Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2016

Review" Habis Gelap Terbitlah Terang"

REVIEW BUKU Oleh : Siti Rodliyah ( 2013.01.01.147) Semester : VI D Jurusan : Ilmu Qur’an dan Tafsir Judul : Habis Gelap Terbitlah Terang ( Door Duisternis tot Licht ) Pengarang : R.A. Kartini Penerbit : Narasi, Yogyakarta Tahun terbit : 2011 Jumlah Halaman : 510 Berbicara tentang  tokoh perempuan Jawa yang memiliki keinginan kuat untuk memajukan kaumnya, yang memiliki cita-cita tinggi untuk perbaikan kehidupan perempuan pada masanya yang terkukung dengan adat istiadat. R.A. Kartini, adalah kiprah perempuan Indonesia yang dalam sejarah perjalanan hidupnya telah menorehkan pemikiran-pemikiran dan perjuangan yang berpengaruh kuat terhadap kehidupan dan kemajuan perempuan Indonesia, khususnya Jawa. Sehingga disebutlah R.A. Kartini sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Buku yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang ( Door Duisternis tot Licht ) merupakan kumpulan surat-menyurat R.A. Kartini kepada para sahabat penanya di Belanda. Surat-surat yang mencerit...

Resensi "Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan

Resensi  buku Penulis : Siti Rodliyah PEMIKIRAN AL-GHAZALI TENTANG PENDIDIKAN Judul buku : Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan Penulis : Drs. Abidin Ibnu Rusn Penerbit : Pustaka Pelajar Kota terbit : Yogyakarta Tahun terbit : 2009 Cetakan : ke 2 Tebal buku : xii+158 Resensi : Buku yang berjudul Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan ini ditulis oleh Drs.Abidin Ibnu Rusn. Buku ini bermula dari skripsi penulis pada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, setelah penulis mendapat saran dari para pembaca naskah awalnya, penulis melakukan perbaikan dalam penulisan buku ini. Sebagaimana yang tertera dalam judulnya, buku ini menyuguhkan pandangan dan pemikiran Al-Ghazali terkait dengan dunia pendidikan.  Buku yang tergolong sederhana ini menyajikan dan mengungkap pemikiran Al-Ghazali di bidang pendidikan lewat karya-karyanya. Melalui buku ini, Abidin Ibnu Rusn berusaha menunjukkan pandangan dan pemikiran Al-Ghazali dengan pemahaman yang utuh. Setelah ...

Goṣob, Sudah Menjadi Tradisikah?

Goṣob , Sudah Menjadi Tradisikah? Oleh : Siti Rodliyah Dalam bahasa Indonesia tidak ada kata ‘ goṣob ’, goṣob berasal dari kata bahasa Arab yang berarti merampas, mengambil, atau memanfaatkan barang yang tidak haknya tanpa sepengetahuan pemiliknya, untuk kemudian dikembalikan. Meskipun kosa kata dari bahasa Arab, kata goṣob sudah cukup populer di kalangan masyarakat pesantren. Bagaimana tidak, karena dalam kajian utama pondok pesantren adalah  Fiqh, yang salah satu bahasannya tidak terlepas dari bab hukum goṣob . Hal tersebut menunjukkan bahwa santri sedikit banyak mengetahui hukum goṣob . Akan tetapi, mengapa banyak sekali cerita marak tentang goṣob di kalangan santri itu sendiri. Sebut saja yang paling populer yaitu cerita goṣob sandal, baik di masjid, majlis, atau di rak sandal. Cerita tersebut sudah biasa terdengar di pondok pesantren manapun. Sebenarnya peristiwa goṣob tidak hanya sering terjadi di lingkungan pesantren, di lingkungan umum pun tak jarang terjadi. Na...

Puisi Di Hari Ulang Tahun

Puisi di hari ulang tahun.. Rinduku padamu Ibu.. Di hari saat kau melahirkanku... Hari ini aku semakin beranjak dewasa.. Tahun ini aku 21 genap usia.. Aku bukan lagi gadis kecil yang manja.. Aku bukan lagi gadis kecil yang selalu kau suapi.. Bukan lagi gadis kecilmu yang tertatih untuk berjalan sendiri.. Bukan gadis kecil yang kau gendong dan gandeng lagi... Aku tak banyak berubah Ibu... Hanya pikiranku saja yang mulai dewasa... Andai kau saksikan hidupku sekarang Ibu.. Mungkinkah kau bangga dengan putrimu ini?? Putrimu yang mulai dewasa... Putrimu yang tak memberi apa-apa.. Putrimu yang dulu selalu menangis meronta... Putrimu yang sekarang berpetualang mencari rasa bahagia... Putrimu yang tertatih melangkah tuk ilmu yang mulia... Putrimu yang mengabdi tuk naungan indah dan penuh cahaya... Putrimu yang mencoba membahagiakan ayah dan saudara-saudara... Tapi belum bisa kuberikan semua..Ibu.. Gadis kecilmu ini belum mampu memberikan harapan untuk...

Tentangmu

Tentangmu.. By: S_R S embari senyum itu melebar I ndah pandangan wajah nan polos T ambatkan hati padanya I ntai bagaimana perasaanya R ona merah pipi itu tersembunyi O h.. terlihat sederhana D awai sutra biasa tergerai... L ambai Indah nan Cerah I mpian menggantung tinggi Y ang Kuasa berkehendak A lunan cerita berjalan H ari demi hari tentangmu...

