Review" Habis Gelap Terbitlah Terang"
REVIEW BUKU
Oleh : Siti Rodliyah ( 2013.01.01.147)
Semester : VI D
Jurusan : Ilmu Qur’an dan Tafsir
Judul : Habis Gelap Terbitlah Terang ( Door
Duisternis tot Licht )
Pengarang : R.A. Kartini
Penerbit : Narasi, Yogyakarta
Tahun terbit : 2011
Jumlah Halaman : 510
Berbicara tentang tokoh perempuan Jawa yang memiliki keinginan
kuat untuk memajukan kaumnya, yang memiliki cita-cita tinggi untuk perbaikan
kehidupan perempuan pada masanya yang terkukung dengan adat istiadat. R.A.
Kartini, adalah kiprah perempuan Indonesia yang dalam sejarah perjalanan hidupnya
telah menorehkan pemikiran-pemikiran dan perjuangan yang berpengaruh kuat terhadap
kehidupan dan kemajuan perempuan Indonesia, khususnya Jawa. Sehingga disebutlah
R.A. Kartini sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.
Buku yang berjudul Habis Gelap Terbitlah
Terang ( Door Duisternis tot Licht ) merupakan kumpulan surat-menyurat R.A.
Kartini kepada para sahabat penanya di Belanda. Surat-surat yang menceritakan
berbagai pemikiran dan gejolak hati sang R.A. Kartini, putri dari bupati Jepara
pada masanya. Surat- surat tersebut dikumpulkan dan disusun oleh Mr. J. H.
Abendanon, sang sahabat pena R.A. Kartini dengan judul Door Duisternis tot
Licht ( cetakan pertama 1911). Tidak semua surat-surat yang ditulis R.A.
Kartini tersusun dalam buku ini, terdapat 122 surat yang tersusun dalam buku
ini dan termasuk pikiran R.A. Kartini yang dikutip dari surat-surat yang tidak
diumumkan.
R.A. Kartini merupakan perempuan yang hidup
dengan keluarga yang sangat memperhatikan kemajuan. Tidak heran jika R.A.
Kartini disekolahkan di Europe Lagere School(ELS) hingga Kartini berusia
12 tahun. Setelah itu, dia tidak bisa lagi melanjutkan sekolah. Karena ia harus
dipingit menurut kebiasaan adat istiadat di tempat tinggalnya, Jepara. Dengan
berbagai pengalamannya, R.A. Kartini yang dasarnya cerdas dan kritis, ketika
Eropa masuk ke Indonesia dan berbagai pemikiran Eropa tertancap dalam benak
Kartini, hal itu membuat Kartini bercita-cita tinggi untuk perubahan keadaan
negerinya, dan menuangkan cita-citanya untuk berjuang mencerdaskan kehidupan
bangsanya terutama kaum perempuan yang ia rasakan pada saat itu terbelakang.
Salah satu upaya Kartini untuk mewujudkan cita-citanya tersebut adalah melalui
pendidikan. Suara-suara hati beliau yang tertuang dalam tulisan menjadi saksi
bahwa Kartini pada saat itu berjuang melawan kekolotan, kebodohan, penindasan,
keserakahan tanpa harus menyebutnya sebagai “pahlawan”.
Hal yang menarik dalam buku ini adalah, ketika
pembaca membaca tulisan surat Kartini kepada para sahabat penanya, tergambar
jelas segala pemikiran dan pengalaman hidup sang penulis, R.A. Kartini.
Meskipun bahasa Indonesia yang digunakan campuran bahasa melayu, menurut saya
tidak menjadi suatu kendala untuk mudah memahami tulisannya. Terdapat 122 surat
yang tersusun dan di urutkan berdasarkan tanggal dan tahun penulisan, hingga surat
terakhir R.A. Kartini yang ditulis sebelum wafat. Surat pertama Kartini dalam
buku ini yaitu tepat pada tanggal 25 Mei 1899 kepada Nona E.H. Zeehandelaar di
Jepara. Sementara surat tarakhir dalam buku ini ditulis di Rembang, pada
tanggal 7 September 1904 kepada Nyonya R.M. Abendanon-Mandri.
Surat R.A.Kartini pertama dalam buku ini
menggambarkan bagaimana gejolak hatinya yang diceritakan kepada “gadis modern”
Nona E.H. Zeehandelaar. Di situ Kartini sangat antusias untuk menceritakan kegundahan hatinya
menjadi gadis yang terkukung dengan adat istiadat yang dia sendiri sangat tidak
nyaman akan hal itu. Kartini lebih tertarik dengan kehidupan “gadis modern”
Eropa yang berani, dapat berdiri sendiri, menempuh jalan hidupnya dengan
langkah cepat, tegap, riang, dan gembira, penuh semangat, dan keasyikan. Gadis
Eropa yang selalu bekerja tidak hanya kepentingan dan kebahagiaan dirinya
sendiri, tetapi berjuang untuk masyarakat luas, bekerja demi kebahagiaan
sesama. Faktor utama yang mendorong perjuangan R.A. Kartini yaitu lingkungan Jawa. Hal ini tergambarkan
melalui surat Kartini yang menyatakan bahwa tradisi masyarakat Jawalah yang
mengkungkung wanita. Beliau sangat tidak setuju dengan adat istiadat Jawa.
