semangatku untuk kembali membaca tulisan-tulisan di Medium. Kala itu, aku membaca tulisan bu Dypa tentang Pernahkah dirimu bercita-cita menjadi ibu. Jawabanku pernah. Bahkan sudah hampir 10 tahun yang lalu aku menuliskannya menjadi salah satu daftar impianku. Beberapa waktu yang lalu, aku menghabiskan waktu sepanjang hari untuk membaca novel The Life List karya penulis Lori Nelson Spielman. Belum mengkhatamkannya, tapi beratus halaman kulahap kisahnya dalam sekali duduk saking asyiknya. Novel tersebut menceritakan seorang perempuan berusia 34 tahun yang harus mewujudkan daftar impiannya semasa remaja karena wasiat ibunya. Dan salah satu daftar impiannya saat remaja adalah jatuh cinta dan punya satu atau dua anak (menjadi ibu). Sepanjang membaca setiap paragraf novel itu, aku seperti bicara pada diriku sendiri. Ada beberapa bag...

Rumah Adalah Tempat Pulang

Gambar
Home alone . Tulisan itu terlintas di media sosial saat aku buka ponsel pagi ini. Pertengahan Desember adalah masa libur sekolah, dan saat ini aku sudah libur mengajar. Aku banyak meghabiskan me time di rumah, dan bahkan beberapa waktu lalu aku benar-benar di rumah sendirian. Waktu itu orang tuaku sedang menginap berminggu-minggu di rumah saudara. Waktu kecil, di rumah sendirian sungguh menakutkan bagiku. Karena aku terbiasa berinteraksi dengan banyak saudara di rumah. menginjak remaja, ada sedikit kesenangan bisa sendirian di rumah. Dan saat dewasa ini, ada rasa kelegaan dan kesepian secara bersamaan. Melegakan karena rasanya lebih bisa fleksibel. Apalagi saat libur, mau bangkit dari kasur dan bersih-bersih rumah bisa fleksibel, karena tak ada orang lain selain diriku. Mau makan, tinggal memasak sendiri atau bahkan beli di luar. Aku sangat bisa berdialog dengan diri sendiri. Namun rasa itu tak berlangsung lama. Biasanya sore hari rasa sepi sudah mulai menghampiri. Meski ada kawan cha...

Rindu yang Terobati di Hari Ayah

Gambar
  Rindu yang Terobati di Hari Ayah Kesepian itu sungguh menyesakkan Belum lagi ditambah rindu Sudah terbiasa memeluk kesendirian Namun kali ini lebih terasa pilu   Waktu terus berjalan ke depan tanpa pernah menoleh Bukan jenuh, tapi ada rasa aneh yang tertoreh Pulang dari mengajar, rumah tampak sepi Sapa ayah yang biasanya menyambutku, untuk sementara diganti sunyi Duh, ternyata diri tak sesiap itu ditinggal pergi Meski tahu hanya sementara   Kursi di depan TV tampak kosong tanpa ada yang singgah Aku hanya menatapnya karena merasa tak perlu duduk di sana Bayangan laki-laki tua sekelebat terlihat Namun aku cepat sadar bahwa itu hanya ilusi akibat dari rindu yang berat   Aku langsung menuju ke ruangan ternyamanku Mengabaikan sejenak ruang-ruang yang tak berpenghuni Tiba-tiba sosok ayah terus berputar-putar di kepalaku Dan hatiku bertanya-tanya, sedang apa beliau di sana? Ngobrol sama anak pertama dan cucunyakah? Atau lagi menye...