Tentang Rasa Dalam Balutan Puisi
_Fall in Love_
Awalnya hampa...
Tak kunjung merasakan cinta
Merasa kian semakin dewasa
Dan hampa semakin menggema
Di ruang dada...
Waktu semakin menjawab
Bahwa saat ini cintaku untuk anak-anak
Aku jatuh cinta dengan anak-anak
Ke sekian kalinya...
Waktu semakin menjawab
Bahwa hatiku juga mencari cinta
Benar-benar cinta
Untuk sang pencipta... ???
Atau makhluk yang tercipta... ???
I Believe in me...
Sarang, 4 September 2019
_Waktu Berlalu, Kehidupan Bergerak_
Satu bulan telah berlalu... datanglah bulan baru
1440 H pergi... 1441 H datang menghampiri
Tempat kembaliku masih sama
Tempat aktivitasku tak berubah
( Pondok dan sekolah)
Kawan-kawanku bertambah
Anak-anak di sekitarku juga kian berbeda
Sesekali masih tandang ke rumah
Untuk memastikan bapak dan kakak bisa tertawa
Kakiku semakin banyak langkah
Dan pengalaman terus terangkai di kepala
Terus berusaha menjalani hidup yang bermakna
Meski sering juga membuang waktu sia-sia
Aku hanya ingin terus bersyukur dalam balutan nikmat yang indah
Sarang, September 2019
_Tulus_
Aku mencoba mencurahkan segala hal yang ada dalam benak
Waktu kian memihakku
Dan peluang kian mendekatiku
Aku belajar percaya diri
Aku berlatih untuk berani
Dan saat itu tiba
Pujian tertuju padaku
Semakin kutantang diriku
Untuk mencoba hal yang baru
Tanganku serasa terampil mengikuti gerak otak dan hatiku
Hingga menorehka tinta menjadi rangkaian kata-kata
Sejenak aku ragu
Untuk keluar dari kandangku
Namun, rasanya sudah tak berlaku
Mendengar dukungan dari kawan jauhku
Satu sentilan jari saja
Terkuak rangkaian kataku di mata pembaca
Tak banyak memang...
Tapi entah kenapa ada rasa lega ( atau bangga?)
Ya, aku cukup berani
Namun sebenarnya kepercayaan diriku masih di ambang pintu
Beberapakali hanya maju terus mundur
Namun, orang yang berarti bagi kami terus meneriakiku
Kau harus maju.. meski jatuh
Biarpun jatuh, kau harus bangkit untuk kembali maju
Ya Allah...
Rasanya ngilu jikq aku hanya meratap dalam keraguan
Seteguk air hilangkan dahagaku
Serangkai kalimat ciptakan keberanianku
Aku kuatkan hati dan kaki
Sekecil usahaku, cukup membendung keraguan
Saat berpasang-pasang mata kian menyaksikan keberanianku
Tak sedikit mata yang justru serasa mencibirku
Pikiran dan perasaan gelap merayap masuk
Menggelitikku dengan prasangka
Hingga muncul bayangan yang siap menyorakiku
'Kau siapa?'
'Kau pikir kau sudah pandai?'
'Karyamu biasa saja'
'Kau tak hebat seperti yang kau kira'
'Banyak orang yang lebih hebat dari kau'
Jangan berbangga diri dulu kawan..
Kau satu titik daei sekian garis dan bidang yang ada...
Sumpah...
Aku hampir dibuat menangis kerenanya
Rasanya pipiku sakit bak tertampar
Mata-mata itu membuat sesak tertahan
Mencekat dalam tenggorokan
Aku mencoba kuat dalam bayangan
Namun lemah seketika..
Sekejap aku kuasai diri.. dan tak ingin terpuruk ke sekian kali
Yang membuatku gemetar...
Mata-mata itu terlalu dekat denganku
Ku telisik dalam kenangan
Aku merasakan tulus dalam pandangan mata... Aku maupun mereka..
