Santri Berkarya Di Rumah Aja
Santri berkarya di rumah aja, kenapa tidak?
Opini oleh Siti Rodliyah, S.Ag
Kerja atau belajar di rumah aja di tengah pandemi ini adalah pengalaman pertama banyak orang. Kurang lebih satu bulan sudah masa ini terlalui. Dan hampir banyak orang mengharapkan pandemi ini segera berakhir dan mulai melakukan aktivitas seperti biasa. Meski tak dipungkiri, sebagian kita beraktivitas di rumah aja juga hal yang menyenangkan. Apalagi para santri yang biasanya senang libur di rumah atau pulang, he.Saya tidak akan panjang bicara tentang 'masa pandemi Corona', namun ada kaitannya. Karena saya juga mengalami masa kerja dan belajar di rumah aja saat ini.
Saya ingin cerita pengalaman saya sebagai salah satu santri pondok al Anwar 3 putri. Biasanya kalau di rumah aja dan sudah ada aktivitas terjadwal jam kerja dan belajar online, mungkin saya bisa konsisten membuka-buka bacaan yang ada kaitannya dengan kerja, atau mungkin yang mahasiswa tentang materi kuliahnya. Namun biasanya kalau tidak ada agenda resmi yang terjadwal, sebagian orang sangat sulit membuat jadwal aktivitas sendiri. Kalau sudah di rumah ya bawaannya waktu campur aja antara aktivitas rumahan, kerja atau kuliah dan seringnya rebahan, haha.
Namun di satu hari saya mendapat tugas untuk membuka-buka lagi kitab Nahwu yang jarang tersentuh di tas saya. Entah, sengaja saya bawa pulang dan ada niatan untuk dibuka-buka dan dipelajari. Namun kenyataannya sering lupa karena keasyikan hal yang lain. Seringnya seperti itu.
Namun tugas itu perlu saya garap sesuai target waktunya. Dan saat saya membuka-buka kitab Nahwu Mutammimah, saya menemukan berlembar-lembar karya dari para santri Al Anwar 3 putri kelas 3 MHD. Lebih tepatnya kelas 3 D tahun ini.
Lembaran-lembaran putih itu masih rapi di antara lembaran kuning kitab Nahwu Mutammimah al-Jurumiyah atau Syarah Fawaakih al-Janiyyah. Saya tergerak untuk membaca karya-karya tulis santri putri kelas 3 D MHD itu. Saya ingat, dulu saat masih aktif pengajian muhadloroh di pondok, saya yang berkesampatan belajar Nahwu bersama mbak-mbak memberi tantangan pada mereka untuk membuat karya tulis bebas dengan topik Idlofah ( yang waktu itu kita membahas bab Idlofah ).
Saya menantang mereka untuk menuangkan pemahaman mereka tentang fasal _Idlofah_ ke dalam berbagai genre karya tulis yang mereka minati. Dan alhasil, tantangan itu mereka buktikan dan membuat saya tersenyum kagum pada kreativitas masing-masing orang.
Saya ingin menuliskan kembali salah satu karya tulis bertopik ilmu nahwu _Idlofah_ yang dikemas genre sastra.
*Engkaunya Kami*
*Karya Milkhatin Syirfa dan Shifatul Khasanah*
Gentar memang, terasa sekali mengingat perihal engkau
Selalu tentangmu
Sebagaimana mudlof yang membutuhkan mudlof ilaih dalam susunan idlofah
Sebab nyatanya kehidupan ini selalu perihal memaknai, tentang pemaknaan atas satu hal yang berisi penjelasan seisi dunia.
Jika dalam Idlofah, ia mempunyai tiga maksud seperti mengira-ngirakan makna في من ل... Namun engkau bermakna segalanya bagiku
Sejauh ini, kyai...
Berbagai macam seperti macamnya Idlofah lafdziyah dan maknawiyah
Sepertinya, telah tamat aku lakukan, tapi tetap sajalah
Tahu kan, itu bukan sesuatu hal yang mudah?
Sarang, 24 Maret 2020
Masih banyak macam karya mereka yang dikemas melalui beberapa genre karya tulis, ada yang jenis cerpen seperti karya yang berjudul 'Legenda Idlofah' karya Aldilla Maulida dan Anif Musyafa'ah, cerpen berjudul 'Mbak Mudlof' karya Ayuni dan Nofi, puisi yang berjudul 'Ketika Aku Serupa Idlofah' karya Anis Puji Lestari dan Nur Fitiyani, esai yang berjudul 'Corona Vs Idlofah' karya Lana NM dan Lilik M. Dan beberapa karya tulis semacam ilmiah yang memang menjelaskan atau murod dari fasal _Idlofah_.
Dari situ saya belajar. Bahwa kita bisa menuangkan pengetahuan atau pemahaman kita tentang apapun itu ke dalam sebuah karya yang kita minati atau menjadi kecondongan diri.
Masing-masing orang punya kecerdasan dan minat masing-masing. Di rumah aja bukan berarti kita terus pasif dan tidak produktif. Justru di rumahlah kita bisa bebas dan mandiri menentukan cara kita untuk mencapai target-target dan mengekspresikan diri.
Saya ingin menyuplik kata-kata Baba Ghofur, 'Modal seorang santri adalah bangga dengan dirinya sendiri, tanpa mengurangi rasa hormat kepada orang lain.'
Kalau boleh saya maknai secara luas, seorang santri juga penting percaya diri untuk berkarya dan menebarkan manfaat dengan modal pengetahuan dan adab yang telah dipelajari dan ditempa di pondok pesantren.
Semangat belajar dan berkarya. Santri berkarya santri berkiprah meski di rumah aja.
Sekian tulisan opini saya, semoga bermanfaat bagi pembaca.
#Al Anwar3LawanCorona
#SekolahLawanCorona
#UmurPanjangPerjuangan
#MerdekaBelajar
#MarhabanYaRamadhan
Komentar