Keluh Sang Sajadah Merah
Cerpen
Keluh
Sang Sajadah Merah
Oleh
: Siti Rodliyah
Suara takbir menggema di seluruh penjuru langit, menembus awan-awan,
menjelajah jagat alam. Tak sedikit para hati
tergerak untuk melangkahkan kaki menuju ke tempat di mana ia bisa
berhadap. Dan sangat banyak hati yang tertutupi oleh sekat-sekat. Lima kali
setiap harinya takbir itu menggaung di bawah langit dan memecahkan kehiruk pikukan
dunia yang ternyata penuh nista. Sebut saja Imron, laki-laki tua yang pertama kali
membawaku ke ruangan besar, dindingnya penuh dengan ukiran kaligrafi, banyak
tiang yang berdiri kokoh, ada kubah besar tepat berada di atasku. Aku digelar
dengan seksama oleh Imron, ketika diriku sudah terbaring lurus, kutoleh
disamping kanan kiri, banyak kawan sama terbaring lurus denganku. Woow, berarti
diriku berada di tempat yang istimewa, nyatanya aku banyak menjumpai
kawan-kawan dengan berbagai warna dan corak. Pada kali pertama aku dibawa sosok
hamba Allah ke rumah ibadah yang megah itu. tak terbayangkan olehku sebelumnya.
Aku mencoba memperkenalkan diri pada kawan-kawanku yang senasib, sebenarnya aku
tak tahu namaku siapa, yang jelas aku seringkali dijuluki sang sajadah merah,
karena warnaku memang merah. Ya, merah yang menyala, dan harapan besarku adalah
siapapun yang memilikiku, kapanpun itu bisa menyalakan semangat untuk menghadap
Sang Pencipta.
Aku teringat, dulu, dulu sekali, Imron si laki-laki tua yang taat beribadah
itu memanfaatkanku dengan baik. Tidak cukup lima kali diriku digelar di atas
tanah, tapi lebih dari itu. Meskipun seringnya aku dibawa ke surau kecil dan
sangat sederhana oleh Imron, tapi kekhusyu’an doanya membuatku jauh lebih damai
dibanding aku dibawa ke tempat yang megah dan penuh ukiran seni tapi tak
kurasakan kekhusyu’an di sana.
Dulu, dulu sekali, aku senang sekali jika Imron si laki-laki tua yang taat
beribadah itu membawaku serta dalam doa, senandung Al-Qur’an, dan dzikir
malamnya. Ah, hal itu yang sangat kurindukan. Meskipun pada malam hari
seringkali diriku terbasahi oleh air mata si laki-laki tua itu. Justru hal itu
membuat sejuk diriku meski kadang kurasakan dingin yang sangat, karena
sepanjang malam diriku dibiarkan terbaring lurus. Kau memang kadang tak peduli
dengan keadaanku kala itu, karena kau sibuk sekali mengayunkan tasbih kayumu
Imron.
Aku teringat lagi, dulu, dulu sekali, kau Imron si laki-laki tua yang taat
beribadah hanya akan mencuciku jika memang bauku sudah tak sedap lagi.
Sebenarnya itu membuatku kesal, bagaimana tidak? Seharusnya aku dicuci paling
tidak sebulan sekali, biar aku bisa merefreshkan diri untuk selalu kau ajak dan
kau bawa untuk menghadap sang pencipta. Hemm, harusnya kau lebih memperhatikan
itu dulu. Ah, sekarang kekesalan itu hanya sebuah kenangan yang tak akan
terulang lagi.
Sekarang, aku hanya bisa mengingat kenangan itu, andai saja aku diciptakan
dengan kedua mata, aku akan cucurkan air mata sebanyak-banyaknya, andai saja
aku diciptakan dengan satu mulut, aku akan teriak sekeras-kerasnya, andai saja
aku diciptakan dua kaki yang mampu berjalan, aku akan lari sekencang-kencangya
untuk kembali ke masa di mana aku bersama Imron, si laki-laki tua yang taat
beribadah itu. Aku merindukan momen-momen yang seharusnya aku alami, bukan di
balik kayu balok yang pengap ini, yang hanya ada cahaya lilin untuk menyinari
ruang kecil, sesak kurasakan. Aku ingin menampakkan diri, tapi bagaimana aku
bisa tampak? Tumpukan kain di atasku setiap hari semakin banyak, dan semakin
menutupi diriku yang terlanjur
kusam. Dan hal itu semakin hari membuatku semakin berat untuk menyanggah kenyataan
ini. Terkadang aku merintih melihat keadaanku sekarang. Dulu, bicara dulu lagi,
ketika Imron si laki-laki tua yang taat beribadah itu meninggalkan aku sendiri,
keadaanku masih bagus, masih layak untuk dimanfaatkan, masih fresh dan wangi
meski hanya bau-bau itu saja. Ah, mengingat itu membuat rinduku semakin
membuncah pada suasana damainya menghadap sang pencipta dan dzikir yang dalam.