Satu yang benar-benar kurasakan ketulusannya...
Sosok yang berarti dan mengerti
Dalam penjelajahan imajinasiku semalam...
Satu rasa yang kutemukan dan sering terabai..
Padahal rasa itu sangat penting untuk lanjutkan mimpi
Tulus.. dalam kata dan tingkah..
Yang akan tersirat dalam pandangan mata..
_Ternyata Ingin diAkui_
Cuaca terik dan sejuk silih berganti
Entah apa yang terjadi
Di luar dinding ini...
Dan di dalam hati sanubari
Hari ini sudah kuduga akan panjang
Bercengkerama dengan mata-mata
Yang menantang ego
Aku sadar berada di area nyaman
Namun terjebak dalam situasi genting
Aku sensitif sekali mengambil rasa saat berhadapan dengan orang yang membuatku tak berdaya
Inginku beberapakali harus tertahan dengan lontaran alasan-alasan logis
Dan itu buatku terdiam dan mengumpat diri
Dan aku tak pandai menyembunyikan tekanan hati..
Sebenarnya ada satu hal yang membuatku semakin menyedihkan...
Orang-orang peka dengan keadaanku
Dan aku menyadari itu...
Menghadapi hal yang terdekat jauh lebih sulit..
Hatiku krisis lagi...
Entah karena sesuatu yang menyakiti
Atau lagi-lagi cemburu hati
Atau tak bisa mengontrol diri
Karena ego yang tinggi
Dan ingin diakui
Uhh... Benar-benar menguras energi
Dan merusak suasana hati
Harusnya bisa bersembunyi di balik diri
Tapi mata-mata kian menderaku
Dengan tatapan yang menggelikan egoku
Please... jangan ikuti lagi
Emosi yang terprovokasi ini..
Cukup kau mengerti dan mencoba perbaiki
Tak ingin diakui lagi
Tapi cukup eksis diri
Dan hadapi apa yang di depan saat ini
Sarang, 23 Maret 2020
Awalnya hampa...
Tak kunjung merasakan cinta
Merasa kian semakin dewasa
Dan hampa semakin menggema
Di ruang dada...
Waktu semakin menjawab
Bahwa saat ini cintaku untuk anak-anak
Aku jatuh cinta dengan anak-anak
Ke sekian kalinya...
Waktu semakin menjawab
Bahwa hatiku juga mencari cinta
Benar-benar cinta
Untuk sang pencipta... ???
Atau makhluk yang tercipta... ???
I Believe in me...
Sarang, 4 September 2019
_Waktu Berlalu, Kehidupan Bergerak_
Satu bulan telah berlalu... datanglah bulan baru
1440 H pergi... 1441 H datang menghampiri
Tempat kembaliku masih sama
Tempat aktivitasku tak berubah
( Pondok dan sekolah)
Kawan-kawanku bertambah
Anak-anak di sekitarku juga kian berbeda
Sesekali masih tandang ke rumah
Untuk memastikan bapak dan kakak bisa tertawa
Kakiku semakin banyak langkah
Dan pengalaman terus terangkai di kepala
Terus berusaha menjalani hidup yang bermakna
Meski sering juga membuang waktu sia-sia
Aku hanya ingin terus bersyukur dalam balutan nikmat yang indah
Sarang, September 2019
_Tulus_
Aku mencoba mencurahkan segala hal yang ada dalam benak
Waktu kian memihakku
Dan peluang kian mendekatiku
Aku belajar percaya diri
Aku berlatih untuk berani
Dan saat itu tiba
Pujian tertuju padaku
Semakin kutantang diriku
Untuk mencoba hal yang baru
Tanganku serasa terampil mengikuti gerak otak dan hatiku
Hingga menorehka tinta menjadi rangkaian kata-kata
Sejenak aku ragu
Untuk keluar dari kandangku
Namun, rasanya sudah tak berlaku
Mendengar dukungan dari kawan jauhku
Satu sentilan jari saja
Terkuak rangkaian kataku di mata pembaca
Tak banyak memang...
