Langkahku Pesanku
Langkahku Pesanku
Oleh
: Siti Rodliyah
Ketika sang raja cahaya muncul, aku mulai melangkah. Aku
hanya ingin bertemu denganmu yang lama tak berjumpa. Jalanan kota kususuri, aku
teringat membawa kertas dari ustadz
‘Alim yang berisi pesan-pesan. Ya, sekarang aku hanya ingin
melangkah untuk segera bertemu dikau. Aku membaca pesan ustadz ‘Alim yang pertama, “ketika melangkah
perhatikanlah jalanmu, ada batu dan duri itu pasti. Ketika kau fokus berjalan, kau bisa hindari
batu dan duri itu.” Ah, perhatian ustadz ‘Alim pada muridnya memang selalu
dilontarkan.
Aku terbangunkan
dengan renunganku tadi, kuteruskan langkah kaki ini, meski lelah sudah singgah.
Ah, aku harus berhenti sejenak karena diprotes kaki dengan acara kram.
Kusandarkan punggung di tembok masjid, ingatanku melayang lagi, kubuka kertas
berisi pesan-pesan dari ustadz ‘Alim yang
kedua, “hidup itu memang melelahkan, kau harus bisa
mengatur hidup ini agar seimbang. Atur langkahmu, jangan paksakan jika sakit,
tapi kau harus tetap bertahan untuk terus melangkah.” Hufft! Kuhembuskan nafas
kuat-kuat. Perjalananku masih panjang,
tapi aku harus bisa bertahan untuk melanjutkan langkah. Aku ingin bertemu dikau
yang lama tak berjumpa.
Sepuluh menit kurasa
cukup untuk lepaskan lelah. Aku bangkit dari duduk untuk melanjutkan langkah.
Tiba-tiba, sepatu yang kupakai rusak. Ah, menyebalkan! Aku harus bagaimana? Aku
buka lagi kertas berisi pesan dari ustadz ‘Alim
yang ketiga, “terkadang untuk menghadapi hidup harus
melepas apa yang ada. Mengorbankan apa yang kau miliki untuk melanjutkan
hidup.” Merenungkan hal itu, aku sadar memang harus melepaskan sepatu yang
rusak ini. Tapi aku harus tetap melangkah untuk bertemu dikau yang lama tak
berjumpa. Dan mulai sekarang, aku harus melangkah tanpa alas kaki, aku harus siap
hadapi batu dan duri di jalanan, harus hadapi acara kram di kaki. Ya, aku harus
hadapi tantangan baru.
Setelah kuberanikan diri untuk melangkah tanpa alas kaki,
alhasil kaki ini perih tak tertahankan, berdarah. Tak mudah ternyata melewati
jalanan berbatu, apalagi tanpa alat bantu. Tak hanya darah yang bercucuran di
kakiku, keringat di badan tak kalah saing. Terik sang raja cahaya semakin
menembus kulit tipis ini. Akhirnya aku pasrah dengan keadaan, bukan menyerah.
Karena aku masih punya keyakinan dan harapan untuk bertemu dikau yang lama tak
berjumpa. Kuselonjorkan kaki lemah ini
di atas tanah, rebah tubuh ini. Dalam hati tak hentinya kukomat-kamitkan do’a,
dalam pikiran hanya berharap pertolongan-Nya. Kubuka kertas berisi pesan dari
ustadz ‘Alim yang keempat, “disetiap perjalanan itu selalu ditemukan ujian,
tergantung tingakatannya, semakin jauh melakukan perjalanan, banyak rintangan
yang harus kau hadapi. Ketika lelah dan sakitnya perjalanan dirasa, kuatkan
dada untuk hadapi semua. Jangan lelah berdo’a pada sang Kuasa. Yakinlah ada
disaat kita mendapat keberuntungan, tak selamanya penyesalan.”
Ku hela nafas
dalam-dalam setelah menbaca pesan itu. Kupejamkan mata yang tak kuat terbuka
lebar. Tiba-tiba ada bayangan besar menutupi sengatan cahayanya sang raja
panas. Kupicingkan mata, tak jelas, setelah kulebarkan mataku, ada seorang yang
rupawan berdiri hampiri tubuh ini, ah bahkan hampiri hati ini. Tangan nan halus
tersodorkan untuk membantuku berdiri, aku raih sang tangan dan bangkitkan jiwa
raga ini. Sang rupawan membantuku untuk mengobati dan membalut luka di kaki,
kemudian memberiku berteguk-teguk minum. Segar sudah! Dia tak banyak bicara,
dan aku diam terpaku, terpesona. Terakhir, dia memberi sepasang sepatu hitam
sederhana. Setelah usai, dia melemparkan senyum manis sekali. Aku semakin
terpesona, tapi setelah aku sadari, senyum itu adalah simbol perpisahan.
Sepatu hitam itu kupakai, pas, tak kurang atau lebih.
Nyaman. Aku merasa sudah mendapat keberuntungan, harus kulanjutkan lagi
perjalanan ini untuk bertemu dikau yang lama tak berjumpa. Aku bersyukur.
The End.
Komentar