Anak-anak gadis terantai pada adat istiadat lama, hanya boleh mendapatkan
sedikit kemajuan di bidang pendidikan. Adat di negeri ini pada saat itu
melarang keras para anak gadis pergi keluar rumah. Apalagi sampai pergi ke
tempat lain, tidak boleh. Maka dari itu, muncul dari dalam diri Kartini
keinginan yang makin kuat, yaitu keinginan akan kebebasan, kemerdekaan, dan berdiri
sendiri. Hal itu tidak mudah bagi Kartini yang notabenenya beliau dari keluarga
bangsawan yang menjunjung tinggi adat istiadat Jawa. Kartini harus berjuang
meski merelakan dan mematahkan hati keluarga. Sejak saat itulah kata
“emansipasi” tertanam pada pikiran Kartini dan diperjuangkan.[1]
Kartini berpikiran bahwa perempuan berhak
mendapat pendidikan, dan pendidikan rakyat juga harus dimulai dari perempuan,
karena pandangan Kartini perempuan memiliki peran penting dalam suatu kehidupan
masyarakat. Di dalam catatan Kartini kepada pemerintah yang diajukan pada
tanggal 19 April 1903 menyebutkan bahwa ibu-ibu Jawa mendidik anak-anaknya dan
itu adalah kunci rahasia yang kami hadapi. Tempat yang lebih menyenangkan,
lebih hangat dan lebih aman bagi anak tidak ada kecuali di dada ibu. Disitulah
justru pada sumber kehidupan harus dijaga benar-benar, agar anak dengan minum
air susu kehidupan itu tidak pula minum kebusukan untuk budi pekertinya.
Sesungguhnya pendidikan anak sudah harus dimulai pada hari pertama ia dilahirkan?
Kalau seperti itu, bagaimana dengan perempuan Jawa yang harusnya mendidik anak
yang kelak jadi generasi bangsa, bahkan tidak diberi kesempatan untuk
mendapatkan pendidikan sendiri?[2]
Berikut suara Kartini kepada Pemerintah
terkait pendidikan perempuan Indonesia. “Aduhai, betapa terharunya kami
mendengar kabar gembira jika di kalangan tertinggi pemerintah menaruh perhatian
kepada masalah “pengajaran untuk anak-anak perempuan Bumiputra”! semuanya
bersorak sorai dalam diri kami. Hati meluap-luap karena rasa bahagia dan
syukur! Jadi bukanlah karena kami sinting, bahwa kami bertahun-tahun
menngandung cita-cita dalam diri kami dan telah banyak benar berjuang untuk
itu? Seorang pegawai pemerintah yang cakap dan berkedudukan tinggi suaranya
akan banyak didengar orang menyatakan cita-cita yang sama. Berusaha mewujudkan
“perempuan sebagai pendukung peradaban, juga di tanah matahari!”. Perempuan
jawa harus dididik, harus diberi pelajaran, harus turut serta dalam pekerjaan
raksasa, “pendidikan bangsa yang berjuta-juta!”[3]
Bagian terakhir dari buku ini menyebutkan
sekilas tentang 7 biografi sahabat pena Kartini, yaitu Mr. J.H. Abendon dan
Nyonya R.M. Abendon-Mandri, Nona Stella Zeehandelaar, Ir. H.H. van Kol dan
Nyonya J.M.P. van Kol-Porrey, Nyonya M.C.E.Ovink-Soer, Dr. N. Adriani, Nyonya
H.G. de Booy-Boissevain, dan prof. Dr. G.K. Anton. Selain biografi, juga
tertulis cerita singkat mereka bagaimana bisa mengenal sosok Kartini sampai
bisa berkorespondensi dengan kawan-kawan yang ada di Belanda. Dengan membaca
buku ini akan memperluas pikiran kita tentang kemajuan kehidupan perempuan
Indonesia, khususnya Jawa. Buku ini erat kaitannya dengan tuntutan kesetaraan
gender yang sering dijadikan topik pembahasan sebagian orang yang merasa
ketidak adanya keadilan peran gender dalam kehidupan. Sering kita jumpai pembahasan
terkait masalah gender, khususnya pihak feminisme. Memang tidak secara langsung
buku ini mengatakan akan tuntutan kesetaraan gender, akan tetapi yang saya
temukan tepatnya adalah kata “emansipasi”. Hal ini bisa dilihat di surat
Kartini kepada Prof.Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902 yang tertera di belakang
sampul buku ini.
Komentar