Aku tidak seperti laki-laki tua yang taat beribadah itu, yang selama nafasnya
berhembus, dia bisa melakukan ritual yang mendamaikan jiwa, pikiran dan raga
itu. Aku hanya benda mati yang menjadi saksi laki-laki tua yang taat beribadah
itu melakukan kewajibannya sebagai hamba Allah. Sebenarnya aku masih bisa
bersaksi untuk orang lain, tapi apa daya, aku terlanjur diasingkan di balik
kayu balok yang pengap ini. yang hanya ada cahaya lilin untuk menyinari ruang
kecil, sekali lagi sesak kurasakan. Kali ini tidak hanya sesak karena tempat
yang pengap, tapi sesak karena kerinduan yang dalam dan harus menerima
kenyataan yang pahit ini. sudah sekian lama aku terkurung di sini, sesekali aku
diajak dan di bawa oleh seorang laki-laki muda yang gagah dan tampan, serta
berpakaian yang bagus dan rapi ke tempat yang penuh dengan kebisingan, meski
ada sayup-sayup suara takbir. Boro-boro setiap hari lima kali aku dibawa,
hal itu tidak setiap hari, setiap minggu atau bahkan setiap bulan, tapi hanya setiap
tahun. Setiap tahun pun
aku tak selalu diajak oleh laki-laki muda itu. Ketika aku
diajak dan dibawa ke tempat yang sesak dengan manusia, entah tempat ibadah atau
tidak, aku tak bisa membedakan. Tapi aku yakin itu tempat ibadah karena aku
melihat kubah besar di atasku, aku teringat dulu, dulu sekali diajak Imron ke
tempat yang tak jauh berbeda dengan tempat yang sekarang kulihat ini. ya, meski
sekali aku diajak Imron si laki-laki tua yang taat beribadah itu ke tempat
seperti ini, aku ingat betul, kenangan itu tersimpan baik. kujumpai
kawan-kawanku lagi yang penampilannya jauh lebih menarik dariku, kusapa kawan
senasibku, kuperkenalkan diri dengan menyebutkan julukanku sang sajadah merah.
Mereka tertawa, mereka menganggapku tua dan kusam, mereka mengaggapku tak layak
di tempat seperti itu. Ah, hal itu seharusnya membuatku sedih dan malu, tapi
aku abaikan ejekan mereka terhadap diriku.
Takbir, takbir, suara takbir yang lama tak kudengar, terdengar di tempat
aku diajak oleh laki-laki muda itu. Ah, andai aku diciptakan punya satu hati,
aku pasti meluapkan perasaan bahagia dan sedihku kala itu. Tapi, tapi, suasana
doa dan dzikir kala itu, tak kurasakan damai seperti dulu ketika aku bersama
Imron si laki-laki tua yang taat beribadah, suasana doa dan dzikir itu tak
sekhusyu’ dulu aku bersama Imron. Ah, itu sama saja buatku, keluar atau tidak
keluar dari kayu balok yang pengap itu.
Tapi itu membuat diriku sedikit terhibur. Karena laki-laki muda itu kadang
memberikan aku dengan semprotan minyak yang wangi sekali, hal itu lebih baik
dari Imron si laki-laki tua yang taat beribadah itu, hanya memberiku minyak
wangi yang baunya itu-itu saja. Tapi hanya sebatas itu, tak lebih. Aku bahkan
tak mengenali siapa nama laki-laki muda yang sesekali mengajakku keluar itu. Ah,
tak lama aku di ajak laki-laki muda itu, aku dilipat lagi dan kembali ke dalam
kayu balok yang pengap itu. Sekarang, kayu balok itu menyaksikan kenyataan
pahit yang aku terima. Itu semua keluhku “sang sajadah merah” yang sudah kusam
dimakan waktu, karena tak ada yang memanfaatkan aku seperti dulu, dulu sekali.
Pukul
16:14, 17 April 2016 di Ponpes Al-Anwar 3 putri
(termenungku
di atas sajadah merah (pink) yang selalu menemani shalatku setiap waktunya,
sajadah turunan yang diberikan oleh sang nenek, ke ibu dan sekarang bersamaku).
S_R
Komentar