Perjalanan Sang Pena dan Si Kertas

Perjalanan Sang Pena dan Si Kertas
Oleh : Siti Rodliyah
Rasa penat, itu yang dirasakan Sang Pena ketika tak ada yang mau mengajaknya berbicara. Diam di tempat, itu yang dilakukan Sang Pena ketika tak ada yang mau mengajaknya sekedar jalan-jalan. Tapi keadaan itu berubah ketika Sang Pena bertemu dan bercengkerama dengan Si Kertas. Sosok sahabat yang bisa memahami keadaan Sang Pena, begitupun dengan Sang Pena. Mereka adalah dua sahabat yang saling mengerti dan melengkapi. Bahkan, banyak orang yang mengatakan mereka berdua adalah sejoli. Tak jarang keduanya terlihat mesra, jalan bersama sambil bergandengan tangan, karena khawatir salah satu dari mereka akan terjatuh. Pernah suatu kali Sang Pena tak sengaja melukai Si Kertas, tapi Si Kertas selalu bilang ‘tak apa’, karena luka itu bisa dihapus dengan penghapus ‘maaf’.
Dini hari ini, Si Kertas sengaja membangunkan Sang Pena lebih awal, Si Kertas ingin mengajak Sang Pena untuk pergi jalan-jalan. Tapi dasar Sang Pena, rasa kantuk yang bergelayut di pelupuk mata membuatnya malas seribu malas untuk bangkit dari alam kasur. Tapi Si Kertas tak menyerah utuk membangunkan Sang Pena. Butuh bermenit-menit untuk bisa membuat Sang Pena membuka matanya lebar-lebar. Setelah dandan dengan rapi, keduanya siap berangkat berpetualang.
Si Kertas sengaja mengajak Sang Pena berjalan kaki untuk menyusuri jalanan, lebih seru dan ngitung-ngitung sambil olahraga biar peredaran darah lancar, selancar hubungan persahabatan mereka. Tapi dasar Sang Pena tukang mengeluh, setiap kali berjalan mengeluh kaki pegal, persendian kumat, atau parahnya lagi bentar-bentar lapar. Si Kertas tak bisa memaksa sahabatnya itu, ketika menyusuri jalanan kota mereka berdua melihat warung makan, Sang Pena yang sudah nahan perut keroncongan segera menggerakkan kakinya dengan cepat menuju warung makan tersebut.
 Di tengah-tengah santapan mereka, tiba-tiba ada anak kecil mengamen di samping mereka. Suara tak merdu sengaja dikeluarkan oleh anak laki-laki kurus itu. suara gronjengan tutup botol minuman juga membuat suasana semakin bising. Si Kertas berpikir hal itu  pemandangan yang biasa di kota. Si Kertas sangat menyayangkan kejadian tersebut. Setelah anak laki-laki kurus itu selesai berdendang, tidak kemudian meminta uang pada Sang Pena dan Si Kertas, malah anak itu meminta Sang Pena dan Si Kertas untuk menuliskan surat. Sang Pena dan Si Kertas bingung dengan permintaan anak tersebut, tapi tak berpikir panjang Si Kertas langsung mengiyakan permintaannya. Si Kertas meminta Sang Pena untuk menuliskan apa yang dikatakan anak tersebut, dengan senang hati Sang Pena melakukannya.
Dear bapak bangsa,
Kami anak bangsa yang terlantar,  tak tahu arah jalan tempat belajar. Para orang tua membiarkan kami hidup tanpa arah, entah keinginan mereka atau yang lainnya. Kami ingin menghirup udara yang segar, tapi sesak dada yang kami dapatkan setiap harinya. Kami ingin pena dan kertas tanpa biaya untuk bisa baca tulis, tapi hanya tutup-tutup botol yang bisa kami dapatkan tanpa halangan. Kami anak bangsa yang sedikit mendapat perhatian dari kalian.
By: Anak bangsa 
Sang Pena hanya bisa menelan ludah setelah menuliskan apa yang dikatakan anak laki-laki itu. Si Kertas mencoba untuk tidak goyah karena rasa harunya. Kemudian Sang Pena segera melipat surat itu dan menyerahkannya kepada anak laki-laki itu, tidak lantas diterima, malah anak tersebut menyuruh Sang Pena dan Si Kertas untuk mengirimkannya kepada bapak bangsa. Sang Pena dan Si Kertas seketika bingung dengan permintaan tersebut, Sang Pena dan Si Kertas saling melirik. Setelah berpikir panjang, Si Kertas mengiyakan permintaan tersebut. Tanpa ba bi bu, anak laki-laki tersebut meninggalkan keduanya dalam keadaan bimbang dan ragu. Akhirnya Sang Pena dan Si Kertas saling menatap, Sang Pena menatap penuh dengan kebimbangan, sedangkan Si Kertas penuh dengan keyakinan. “Apa yang kau pikirkan Kertas tentang surat dari anak bangsa yang terlantar?”, tanya Sang Pena. “Aku hanya ingin melayangkan surat ini pada  siapa yang dituju anak bangsa yang terlantar bersama angin yang berhembus”, jawab Si Kertas. Sang Pena hanya bisa menghela nafas, dia bisa mengerti maksud sahabatnya Si Kertas.
Setelah semua prosesi makan di warung usai, Sang Pena dengan berat hati melangkah keluar bersama Si Kertas. “Kamu yakin dengan keputusanmu, Sahabatku?”. “Tak perlu mengkhawatirkan aku Pena, aku bisa menjaga diri. Aku akan terbang menuju ke tempat yang harus kutuju”, Jawab Si Kertas mantap. Hati Sang Pena seperti ada yang menyayat perlahan, terasa sangat sakit. Tapi dia harus rela membiarkan sahabatnya pergi, demi kebaikan anak bangsa yang terlantar. Perpisahan memang sangat menyakitkan. “Tak perlu terlalu bersedih hati sahabatku, perpisahan ini bukan akhir dari perjalanan kita, justru bisa jadi ini awal dari skenario hidup baru. Carilah hal baru yang bisa membuatmu bangkit dari keterpurukan, carilah hal baru yang bisa membangun impianmu, carilah hal baru yang bermanfaat untuk kehidupanmu”. Kata Si Kertas pada Sang Pena untuk menenangkan sahabatnya yang bersedih hati itu. Keduanya berpelukan, Sang Pena tak bisa menahan air mata untuk jatuh. Si Kertas mencoba untuk tegar. Setelah prosesi perpisahan, Si Kertas dengan mantap melanjutkan perjalanannya bersama angin. Dan Sang Pena sendiri melepas kepergian sahabatnya, Si Kertas.

(Kamis, 13 Okt. 16)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menemukan Teman dan Klub Baca Buku

Agustusan Tidak Sekedar Lomba

Cita-Cita Tak Pernah Mempersoalkan Usia