Tapi entah kenapa ada rasa lega ( atau bangga?)
Ya, aku cukup berani
Namun sebenarnya kepercayaan diriku masih di ambang pintu
Beberapakali hanya maju terus mundur
Namun, orang yang berarti bagi kami terus meneriakiku
Kau harus maju.. meski jatuh
Biarpun jatuh, kau harus bangkit untuk kembali maju
Ya Allah...
Rasanya ngilu jikq aku hanya meratap dalam keraguan
Seteguk air hilangkan dahagaku
Serangkai kalimat ciptakan keberanianku
Aku kuatkan hati dan kaki
Sekecil usahaku, cukup membendung keraguan
Saat berpasang-pasang mata kian menyaksikan keberanianku
Tak sedikit mata yang justru serasa mencibirku
Pikiran dan perasaan gelap merayap masuk
Menggelitikku dengan prasangka
Hingga muncul bayangan yang siap menyorakiku
'Kau siapa?'
'Kau pikir kau sudah pandai?'
'Karyamu biasa saja'
'Kau tak hebat seperti yang kau kira'
'Banyak orang yang lebih hebat dari kau'
Jangan berbangga diri dulu kawan..
Kau satu titik daei sekian garis dan bidang yang ada...
Sumpah...
Aku hampir dibuat menangis kerenanya
Rasanya pipiku sakit bak tertampar
Mata-mata itu membuat sesak tertahan
Mencekat dalam tenggorokan
Aku mencoba kuat dalam bayangan
Namun lemah seketika..
Sekejap aku kuasai diri.. dan tak ingin terpuruk ke sekian kali
Yang membuatku gemetar...
Mata-mata itu terlalu dekat denganku
Ku telisik dalam kenangan
Aku merasakan tulus dalam pandangan mata... Aku maupun mereka..
Satu yang benar-benar kurasakan ketulusannya...
Sosok yang berarti dan mengerti
Dalam penjelajahan imajinasiku semalam...
Satu rasa yang kutemukan dan sering terabai..
Padahal rasa itu sangat penting untuk lanjutkan mimpi
Tulus.. dalam kata dan tingkah..
Yang akan tersirat dalam pandangan mata..
_Ternyata Ingin diAkui_
Cuaca terik dan sejuk silih berganti
Entah apa yang terjadi
Di luar dinding ini...
Dan di dalam hati sanubari
Hari ini sudah kuduga akan panjang
Bercengkerama dengan mata-mata
Yang menantang ego
Aku sadar berada di area nyaman
Namun terjebak dalam situasi genting
Aku sensitif sekali mengambil rasa saat berhadapan dengan orang yang membuatku tak berdaya
Inginku beberapakali harus tertahan dengan lontaran alasan-alasan logis
Dan itu buatku terdiam dan mengumpat diri
Dan aku tak pandai menyembunyikan tekanan hati..
Sebenarnya ada satu hal yang membuatku semakin menyedihkan...
Orang-orang peka dengan keadaanku
Dan aku menyadari itu...
Menghadapi hal yang terdekat jauh lebih sulit..
Hatiku krisis lagi...
Entah karena sesuatu yang menyakiti
Atau lagi-lagi cemburu hati
Atau tak bisa mengontrol diri
Karena ego yang tinggi
Dan ingin diakui
Uhh... Benar-benar menguras energi
Dan merusak suasana hati
Harusnya bisa bersembunyi di balik diri
Tapi mata-mata kian menderaku
Dengan tatapan yang menggelikan egoku
Please... jangan ikuti lagi
Emosi yang terprovokasi ini..
Cukup kau mengerti dan mencoba perbaiki
Tak ingin diakui lagi
Tapi cukup eksis diri
Dan hadapi apa yang di depan saat ini
Sarang, 23 Maret 2020
Komentar