Rindu Teriakan Itu

Rindu Teriakan Itu... Oleh : Siti Rodliyah Bertahun-tahun telah berlalu... Rindu tersemat di dada... Teriakan itu beriringan dengan fajar kadzib Telinga selalu terbuka mendengar teriakan itu Tapi pelupuk mata enggan terangkat... Teriakan itu semakin keras... Ketika suara adzan subuh mulai berdayu-dayu... Hantaman sarung siap menerkam mangsa... Terasa berat  karena kantuk menggelayut... Berjalan berseyok-seyok... Untuk bangkitkan Jiwa dari alam tidur.. Wajah diterpa air dingin... Sadar baru memenuhi otak dan hati... Teriakan itu semakin keras... Ketika Iqamat mulai disenandungkan... Hantaman tongkat siap dilemparkan... Berjalan setengah berlari... Untuk hindari santapan pagi... Takbir dan Salam... Hanyut dalam khusyuknya dzikir dan kantuk.. Teriakan itu menggema lagi... Siap menahan kantuk dengan berdiri... Teriakan yang dulu membuat jengkel... kini menjadi sebuah kenangan.. segala kenangan tersimpan baik di balik dinding ...

SEDERHANA

SEDERHANA Oleh :S_R S etiap detik udara menebar E mbun tak bosan hampiri pagi D endangan kicau burung terdengar merdu E lok bermekaran bunga-bunga R umput tenang hadapi badai H ijau pepohonan tumbuh segar A ngin menerbangkan debu-debu N yanyian alam melanglangbuana A lamku, Indonesiaku... (Okt 2016)

Keluh Sang Sajadah Merah

Cerpen Keluh Sang Sajadah Merah Oleh : Siti Rodliyah Suara takbir menggema di seluruh penjuru langit, menembus awan-awan, menjelajah jagat alam. Tak sedikit para hati  tergerak untuk melangkahkan kaki menuju ke tempat di mana ia bisa berhadap. Dan sangat banyak hati yang tertutupi oleh sekat-sekat. Lima kali setiap harinya takbir itu menggaung di bawah langit dan memecahkan kehiruk pikukan dunia yang ternyata penuh nista. Sebut saja Imron, laki-laki tua yang pertama kali membawaku ke ruangan besar, dindingnya penuh dengan ukiran kaligrafi, banyak tiang yang berdiri kokoh, ada kubah besar tepat berada di atasku. Aku digelar dengan seksama oleh Imron, ketika diriku sudah terbaring lurus, kutoleh disamping kanan kiri, banyak kawan sama terbaring lurus denganku. Woow, berarti diriku berada di tempat yang istimewa, nyatanya aku banyak menjumpai kawan-kawan dengan berbagai warna dan corak. Pada kali pertama aku dibawa sosok hamba Allah ke rumah ibadah yang megah itu. tak terbayang...

Perjalanan Sang Pena dan Si Kertas

Perjalanan Sang Pena dan Si Kertas Oleh : Siti Rodliyah Rasa penat, itu yang dirasakan Sang Pena ketika tak ada yang mau mengajaknya berbicara. Diam di tempat, itu yang dilakukan Sang Pena ketika tak ada yang mau mengajaknya sekedar jalan-jalan. Tapi keadaan itu berubah ketika Sang Pena bertemu dan bercengkerama dengan Si Kertas. Sosok sahabat yang bisa memahami keadaan Sang Pena, begitupun dengan Sang Pena. Mereka adalah dua sahabat yang saling mengerti dan melengkapi. Bahkan, banyak orang yang mengatakan mereka berdua adalah sejoli. Tak jarang keduanya terlihat mesra, jalan bersama sambil bergandengan tangan, karena khawatir salah satu dari mereka akan terjatuh. Pernah suatu kali Sang Pena tak sengaja melukai Si Kertas, tapi Si Kertas selalu bilang ‘tak apa’, karena luka itu bisa dihapus dengan penghapus ‘maaf’. Dini hari ini, Si Kertas sengaja membangunkan Sang Pena lebih awal, Si Kertas ingin mengajak Sang Pena untuk pergi jalan-jalan. Tapi dasar Sang Pena, rasa kantuk yang ...

Langkahku Pesanku

Langkahku Pesanku Oleh : Siti Rodliyah Ketika sang raja cahaya muncul, aku mulai melangkah. Aku hanya ingin bertemu denganmu yang lama tak berjumpa. Jalanan kota kususuri, aku teringat membawa kertas dari u stadz ‘Alim yang berisi pesan-pesan . Ya, sekarang aku hanya ingin melangkah untuk segera bertemu dikau. Aku membaca pesan u stadz ‘Alim yang pertama , “ketika melangkah perhatikanlah jalanmu, ada batu dan duri itu pasti. Ketika kau f ok us berjalan, kau bisa hindari batu dan duri itu.” Ah, perhatian ustadz ‘Alim pada muridnya memang selalu dilontarkan.  Aku terbangunkan dengan renunganku tadi, kuteruskan langkah kaki ini, meski lelah sudah singgah. Ah, aku harus berhenti sejenak karena diprotes kaki dengan acara kram. Kusandarkan punggung di tembok masjid, ingatanku melayang lagi, kubuka kertas berisi pesan-pesan dari ustadz ‘Alim yang kedua , “hidup itu memang melelahkan, kau harus bisa mengatur hidup ini agar seimbang. Atur langkahmu, jangan paksakan jika sakit, tap...